Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Inspiratif Cahaya: Shalat Selamatkan Ira dari Modus Scam Paket

Kompas.com, 5 Januari 2026, 12:51 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Libur Natal dan Tahun Baru 2026 hampir berubah menjadi petaka bagi Ira (45). Pegawai swasta yang bekerja di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, itu nyaris menjadi korban penipuan belanja online bermodus paket gagal kirim.

Namun, Ira selamat. Bukan karena teknologi keamanan digital yang rumit, melainkan karena satu keputusan sederhana yang berakar pada iman untuk menunda urusan dunia demi menunaikan shalat.

Peristiwa itu bermula ketika Ira memesan sabun dari sebuah toko daring dengan nilai transaksi Rp 110.800.

Beberapa hari kemudian, pesan WhatsApp masuk dari akun yang mengatasnamakan admin perusahaan jasa pengiriman.

Pesan itu menyebutkan paket Ira gagal dikirim dan dana akan dikembalikan, disertai tautan untuk “melanjutkan proses”.

Awalnya, Ira mengabaikan pesan tersebut. Namun, panggilan telepon menyusul dari nomor yang sama.

Logo akun WhatsApp yang menyerupai kurir resmi membuatnya sempat lengah. Dalam percakapan, penelepon menjelaskan bahwa dana pembelian, termasuk promo ongkir dan diskon instan, akan dikembalikan sepenuhnya. Anehnya, Ira diminta menghitung sendiri jumlah pengembalian dana.

“Kesannya sangat membantu, seolah-olah tidak mau saya rugi,” kata Ira kepada Kompas.com, Minggu (5/1/2026).

Kecurigaan Ira kian tumbuh ketika penelepon mengetahui detail personalnya, mulai dari nomor ponsel, bank yang digunakan, hingga jenis promo saat berbelanja. Informasi yang semestinya hanya tersimpan dalam sistem marketplace.

Baca juga: Shalat Dua Rakaat Sebelum Subuh: Hikmah dan Keutamaannya

Jeda Maghrib yang Menyelamatkan

Puncak keganjilan terjadi saat admin palsu itu menyebut akan mengirimkan tautan pengembalian dana yang harus dipindai.

Dalam kondisi lelah sepulang kerja, Ira merasakan kegamangan. Pada saat itulah waktu Maghrib tiba.

Ira lalu mengatakan ingin menunda proses tersebut karena waktu Maghrib dan berniat berdiskusi lebih dulu dengan suaminya. Respons dari si penelepon justru membuatnya semakin waspada.

“Dia bilang masa berlaku scan-nya tidak lama dan minta saya cepat-cepat. Dari situ saya merasa makin tidak aman,” ujar Ira.

Setelah menutup panggilan, Ira menyadari betapa dekatnya ia dengan bahaya. Ia meyakini bahwa keputusan menunda dan memilih shalat telah memberinya ruang berpikir yang jernih.

Dalam tradisi Islam, shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan juga sarana tuma’ninah ketenangan batin yang menahan manusia dari sikap tergesa-gesa.

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak larut dalam ketergesa-gesaan, karena tergesa-gesa kerap membuka pintu mudarat.

Ketika Lelah Menjadi Celah

Pengalaman Ira selaras dengan banyak kasus serupa. Asmara Abigail, artis nasional, pernah mengaku kehilangan hingga Rp 70 juta akibat praktik phishing berkedok layanan pengiriman. Dalam pengakuannya, kelelahan fisik dan tekanan aktivitas membuat kewaspadaannya runtuh.

“Biasanya kalau ada yang ngirim link, entah itu di SMS, WhatsApp atau ada nomor enggak dikenal atau ditelepon kita suka dapat email enggak jelas gitu, aku enggak pernah klik. Tapi mungkin karena aku benar-benar capek, jadilah aku ketipu, situasinya tuh benar-benar buat aku horor banget,” ceritanya dalam podcast RJL-5 Fajar Aditya, dikutip pada Minggu (7/9/2025).

Fenomena ini menunjukkan bahwa kejahatan digital tidak hanya menyerang sistem, tetapi juga kondisi psikologis manusia. Saat lelah, tergesa, dan jauh dari kesadaran diri, seseorang lebih mudah diperdaya.

Data Indonesia Domain Abuse Data Exchange (IDADX) mencatat lebih dari 100.000 kasus phishing dalam lima tahun terakhir. Lonjakan signifikan terjadi pada 2024, menandakan bahwa ancaman ini semakin serius.

Baca juga: Waktu Dzuhur di Hari Jumat: Panduan Shalat Dzuhur bagi yang Tidak Wajib Jumatan

Iman, Literasi, dan Kehati-hatian

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa literasi digital dan keuangan harus berjalan seiring dengan kesadaran personal.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan pentingnya kewaspadaan di tengah kecanggihan pelaku kejahatan digital.

Namun, kisah Ira menghadirkan lapisan makna lain, bahwa iman dan kebiasaan ibadah dapat menjadi benteng pertama.

Dalam Islam, menunda urusan dunia demi memenuhi panggilan shalat bukanlah kerugian, melainkan perlindungan.

Ira berharap pengalamannya menjadi pengingat bagi banyak orang.

“Kalau ada telepon soal paket tidak sampai, apalagi diburu-buru, lebih baik dihentikan saja. Jangan klik atau scan apa pun,” katanya.

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, kisah ini menjadi penanda bahwa jeda kecil untuk mengingat Tuhan bisa menjadi penyelamat besar.

Shalat dalam ketenangannya, memberi ruang bagi akal untuk kembali memimpin, sebelum penyesalan datang terlambat.

Baca juga: Shalat Jamak dan Qashar: Pengertian, Syarat, dan Tata Caranya

Cara Terhindar dari Scam Paket

Ahli IT dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Taufiqur Rohman, memberikan langkah paling mendasar untuk menghindari penipuan kurir paket, diantaranya:

1. Tidak mengklik tautan apa pun yang dikirim 

 Masyarakat sebaiknya selalu menggunakan aplikasi resmi kurir atau langsung mengakses situs web resmi perusahaan pengiriman.

Pelaku penipuan semakin mahir meniru tampilan situs organisasi tepercaya. Karena itu, kehati-hatian menjadi mutlak, terutama ketika menerima pesan yang bernada mendesak.

2. Memeriksa nomor pelacakan secara mandiri melalui aplikasi atau situs resmi

Jika nomor tersebut tidak terdaftar, besar kemungkinan pesan yang diterima merupakan bagian dari penipuan.

3. Masyarakat juga diminta mencermati alamat situs atau URL

Keberadaan sertifikat SSL tidak otomatis menjamin keaslian sebuah situs, karena sertifikat tersebut dapat diperoleh secara gratis dengan verifikasi minimal.

4. “3C” Cek, Curiga, dan Cancel

J&T Express juga rutin mengimbau pelanggannya agar waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan perusahaan. Melalui kampanye edukasi tersebut perusahaan logistik ini mendorong masyarakat untuk segera menghentikan proses jika menemukan kejanggalan.

“Kalau sudah mencurigakan, sudah aneh-aneh, cancel saja. Tidak usah ditindaklanjuti atau langsung laporkan,” ujar Brand Manager J&T Express, Herline Septia.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com