KOMPAS.com - Libur Natal dan Tahun Baru 2026 hampir berubah menjadi petaka bagi Ira (45). Pegawai swasta yang bekerja di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, itu nyaris menjadi korban penipuan belanja online bermodus paket gagal kirim.
Namun, Ira selamat. Bukan karena teknologi keamanan digital yang rumit, melainkan karena satu keputusan sederhana yang berakar pada iman untuk menunda urusan dunia demi menunaikan shalat.
Peristiwa itu bermula ketika Ira memesan sabun dari sebuah toko daring dengan nilai transaksi Rp 110.800.
Beberapa hari kemudian, pesan WhatsApp masuk dari akun yang mengatasnamakan admin perusahaan jasa pengiriman.
Pesan itu menyebutkan paket Ira gagal dikirim dan dana akan dikembalikan, disertai tautan untuk “melanjutkan proses”.
Awalnya, Ira mengabaikan pesan tersebut. Namun, panggilan telepon menyusul dari nomor yang sama.
Logo akun WhatsApp yang menyerupai kurir resmi membuatnya sempat lengah. Dalam percakapan, penelepon menjelaskan bahwa dana pembelian, termasuk promo ongkir dan diskon instan, akan dikembalikan sepenuhnya. Anehnya, Ira diminta menghitung sendiri jumlah pengembalian dana.
“Kesannya sangat membantu, seolah-olah tidak mau saya rugi,” kata Ira kepada Kompas.com, Minggu (5/1/2026).
Kecurigaan Ira kian tumbuh ketika penelepon mengetahui detail personalnya, mulai dari nomor ponsel, bank yang digunakan, hingga jenis promo saat berbelanja. Informasi yang semestinya hanya tersimpan dalam sistem marketplace.
Baca juga: Shalat Dua Rakaat Sebelum Subuh: Hikmah dan Keutamaannya
Puncak keganjilan terjadi saat admin palsu itu menyebut akan mengirimkan tautan pengembalian dana yang harus dipindai.
Dalam kondisi lelah sepulang kerja, Ira merasakan kegamangan. Pada saat itulah waktu Maghrib tiba.
Ira lalu mengatakan ingin menunda proses tersebut karena waktu Maghrib dan berniat berdiskusi lebih dulu dengan suaminya. Respons dari si penelepon justru membuatnya semakin waspada.
“Dia bilang masa berlaku scan-nya tidak lama dan minta saya cepat-cepat. Dari situ saya merasa makin tidak aman,” ujar Ira.
Setelah menutup panggilan, Ira menyadari betapa dekatnya ia dengan bahaya. Ia meyakini bahwa keputusan menunda dan memilih shalat telah memberinya ruang berpikir yang jernih.
Dalam tradisi Islam, shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan juga sarana tuma’ninah ketenangan batin yang menahan manusia dari sikap tergesa-gesa.
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak larut dalam ketergesa-gesaan, karena tergesa-gesa kerap membuka pintu mudarat.
Pengalaman Ira selaras dengan banyak kasus serupa. Asmara Abigail, artis nasional, pernah mengaku kehilangan hingga Rp 70 juta akibat praktik phishing berkedok layanan pengiriman. Dalam pengakuannya, kelelahan fisik dan tekanan aktivitas membuat kewaspadaannya runtuh.
“Biasanya kalau ada yang ngirim link, entah itu di SMS, WhatsApp atau ada nomor enggak dikenal atau ditelepon kita suka dapat email enggak jelas gitu, aku enggak pernah klik. Tapi mungkin karena aku benar-benar capek, jadilah aku ketipu, situasinya tuh benar-benar buat aku horor banget,” ceritanya dalam podcast RJL-5 Fajar Aditya, dikutip pada Minggu (7/9/2025).
Fenomena ini menunjukkan bahwa kejahatan digital tidak hanya menyerang sistem, tetapi juga kondisi psikologis manusia. Saat lelah, tergesa, dan jauh dari kesadaran diri, seseorang lebih mudah diperdaya.
Data Indonesia Domain Abuse Data Exchange (IDADX) mencatat lebih dari 100.000 kasus phishing dalam lima tahun terakhir. Lonjakan signifikan terjadi pada 2024, menandakan bahwa ancaman ini semakin serius.
Baca juga: Waktu Dzuhur di Hari Jumat: Panduan Shalat Dzuhur bagi yang Tidak Wajib Jumatan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa literasi digital dan keuangan harus berjalan seiring dengan kesadaran personal.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan pentingnya kewaspadaan di tengah kecanggihan pelaku kejahatan digital.
Namun, kisah Ira menghadirkan lapisan makna lain, bahwa iman dan kebiasaan ibadah dapat menjadi benteng pertama.
Dalam Islam, menunda urusan dunia demi memenuhi panggilan shalat bukanlah kerugian, melainkan perlindungan.
Ira berharap pengalamannya menjadi pengingat bagi banyak orang.
“Kalau ada telepon soal paket tidak sampai, apalagi diburu-buru, lebih baik dihentikan saja. Jangan klik atau scan apa pun,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, kisah ini menjadi penanda bahwa jeda kecil untuk mengingat Tuhan bisa menjadi penyelamat besar.
Shalat dalam ketenangannya, memberi ruang bagi akal untuk kembali memimpin, sebelum penyesalan datang terlambat.
Baca juga: Shalat Jamak dan Qashar: Pengertian, Syarat, dan Tata Caranya
Ahli IT dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Taufiqur Rohman, memberikan langkah paling mendasar untuk menghindari penipuan kurir paket, diantaranya:
Pelaku penipuan semakin mahir meniru tampilan situs organisasi tepercaya. Karena itu, kehati-hatian menjadi mutlak, terutama ketika menerima pesan yang bernada mendesak.
Jika nomor tersebut tidak terdaftar, besar kemungkinan pesan yang diterima merupakan bagian dari penipuan.
Keberadaan sertifikat SSL tidak otomatis menjamin keaslian sebuah situs, karena sertifikat tersebut dapat diperoleh secara gratis dengan verifikasi minimal.
J&T Express juga rutin mengimbau pelanggannya agar waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan perusahaan. Melalui kampanye edukasi tersebut perusahaan logistik ini mendorong masyarakat untuk segera menghentikan proses jika menemukan kejanggalan.
“Kalau sudah mencurigakan, sudah aneh-aneh, cancel saja. Tidak usah ditindaklanjuti atau langsung laporkan,” ujar Brand Manager J&T Express, Herline Septia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang