Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Percaya Ramalan, Dosa atau Sekadar Hiburan?

Kompas.com, 6 Januari 2026, 17:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nama Hard Gumay kembali menjadi perbincangan publik setelah sejumlah penerawangannya di masa lalu dianggap “terbukti”.

Menjelang 2026, perhatian publik kembali tertuju pada ramalan terbaru yang ia sampaikan melalui berbagai platform digital, termasuk dalam perbincangan di kanal YouTube bersama Denny Sumargo pada akhir Desember 2025.

Ramalan tersebut mencakup beragam bidang, mulai dari dunia hiburan, bencana alam, hingga politik pemerintahan.

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah klaim tentang kabar duka dari seorang artis pria terkenal yang disebut meninggal dunia saat berstatus narapidana.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar di tengah masyarakat Muslim, apakah manusia memiliki kemampuan meramal masa depan? Dan bagaimana hukum mempercayai ramalan semacam itu dalam Islam?

Apakah Manusia Bisa Mengetahui Masa Depan?

Dalam akidah Islam, pengetahuan tentang masa depan secara mutlak termasuk perkara gaib. Alquran dengan tegas menyatakan bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui hal-hal gaib, termasuk apa yang akan terjadi di masa mendatang. Allah berfirman,

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

Qul lā ya‘lamu man fis-samāwāti wal-arḍil gaiba illallāh(u), wa mā yasy‘urūna ayyāna yub‘aṡūn(a).

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui sesuatu yang gaib selain Allah. Mereka juga tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (QS An-Naml ayat 65).

Penegasan ini menunjukkan bahwa klaim mengetahui peristiwa spesifik di masa depan, terutama yang bersifat detail dan pasti, berada di luar kapasitas manusia.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat tersebut menutup kemungkinan manusia memiliki pengetahuan gaib secara independen, baik melalui perhitungan, intuisi, maupun penerawangan.

Baca juga: Kiamat Menurut Islam: Antara Dalil Ilahi dan Prediksi Sains

Ramalan, Firasat, dan Dugaan, Apa Bedanya?

Islam membedakan antara firasat, analisis, dan ramalan. Firasat atau intuisi yang bersandar pada pengalaman dan pengamatan sosial masih berada dalam wilayah dugaan manusiawi.

Seseorang bisa memprediksi kecenderungan berdasarkan pola, tetapi tidak dapat memastikan kejadian.

Sebaliknya, ramalan yang mengklaim kepastian peristiwa gaib termasuk kematian, bencana, atau takdir seseorang, masuk ke wilayah yang oleh Islam disebut kahanah (perdukunan atau klaim mengetahui yang gaib).

Dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa klaim mengetahui hal-hal gaib tanpa dasar wahyu merupakan bentuk penyimpangan akidah, karena menempatkan manusia pada posisi yang tidak semestinya.

Hukum Mempercayai Ramalan dalam Islam

Islam bersikap tegas terhadap praktik meramal dan mempercayainya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mendatangi peramal lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad).

Hadis ini sering dikutip oleh para ulama sebagai peringatan keras agar umat Islam tidak menggantungkan keyakinannya pada ramalan.

Dalam Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Wahbah al-Zuhayli menegaskan bahwa mempercayai ramalan sebagai kebenaran pasti termasuk dosa besar karena merusak tauhid dan kebergantungan kepada Allah.

Namun, para ulama juga membedakan antara mempercayai secara akidah dan sekadar mengonsumsi informasi sebagai hiburan.

Meski demikian, sikap berhati-hati tetap dianjurkan karena batas antara hiburan dan keyakinan sering kali kabur.

Baca juga: Ayat-Ayat tentang Kematian dalam Al Quran untuk Dipahami dan Direnungkan

Mengapa Ramalan Mudah Dipercaya Publik?

Dari perspektif keislaman, ketertarikan manusia pada ramalan berkaitan dengan sifat dasar manusia yang ingin mengetahui masa depan.

Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kegelisahan terhadap masa depan kerap membuat manusia mencari kepastian di luar Tuhan, termasuk melalui ramalan dan simbol-simbol metafisik.

Islam tidak menafikan kecemasan manusia, tetapi mengarahkan agar kegelisahan tersebut diserahkan kepada Allah melalui doa, ikhtiar, dan tawakal, bukan melalui klaim-klaim gaib yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap Islam Menghadapi Ramalan Publik Figur

Dalam konteks ramalan yang disampaikan figur publik dan dikonsumsi secara luas, Islam mengajarkan sikap proporsional.

Umat diminta untuk tidak mudah terpesona, apalagi menjadikan ramalan sebagai pedoman hidup.

Islam juga mengingatkan agar tidak menebar ketakutan atau prasangka buruk melalui klaim masa depan yang belum tentu benar.

Dalam pandangan maqashid syariah, menjaga ketenangan batin dan akal sehat masyarakat termasuk tujuan penting syariat.

Baca juga: Tanda-tanda Mendekati Kematian Menurut Imam Al Ghazali dan Pandangan Medis

Fokus Islam: Bukan Meramal, tetapi Mempersiapkan Diri

Alih-alih sibuk menebak apa yang akan terjadi, Islam menekankan pentingnya kesiapan moral dan spiritual.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan umatnya untuk meramal masa depan, melainkan mempersiapkan diri dengan amal saleh.

Dalam Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, ditegaskan bahwa seorang Muslim sejatinya hidup di antara harapan dan kewaspadaan, bukan dalam ketakutan yang bersumber dari ramalan.

Fenomena ramalan menjelang 2026, termasuk yang disampaikan Hard Gumay, pada akhirnya menjadi ujian bagi akal dan iman.

Islam mengajak umatnya untuk bersikap kritis, tenang, dan tetap menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dalam menghadapi masa depan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com