Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak-Anak Nabi Muhammad SAW: Inilah Nama dan Kisah Lengkapnya

Kompas.com, 6 Januari 2026, 12:00 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Fatimah Az Zahra adalah putri Nabi Muhammad SAW paling dikenal. Bahkan kerap dijadikan nama anak perempuan di sampai saat ini. Selain Fatimah, Rasulullah SAW juga mempunyai putra dan putri lain yang patut untuk diketahui.

Putra dan putri Rasulullah SAW tidak mempunyai kisah lengkap karena rata-rata meninggal di usia bayi atau muda. Hanya Fatimah saja yang usianya cukup panjang hingga dikenal kalangan umat Islam.

Untuk lebih mengenal putra dan putri Nabi Muhammad SAW, berikut daftar lengkap beserta kisahnya.

Baca juga: Nabi Muhammad dan Jalan Panjang Meraih Gelar Al-Amin

Putra Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW mempunyai tiga putra yang berasal dari ibu berbeda, yaitu Al Qassim dan Abdullah merupakan putra dari Khadijah dan Ibrahim putra dari budak Nabi Muhammad SAW yang bernama Maria Al Qibtiyah.

Nabi Muhammad SAW juga mempunyai anak angkat, yaitu Zaid bin Haritsah.

1.Al Qassim

Al Qassim merupakan putra pertama Nabi Muhammad SAW dari Khadijah. Ia lahir pada tahun 13 sebelum masa Kenabian. Sayangnya, Al Qassim tidak berumur Panjang.

Ia meninggal saat usianya baru menginjak 7 hari. Ada pula riwayat yang menyebut Al Qassim meninggal Ketika sudah mampu berjalan.

2. Abdullah

Abdullah merupakan putra bungsu Nabi Muhammad SAW dari Khadijah. Tidak banyak yang menjelaskan tentang riwayatnya. Yang jelas, Abdullah meninggal di Mekkah saat masih berusia anak-anak.

Baca juga: Kisah Ahli Ibadah 500 Tahun: Amal Tidak Menjamin Surga

3. Ibrahim

Ibrahim merupakan putra Nabi Muhammad SAW dari hamba sahayanya yang bernama Maria Qibtiyah. Ketika Ibrahim lahir, Nabi Muhammad SAW mengajarkan beberapa sunnah tentang kelahiran, seperti memberi nama pada hari ketujuh, kemudian melaksanakan aqiqah, memotong rambut dan menimbangnya serta bersedekah seberat timbangan rambut tersebut.

Umur Ibrahim tidak panjang. Ia meninggal saat usia 16 bulan, bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari. Kepergian Ibrahim membuat Rasulullah bersedih hingga menangis.

Hal tersebut membuat Abdurrahman bin Auf heran dan bertanya mengenai tangisan tersebut.

“Wahai putra ‘Auf, sesungguhnya itu merupakan rahmat, sesungguhnya mata itu akan menangis dan hati itu akan bersedih, akan tetapi kami tidak akan berkata kecuali dengan ucapan yang diridhai Allah, dan sesungguhnya kami sedih berpisahan denganmu wahai Ibrahim,” jawab Rasulullah.

Baca juga: Sirah Nabawiyah: Kisah Hidup Nabi Muhammad SAW dari Lahir hingga Wafat

4. Zaid bin Haritsah

Zaid bin Haritsah merupakan anak angkat Nabi Muhammad SAW. Pada awalnya Nabi Muhammad SAW mengganti nasab Zaid menjadi Zaid bin Muhammad, namun Allah melarangnya dengan menurunkan ayat Q.S. Al Ahzab: 40.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Untuk menegaskan perintah ini, Allah memerintahkan Rasulullah untuk menikahi janda dari Zaid bin Haritsah.

Zaid awalnya merupakan seorang budak. Nabi Muhammad SAW membelinya dari pasar Mekkah. Ketika melihat Zaid, Khadijah berucap: “Kalaulah budak ini milik saya maka akan saya merdekakan”.

Nabi Muhammad SAW kemudian menyerahkan Zaid kepada Khadijah, maka merdekalah Zaid. Tak hanya merdeka, Zaid juga diangkat anak oleh Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim

Putri Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW mempunyai empat orang putri dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Berikut keempat putri Nabi Muhammad SAW:

1. Zainab

Zainab lahir setahun setelah Al Qassim. Ia tumbuh menjadi wanita yang cantik dan penuh kasih sayang. Zainab menikah dengan Abu Al Ash dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Ali dan Umamah. Pernikahan berlangsung sebelum masa kenabian.

Saat Rasulullah diangkat menjadi Nabi, Abu Al Ash justru memusuhi Nabi. Ajakan untuk memeluk Islam ditolaknya. Meskipun demikian, Zainab tetap mempertahankan bahtera rumah tangganya karena besarnya cinta kepada sang suami.

Abu Al Ash termasuk salah satu prajurit yang turut berperang di Perang Badar. Hanya saja, ia berada di pihak kaum Quraisy. Hal itu membuatnya tertawan oleh pasukan Muslim. Mendapati hal tersebut, Zainab segera mengumpulkan harta dan menebus sang suami.

Bahkan kalung pemberian Ibunda Khadijah dijadikan jaminan sehingga kaum muslimin melepaskannya dengan syarat Zainab dibiarkan berhijrah ke Madinah.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf di Balik Jeruji dan Makna Kekuasaan yang Adil

Perbedaan keyakinan membuat Zainab dan Abu Al Ash akhirnya bercerai meskipun masih saling cinta. Zainab kemudian bersiap untuk hijrah ke Madinah secara terang-terangan. Hal ini membuat kaum musyrikin menghalang-halangi niat hijrah tersebut.

Kekalahan di perang Badar membuat mereka tidak rela Zainab meninggalkan Mekkah. Akibat kejadian ini, Zainab yang saat itu sedang hamil mengalami keguguran.

Abu Sofyan sebagai tokoh akhirnya memberikan solusi. Zainab boleh berhijrah asalkan secara sembunyi-sembunyi. Pada percobaan kedua, Zainab berhasil hijrah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi.

Setibanya di Madinah, Zainab terus berdoa agar sang suami dapat memeluk Islam. Doa ini dikabulkan, Abu Al Ash akhirnya memeluk Islam dan turut hijrah ke Madinah. Keduanya akhirnya bersatu kembali hingga ajal menjemput Zainab di tahun ke-8 Hijriah.

Baca juga: Kisah Kejujuran Membawa Kebaikan

2. Ruqayyah

Ruqayyah merupakan putri kedua Rasulullah dengan Khadijah. Saat menginjak usia belia, ia dinikahkan dengan keluarga dari pihak ayah, yaitu putranya Abu Lahab yang bernama Utbah.

Pernikahan ini sayangnya tak berlangsung lama. Belum sempat menikmati kebersamaan, keduanya harus bercerai karena turunnya wahyu. Abu Lahab yang menolak ajaran Rasulullah tak ingin berbesan dengan Rasul sehingga memerintahkan putranya untuk menceraikan Ruqayyah.

Tak lama setelah bercerai, Ruqayyah menikah dengan Utsman bin Affan. Keduanya turut berhijrah ke Habasyah. Disana pasangan ini diberi momongan bernama Abdullah bin Utsman, cucu pertama Rasulullah.

Pada usia 6 tahun, Abdullah meninggal. Tak lama kemudian Ruqayyah jatuh sakit. Hal ini membuat Utsman tidak turut membersamai kaum muslimin di Perang Badar. Rasulullah memerintahkan Utsman untuk menjaga sang istri sekaligus menjadi pemimpin di Madinah. Seusia perang Badar, Ruqayyah meninggal dunia.

Baca juga: Kisah Penggembala Kambing yang Jujur dan Telah Mencapai Derajat Ihsan

3. Ummu Kultsum

Ummu Kultsum satu tahun lebih muda dari Ruqayyah. Keduanya sering dikatakan mirip dan dinikahkan secara bersamaan dengan putra Abu Lahab juga yang bernama Utaibah. Seperti halnya sang kakak, perbedaan keyakinan menyebabkan rumah tangga ini kandas.

Setelah bercerai, Ummu Kultsum tak segera menikah lagi. Ia memilih mengurus ibundanya Khadijah yang sudah sakit-sakitan serta adiknya Fatimah. Ummu Kultsum baru menikah lagi setelah sang kakak, Ruqayyah meninggal. Ummu Kultsum menikah dengan Utsman bin Affan.

Pernikahan Ummu Kultsum dengan Utsman berjalan selama 6 tahun dan belum dikaruniai anak. Sayangnya, pada tahun 9 H Ummu Kultsum jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

4. Fatimah

Fatimah merupakan putri keempat Nabi Muhammad SAW. Ia menjadi putri kesayangan dan selalu membantu perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Islam. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan tersebut, lahir 5 orang putra-putri, yaitu Hasan, Husein, Muhassin, Zainab, dan Ummu Kultsum.

Baca juga: Kisah Luqman Al Hakim Bersama Anaknya dan Seekor Keledai

Dalam perjalanan rumah tangganya, Fatimah sempat akan dimadu. Hal ini menjadikannya sedih. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW melarang Ali untuk melakukannya.

Sebelum Nabi Muhammad SAW wafat, ia sempat memberi tahu Fatimah bahwa ia merupakan keluarga pertama yang akan menyusul kepergiannya. Berita ini membuat Fatimah mempersiapkan diri untuk menemui titik akhir kehidupannya.

Fatimah sudah mempersiapkan semuanya sebelum meninggal dunia. Ia mandi terlebih dahulu dan memindahkan tempat tidurnya ke tengah rumah. Ia kemudian berpesan kepada Ummu Rafi’ di detik-detik terakhir hidupnya.

“Wahai ibu, nyawa saya akan dicabut sekarang, dan saya sudah mandi, karena itu, jangan ada yang membuka kafanku lagi.”

Setelah itu Fatimah meninggal, tepatnya 6 bulan setelah Rasulullah wafat.

Baca juga: Kisah Romantis Nabi Muhammad SAW Terhadap Istri-istrinya

Penutup

Itulah daftar nama anak-anak Nabi Muhammad SAW. Fatimah adalah anak Nabi Muhammad SAW yang berumur panjang untuk melanjutkan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Hikmah putra Nabi Muhammad SAW diwafatkan saat masih kecil adalah agar tidak terjadi pengkultusan terhadap putra Nabi Muhammad SAW pasca wafatnya Sang Nabi Mulia. Sekaligus untuk menghindari fitnah yang dapat muncul.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com