Editor
KOMPAS.com-Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam yang menandai perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu.
Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem sebelum naik ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha.
Perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju langit untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT tidak dapat dilepaskan dari peran Masjid Al-Aqsa sebagai titik awal peristiwa Mi’raj.
Baca juga: Doa untuk Palestina dan Masjidil Aqsa: Harapan dan Dukungan Lewat Doa
Dilansir dari laman BPKH, Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam karena disebut secara langsung dalam Al-Qur’an sebagai tempat yang diberkahi.
Keutamaan Masjid Al-Aqsa dijelaskan dalam Surah Al-Isra ayat 1 yang mengisahkan perjalanan Isra Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa pada malam hari untuk memperlihatkan sebagian tanda kebesaran-Nya.
Perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad SAW menuju langit ketujuh bermula dari Masjid Al-Aqsa setelah perjalanan Isra dari Mekkah.
Masjid Al-Aqsa tercatat sebagai masjid ketiga paling suci dalam Islam setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Riwayat Islam menyebut Masjid Al-Aqsa sebagai tempat Nabi Muhammad SAW naik ke langit untuk menerima perintah salat dari Allah SWT.
Baca juga: Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 2026: Sejarah Peristiwa dan Makna Pensyariatan Sholat
Bangunan Masjid Al-Aqsa yang berdiri saat ini bukanlah bangunan pertama karena masjid tersebut pernah mengalami kehancuran akibat gempa bumi pada pertengahan abad ke-6.
Pembangunan kembali Masjid Al-Aqsa dilakukan pada masa Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah pada periode 705–715 Masehi.
Restorasi lanjutan dilakukan pada masa Dinasti Abbasiyah yang turut mengubah beberapa elemen arsitektur masjid.
Gaya arsitektur Masjid Al-Aqsa kemudian berkembang dengan ciri bangunan abad pertengahan yang dipengaruhi oleh makna spiritual Isra Miraj.
Masjid Al-Aqsa kini tampil megah dengan luas bangunan yang mencapai dua kali ukuran awalnya.
Baca juga: 9 Aturan Khusus bagi Jemaah Perempuan di Masjidil Haram dan Nabawi
Kawasan Masjid Al-Aqsa juga memiliki makna penting bagi umat Yahudi dan Kristen sehingga wilayah tersebut menjadi titik pertemuan tiga agama samawi.
Sejarah Palestina dan Yerusalem dipenuhi dinamika peperangan serta pergantian kekuasaan lintas peradaban.
Yerusalem pernah direbut oleh Khalifah Umar bin Khattab dari kekuasaan Kristen dan kemudian berada di bawah pemerintahan Islam.
Pemerintahan Islam pada masa itu menjamin keamanan umat Nasrani serta kebebasan menjalankan ibadah dan menjaga tempat suci mereka.
Sejak berada di bawah kekuasaan Islam, Yerusalem mengalami masa keemasan sebagai pusat peradaban dan kota religius.
Pada abad ke-7, Yerusalem menempati posisi kota ketiga terpenting bagi umat Islam setelah Mekkah dan Madinah.
Temple Mount atau Kuil Agung diidentifikasi umat Islam sebagai lokasi Nabi Muhammad SAW naik ke langit dalam peristiwa Mi’raj.
Pada masa Dinasti Umayyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan membangun Dome of the Rock yang diresmikan pada 691 Masehi.
Dome of the Rock dan Masjid Al-Aqsa menjadi dua simbol utama Yerusalem dalam pandangan umat Islam.
Pergantian kekuasaan ke Dinasti Abbasiyah menyebabkan peran politik dan ekonomi Yerusalem perlahan menurun.
Fungsi Yerusalem kemudian lebih menonjol sebagai kota religius dan tujuan peziarah lintas agama.
Dinasti yang berkuasa juga membuka kembali akses bagi komunitas Yahudi untuk menetap di sekitar Yerusalem.
Perubahan demografi tersebut membuat komunitas Yahudi berkembang pesat sementara komunitas lain perlahan berkurang.
Sebagai kota suci, Yerusalem memiliki kedudukan istimewa bagi Islam, Kristen, dan Yahudi hingga saat ini.
Baca juga: Sidratul Muntaha, Titik Tertinggi Perjalanan Nabi Muhammad
Peristiwa Isra Miraj sendiri diawali ketika Nabi Muhammad SAW beristirahat setelah waktu Isya.
Malaikat Jibril kemudian datang dan mengajak Rasulullah SAW memulai perjalanan malam tersebut.
Dalam perjalanan Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW menaiki Buraq yang digambarkan sebagai makhluk putih bersayap.
Malaikat Jibril mengajak Rasulullah SAW singgah dan melaksanakan salat di beberapa tempat penting seperti Madyan, Thursina, dan Betlehem.
Setibanya di Masjid Al-Aqsa, Nabi Muhammad SAW memimpin salat para nabi sebelum melanjutkan perjalanan ke langit.
Pada langit pertama, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS.
Pertemuan dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS terjadi di langit kedua.
Langit ketiga menjadi tempat pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Yusuf AS.
Di langit keempat, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris AS.
Nabi Harun AS ditemui Nabi Muhammad SAW di langit kelima.
Pertemuan dengan Nabi Musa AS terjadi di langit keenam yang disertai dialog penuh hikmah.
Nabi Muhammad SAW kemudian naik ke langit ketujuh dan menuju Baitul Makmur.
Di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW menerima perintah salat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam.
Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW kembali memohon keringanan hingga jumlah salat ditetapkan menjadi lima waktu.
Perjalanan Isra Miraj diakhiri dengan diperlihatkannya surga dan neraka kepada Nabi Muhammad SAW.
Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan penting karena pernah menjadi kiblat pertama umat Islam.
Peralihan kiblat ke Ka’bah di Mekkah tercatat dalam Surah Al-Baqarah ayat 142–144.
سَيَقُوْلُ السُّفَهَاۤءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰىهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَاۗ قُلْ لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ١٤٢
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٤٣
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ١٤٤
sayaqûlus-sufahâ'u minan-nâsi mâ wallâhum ‘ang qiblatihimullatî kânû ‘alaihâ, qul lillâhil-masyriqu wal-maghrib, yahdî may yasyâ'u ilâ shirâthim mustaqîm
wa kadzâlika ja‘alnâkum ummataw wasathal litakûnû syuhadâ'a ‘alan-nâsi wa yakûnar-rasûlu ‘alaikum syahîdâ, wa mâ ja‘alnal-qiblatallatî kunta ‘alaihâ illâ lina‘lama may yattabi‘ur-rasûla mim may yangqalibu ‘alâ ‘aqibaîh, wa ing kânat lakabîratan illâ ‘alalladzîna hadallâh, wa mâ kânallâhu liyudlî‘a îmânakum, innallâha bin-nâsi lara'ûfur raḫîm
qad narâ taqalluba waj-hika fis-samâ', fa lanuwalliyannaka qiblatan tardlâhâ fa walli waj-haka syathral-masjidil-ḫarâm, wa ḫaitsu mâ kuntum fa wallû wujûhakum syathrah, wa innalladzîna ûtul-kitâba laya‘lamûna annahul-ḫaqqu mir rabbihim, wa mallâhu bighâfilin ‘ammâ ya‘malûn
Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (kaum muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).”
Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.
Baca juga: Kisah Nabi Muhammad SAW Lengkap dari Lahir hingga Wafat
Keutamaan Masjid Al-Aqsa juga tercermin dari pahala sholat yang dilipatgandakan berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW.
Masjid Al-Aqsa bersama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjadi tiga tempat suci utama dalam Islam.
Kedudukan tersebut menjadikan Masjid Al-Aqsa sebagai simbol spiritual, sejarah, dan identitas umat Islam hingga kini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang