Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Ibu Kota Berpindah: Jejak Negara-negara Timur Tengah Geser Pusat Pemerintahan

Kompas.com, 15 Januari 2026, 10:18 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Perpindahan ibu kota sebuah negara bukanlah keputusan sederhana. Ia sering kali lahir dari kombinasi krisis politik, tekanan demografis, hingga visi pembangunan jangka panjang.

Di kawasan Timur Tengah, sejumlah negara pernah atau sedang mengalami perpindahan ibu kota, baik secara resmi maupun dalam praktik pemerintahan.

Fenomena ini mencerminkan dinamika kawasan yang terus berubah, dipengaruhi konflik, urbanisasi, dan tantangan geopolitik.

Baca juga: Isra Miraj Boleh Puasa atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama dan Dalil yang Menyertainya

Salah satu contoh paling nyata adalah Yaman. Secara konstitusional, Sanaa tetap diakui sebagai ibu kota negara.

Namun sejak 2015, ketika kelompok Houthi mengambil alih Sanaa, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional memindahkan pusat pemerintahannya ke Aden.

Kota pelabuhan di selatan itu kemudian ditetapkan sebagai ibu kota sementara.

Dalam praktiknya, sebagian aktivitas pemerintahan bahkan dijalankan dari luar negeri, terutama Riyadh, Arab Saudi, karena kondisi keamanan di dalam negeri yang belum stabil.

Kasus Yaman menunjukkan bahwa konflik bersenjata dapat memaksa negara memindahkan pusat kekuasaan demi kelangsungan pemerintahan.

Berbeda dengan Yaman yang dilatarbelakangi konflik, Mesir menempuh jalur perencanaan jangka panjang. Pemerintah Mesir sejak satu dekade terakhir membangun New Administrative Capital (NAC) di timur Kairo.

Kota baru ini dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan modern, menampung kantor presiden, parlemen, kementerian, serta kedutaan besar.

Meski Kairo masih berstatus ibu kota resmi, relokasi fungsi pemerintahan ke NAC sudah berjalan secara bertahap.

Alasan utamanya adalah kepadatan penduduk Kairo yang ekstrem, kemacetan, serta tekanan infrastruktur. Langkah Mesir mencerminkan tren global di mana ibu kota dipindahkan atau “didobel” demi efisiensi dan perencanaan kota masa depan.

Sementara itu, Iran berada pada tahap wacana dan kajian. Tehran, ibu kota Iran sejak akhir abad ke-18, menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari polusi udara, kemacetan parah, kekurangan air, hingga risiko gempa bumi karena berada di zona seismik aktif.

Dalam beberapa tahun terakhir, pejabat tinggi Iran secara terbuka membahas kemungkinan memindahkan ibu kota ke wilayah lain, termasuk kawasan Makran di pesisir selatan.

Meski belum ada keputusan resmi, diskursus ini menunjukkan kesadaran negara terhadap keterbatasan ibu kota lama dalam menopang beban populasi dan administrasi modern.

Selain contoh kontemporer, Timur Tengah juga memiliki preseden historis perpindahan ibu kota yang kerap dirujuk dalam kajian politik Islam.

Pada masa Kekhalifahan Islam, Khalifah Ali bin Abi Thalib memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kufah. Langkah ini diambil dengan pertimbangan politik dan keamanan, mengingat dinamika konflik internal umat Islam saat itu.

Meski terjadi dalam konteks negara pra-modern, peristiwa ini menunjukkan bahwa perpindahan ibu kota bukan fenomena baru dalam sejarah kawasan.

Para pengamat menilai, perpindahan ibu kota di Timur Tengah mencerminkan dua pola besar. Pertama, perpindahan karena krisis, seperti yang terjadi di Yaman, di mana keamanan menjadi faktor utama.

Kedua, perpindahan berbasis visi pembangunan, seperti di Mesir, yang melihat ibu kota baru sebagai simbol modernisasi dan efisiensi birokrasi. Iran berada di antara keduanya, masih menimbang antara urgensi lingkungan dan realitas politik-ekonomi.

Namun, perpindahan ibu kota juga menyisakan tantangan. Biaya pembangunan yang sangat besar, risiko ketimpangan wilayah, serta potensi alienasi sosial menjadi konsekuensi yang harus dihadapi.

Tidak sedikit proyek ibu kota baru di berbagai negara dunia menuai kritik karena dianggap elitis atau membebani anggaran negara.

Baca juga: Khutbah Jumat Isra Miraj: Meneladani Hikmah Isra Miraj dalam Kehidupan Sehari-hari

Di tengah dinamika tersebut, pengalaman negara-negara Timur Tengah menunjukkan bahwa ibu kota bukan sekadar pusat administrasi, melainkan cermin kondisi politik, keamanan, dan visi masa depan sebuah negara.

Ketika ibu kota berpindah, yang berubah bukan hanya lokasi pemerintahan, tetapi juga arah sejarah bangsa itu sendiri.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Musim Dingin Ekstrem Menguji Pengungsi Gaza Utara, Selimut Hangat Jadi Penyelamat
Musim Dingin Ekstrem Menguji Pengungsi Gaza Utara, Selimut Hangat Jadi Penyelamat
Aktual
Arab Saudi Pasang Sensor Pintar di Masjidil Haram untuk Kendalikan Arus Jamaah
Arab Saudi Pasang Sensor Pintar di Masjidil Haram untuk Kendalikan Arus Jamaah
Aktual
Apakah Greenland Disebut dalam Al Quran? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Apakah Greenland Disebut dalam Al Quran? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Aktual
Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Jarang Dibahas dalam Sejarah Islam
Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Jarang Dibahas dalam Sejarah Islam
Aktual
Ramadhan Datang Senyap, Pergi Terlalu Cepat: Mengapa Bulan Suci Selalu Terasa Singkat?
Ramadhan Datang Senyap, Pergi Terlalu Cepat: Mengapa Bulan Suci Selalu Terasa Singkat?
Aktual
Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat
Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat
Aktual
KJRI Jeddah: Kartu Nusuk Jamaah Haji Indonesia Dibagikan Sejak di Tanah Air
KJRI Jeddah: Kartu Nusuk Jamaah Haji Indonesia Dibagikan Sejak di Tanah Air
Aktual
Sekolah di Abu Dhabi Larang Siswa Bawa Bekal Sosis hingga Mi Instan
Sekolah di Abu Dhabi Larang Siswa Bawa Bekal Sosis hingga Mi Instan
Aktual
Penampakan Berbagai Siksaan di Malam Isra Mi'raj: Peringatan Nyata Bagi Manusia
Penampakan Berbagai Siksaan di Malam Isra Mi'raj: Peringatan Nyata Bagi Manusia
Doa dan Niat
Isra Miraj Biasanya Ngapain? Ini Kegiatan dan Amalan yang Dianjurkan
Isra Miraj Biasanya Ngapain? Ini Kegiatan dan Amalan yang Dianjurkan
Aktual
Mulai 2026, Ganggu Ibadah Agama Lain Bisa Masuk Penjara
Mulai 2026, Ganggu Ibadah Agama Lain Bisa Masuk Penjara
Aktual
Cara Nabi Muhammad Menjawab Keraguan Quraisy soal Isra Miraj
Cara Nabi Muhammad Menjawab Keraguan Quraisy soal Isra Miraj
Aktual
Pemerintah Siapkan Insentif Lebaran 2026, Dalam Bentuk Apa?
Pemerintah Siapkan Insentif Lebaran 2026, Dalam Bentuk Apa?
Aktual
Isra Mi’raj 2026 Berapa Hijriah? Ini Penjelasan Tanggal dan Makna Peringatannya
Isra Mi’raj 2026 Berapa Hijriah? Ini Penjelasan Tanggal dan Makna Peringatannya
Aktual
Sholat Jamak dan Qashar untuk Musafir: Ketentuan, Syarat, dan Dalilnya
Sholat Jamak dan Qashar untuk Musafir: Ketentuan, Syarat, dan Dalilnya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com