KOMPAS.com - Peristiwa Isra Mi'raj bukan hanya mukjizat besar dalam sejarah kenabian, tetapi juga menjadi ujian keimanan yang nyata bagi umat Islam pada masa awal dakwah.
Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan kisah perjalanan luar biasa yang dialaminya dalam satu malam, respons masyarakat Quraisy justru dipenuhi keraguan, ejekan, bahkan penolakan terbuka.
Namun, di tengah gelombang skeptisisme itu, Rasulullah SAW menunjukkan keteguhan, kejernihan, dan kejujuran yang akhirnya mempertegas kebenaran risalahnya.
Dalam Sirah Nabawiyah karya Muhammad Ridha, Rasulullah SAW menceritakan bahwa pada suatu malam beliau diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu dilanjutkan naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga penuh dengan pengalaman spiritual yang mendalam, termasuk perjumpaan dengan para nabi terdahulu dan penerimaan perintah shalat lima waktu.
Ketika kisah tersebut disampaikan kepada kaum Quraisy, reaksi yang muncul justru bernada sinis.
Bagi mereka, perjalanan Makkah–Baitul Maqdis saja membutuhkan waktu berbulan-bulan, mustahil ditempuh hanya dalam satu malam.
Sebagian menertawakan Rasulullah, sebagian lain menganggapnya sebagai bukti kebohongan, bahkan ada yang goyah imannya.
Baca juga: Peringatan Isra Miraj dan Tradisi Muslim di Berbagai Negara
Keraguan kaum Quraisy tidak berhenti pada penolakan verbal. Mereka mengajukan tantangan konkret agar Rasulullah membuktikan kebenaran ceritanya.
Salah satu tokoh Quraisy, yaitu Muth’im meminta Nabi Muhammad SAW menggambarkan secara rinci Baitul Maqdis, tempat yang tidak pernah beliau kunjungi sebelumnya.
Dalam situasi itu, Rasulullah tidak bersikap defensif atau emosional. Dengan pertolongan Allah SWT melalui Malaikat Jibril, beliau mampu menjelaskan detail-detail Masjidil Aqsa secara akurat, mulai dari bentuk bangunan hingga letak pintu-pintunya.
Penjelasan itu membuat sebagian penentangnya terdiam, meski tidak serta-merta melunakkan sikap mereka.
Penolakan kaum Quraisy menunjukkan bahwa persoalan utama mereka bukan pada kurangnya bukti, melainkan pada penolakan terhadap kebenaran yang bertentangan dengan logika dan kepentingan mereka.
Rasulullah SAW menyadari hal tersebut, namun tetap menyampaikan kebenaran tanpa dikurangi atau dilebihkan.
Sikap Nabi Muhammad SAW mencerminkan prinsip dakwah yang kokoh, yaitu menyampaikan risalah dengan jujur, menyerahkan hidayah sepenuhnya kepada Allah SWT, serta tidak terpengaruh oleh tekanan sosial maupun cemoohan.
Baca juga: Khutbah Jumat Isra Miraj: Meneladani Hikmah Isra Miraj dalam Kehidupan Sehari-hari
Di tengah badai keraguan, muncul sosok Abu Bakar ash-Shiddiq yang memberikan teladan keimanan sejati.
Ketika kaum musyrikin menyampaikan kabar tentang klaim Isra Mi’raj kepada Abu Bakar dengan maksud mengejek, jawabannya justru menjadi penegasan iman yang monumental.
Abu Bakar menyatakan bahwa jika Rasulullah SAW benar mengatakan hal tersebut, maka ia mempercayainya sepenuhnya.
Baginya, kepercayaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak dibatasi oleh logika manusia semata, karena ia telah membenarkan wahyu yang turun dari langit setiap hari. Dari sikap inilah Abu Bakar mendapat gelar ash-Shiddiq, orang yang membenarkan tanpa ragu.
Baca juga: Isra Miraj Boleh Puasa atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama dan Dalil yang Menyertainya
Peristiwa Isra Mi’raj memperlihatkan garis pemisah yang jelas antara iman dan penolakan. Kaum Quraisy yang mengedepankan logika sempit menolak kebenaran, sementara para sahabat yang tulus imannya justru semakin yakin.
Jawaban Rasulullah SAW terhadap keraguan Quraisy bukan hanya berupa penjelasan faktual, tetapi juga teladan akhlak dan keteguhan hati.
Hingga kini, Isra Mi’raj tetap menjadi pengingat bahwa iman tidak selalu menunggu bukti kasatmata, melainkan bertumpu pada kepercayaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang