Editor
KOMPAS.com - Setiap tahun, banyak orang di Uni Emirat Arab mengatakan hal yang sama: Ramadhan datang dengan tenang, menyatu dalam keseharian, lalu menghilang sebelum benar-benar sempat dirasakan sepenuhnya. Baru kemarin dinanti, tahu-tahu sudah dihitung hari menuju akhirnya.
Padahal, selama sebulan penuh, Ramadhan membentuk rutinitas, percakapan, hingga emosi dengan begitu dalam.
Waktu seolah bergerak berbeda. Hari terasa lambat, tetapi minggu berlalu cepat. Prioritas bergeser, suasana melunak, dan makna hadir bahkan dalam momen paling sederhana.
Baca juga: Allahumma Bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa Balighna Ramadhan, Doa dan Maknanya
Kini, kurang dari lima minggu sebelum hilal menandai awal Ramadhan, suasana hitung mundur mulai terasa. Ia hadir secara halus—dalam obrolan yang mulai bernostalgia, daftar belanja yang berubah, hingga malam-malam yang terasa lebih reflektif.
Bersamaan dengan antisipasi itu, muncul pula kerinduan kolektif akan suara, ritme, dan kebersamaan yang hanya dimiliki bulan suci.
Bagi banyak penduduk yang telah lama menetap, Ramadhan tidak diukur oleh jadwal atau kalender, melainkan oleh sensasi.
Aroma masakan di sore hari, keheningan menjelang matahari terbenam, dan cara seluruh rumah tangga melambat secara alami, seakan dipandu jam batin yang sama.
Meski kini aplikasi pengingat salat, notifikasi digital, dan layanan pesan-antar larut malam menjadi bagian dari rutinitas modern, ritual kecil itu tetap bertahan, menjaga esensi Ramadhan tetap hidup.
Bagi banyak orang, kenangan Ramadhan selalu bermula dari iftar. Dentuman meriam Ramadhan, azan Magrib yang menggema di lingkungan sekitar, dan keheningan sesaat sebelum matahari tenggelam.
Percakapan terhenti. Pandangan bergeser antara jam dan layar televisi. Orang-orang menunggu bukan notifikasi, melainkan suara yang dirasakan bersama. Dalam detik-detik terakhir sebelum azan, kota seakan menahan napas. Lalu lintas melambat, toko-toko menjadi sunyi, suara-suara merendah.
Saat azan berkumandang, rasanya bukan sekadar pengumuman, melainkan pelepasan bersama—dirasakan serentak di rumah, jalanan, dan masjid.
Masjid menjadi pusat pengalaman Ramadhan. Jamaah kembali ke masjid yang sama setiap malam untuk salat Tarawih, mengenali wajah-wajah yang familiar, saling menyapa singkat, lalu berdiri bahu-membahu dalam saf yang sama.
Ada kenyamanan dalam pengulangan itu. Irama yang sama, suara yang sama, dan rasa kebersamaan yang tenang. Beberapa momen bahkan dikenang dengan hangat, seperti ketika tokoh penting atau pemimpin datang tanpa pemberitahuan, ikut salat atau iftar secara sederhana, tanpa pembeda.
Di situlah pesan Ramadhan terasa nyata: kerendahan hati, kesetaraan di hadapan Tuhan, dan memudarnya jarak sosial.
Di rumah, iftar berlangsung sederhana. Generasi yang lebih tua sering mengenang bahwa tak banyak yang dibutuhkan agar hidangan terasa lengkap. Kurma dan air menjadi pembuka, disusul hidangan tradisional seperti harees, thareed, atau nasi yang telah dimasak sejak siang.
Makanan dibagi dari nampan besar. Memasak dilakukan bersama. Fokusnya bukan variasi atau tampilan, melainkan kebersamaan. Tetangga saling bertukar hidangan tanpa banyak kata—ketukan pintu, senyum hangat, dan rasa syukur yang sunyi.
Bagi banyak orang, Ramadhan tak terpisahkan dari masa kecil. Membantu menata meja, menunggu azan dengan tak sabar, melihat orang dewasa bergerak lebih lembut menjelang senja.
Baca juga: Doa Bulan Rajab: Persiapan Spiritual Menuju Ramadhan
Anak-anak ikut orang tua ke masjid untuk Tarawih, kadang melawan kantuk, kadang bangga bisa bertahan. Bangun sahur, tidur larut, dan merasakan bahwa aturan sehari-hari berubah—semua membuat Ramadhan terasa istimewa bahkan sebelum maknanya dipahami sepenuhnya.
Di beberapa lingkungan lama, kenangan tentang musaharati—yang berjalan membangunkan warga untuk sahur—masih hidup, suaranya mengalun lembut di dini hari.
Mungkin karena Ramadhan padat oleh makna. Ia dibentuk oleh ritual, bukan repetisi. Ditentukan oleh momen, bukan tonggak waktu. Saat berakhir, orang sulit menjelaskan ke mana waktu itu pergi—yang pasti, ia pergi terlalu cepat, meninggalkan jejak yang bertahan lama di hati.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang