KOMPAS.com - Menjelang peringatan Isra Miraj, satu pertanyaan kerap muncul di benak umat Islam, di mana sebenarnya peristiwa agung itu bermula? Banyak orang mengira perjalanan suci ini dimulai langsung dari Masjidil Haram.
Namun, sejumlah riwayat sahih justru menunjukkan bahwa panggilan langit itu datang ketika Rasulullah SAW berada di rumah Ummu Hani binti Abi Thalib.
Ummu Hani bernama asli Fakhitah binti Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah SAW, putri dari paman beliau, Abu Thalib.
Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan Nabi Muhammad, terutama pada masa-masa berat dakwah di Makkah.
Kedekatan inilah yang menjadikan rumahnya bukan sekadar tempat singgah, tetapi ruang sunyi tempat turunnya kehendak besar dari Allah SWT.
Baca juga: Isra Miraj Biasanya Ngapain? Ini Kegiatan dan Amalan yang Dianjurkan
Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa Rasulullah SAW berada di lingkungan keluarga Abu Thalib pada malam Isra Miraj.
Beberapa riwayat menjelaskan bahwa beliau beristirahat di rumah Ummu Hani sebelum malaikat Jibril datang menjemput.
Imam Al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah menuturkan bahwa perjalanan itu terjadi pada malam hari, setelah Rasulullah menunaikan shalat.
Dari rumah sederhana inilah beliau diperjalankan ke Masjidil Aqsa, lalu dimi’rajkan menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha.
Peristiwa tersebut menegaskan bahwa kemuliaan suatu tempat bukan ditentukan oleh kemegahannya, melainkan oleh ketaatan dan keikhlasan yang hidup di dalamnya.
Rumah Ummu Hani menjadi saksi awal turunnya perintah shalat, ibadah yang kelak menjadi tiang agama.
Baca juga: Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat
Ketika Rasulullah SAW kembali menjelang fajar dan menceritakan peristiwa Isra Miraj, Ummu Hani termasuk orang pertama yang mendengar kisah itu secara langsung.
Dalam berbagai riwayat sirah, disebutkan bahwa ia menyimak dengan penuh takzim, tanpa cemooh, tanpa ragu, di saat kisah yang sama kelak ditertawakan oleh kaum Quraisy.
Dalam Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa dukungan orang-orang terdekat Rasulullah memiliki makna besar, khususnya setelah beliau melalui masa duka mendalam yang dikenal sebagai ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan).
Keimanan yang tenang dan penerimaan yang tulus menjadi penopang batin Rasulullah di saat yang paling sunyi.
Baca juga: Isra Mi’raj 2026 Berapa Hijriah? Ini Penjelasan Tanggal dan Makna Peringatannya
Peran Ummu Hani tidak berhenti sebagai saksi sejarah Isra Miraj. Ia juga dikenal sebagai perawi hadits, terutama yang berkaitan dengan shalat sunnah.
Riwayatnya tentang shalat dhuha tercantum dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, menunjukkan kredibilitasnya dalam transmisi ilmu.
Dalam Riyadush Shalihin karya Imam An-Nawawi, hadits yang diriwayatkan Ummu Hani menjadi rujukan penting dalam pembahasan fikih ibadah.
Ini menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam menjaga dan menyampaikan ajaran Islam lintas generasi.
Baca juga: Cara Nabi Muhammad Menjawab Keraguan Quraisy soal Isra Miraj
Para ulama sirah menegaskan bahwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan tasliyah penghiburan ilahi bagi Rasulullah SAW.
Peristiwa ini datang bukan di tengah keramaian, melainkan di ruang tenang rumah seorang perempuan beriman yang hidup dalam kesederhanaan dan keikhlasan.
Sebagaimana ditulis Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqh Sirah, Allah kerap memilih tempat yang tampak biasa untuk menurunkan peristiwa luar biasa, agar manusia memahami bahwa kemuliaan lahir dari iman, bukan dari simbol duniawi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang