Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fastabiqul Khairat, Kunci Memaksimalkan Amal di Dunia dan Akhirat

Kompas.com, 17 Januari 2026, 08:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, ajaran Islam tentang fastabiqul khairat atau berlomba dalam kebaikan semakin relevan untuk dijadikan pedoman hidup.

Prinsip ini bukan sekadar ajakan berbuat baik, melainkan dorongan spiritual agar setiap Muslim terus meningkatkan kualitas amal, memanfaatkan waktu secara produktif, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi sesama.

Fastabiqul khairat menempatkan kebaikan sebagai orientasi utama kehidupan. Seorang Mukmin tidak cukup hanya melakukan amal saleh secara rutin, tetapi juga dituntut untuk berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Semangat inilah yang membedakan kebaikan yang dilakukan secara pasif dengan kebaikan yang lahir dari kesadaran iman dan tanggung jawab moral.

Makna Fastabiqul Khairat dalam Al-Qur’an

Istilah fastabiqul khairat bersumber dari Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 148.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, sekaligus mengingatkan bahwa seluruh manusia kelak akan dikumpulkan kembali di hadapan-Nya.

Para mufasir menjelaskan bahwa perintah ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ritual, tetapi juga mencakup seluruh dimensi kehidupan.

Dalam Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa fastabiqul khairat mengandung pesan dinamis agar umat Islam tidak terjebak pada formalitas ibadah semata, melainkan terus berupaya menghadirkan nilai kebaikan yang nyata dalam kehidupan sosial.

Menurut Quraish Shihab, berlomba dalam kebaikan berarti bergerak cepat merespons peluang amal, sekaligus berusaha menghadirkan kualitas terbaik dalam setiap perbuatan.

Baca juga: Jangan Lupa Dibaca! Doa Sebelum Bekerja agar Aktivitas Bernilai Ibadah

Kesadaran Waktu dan Keterbatasan Usia

Salah satu landasan penting dari fastabiqul khairat adalah kesadaran akan keterbatasan hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa tidak ada satu pun manusia yang dapat mempercepat atau menunda ajalnya.

Kepastian kematian menjadi pengingat bahwa waktu adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Dalam konteks ini, Islam mendorong umatnya untuk tidak menunda-nunda kebaikan. Menunda amal saleh sama artinya dengan menyia-nyiakan peluang pahala.

Dalam buku At-Tibyan karya Imam an-Nawawi, disebutkan bahwa salah satu adab utama seorang Muslim adalah menyegerakan ketaatan ketika kesempatan terbuka.

Menurut an-Nawawi, kebiasaan menunda amal berpotensi melemahkan semangat ibadah dan mengeraskan hati.

Kesadaran ini mengajarkan bahwa setiap hari seharusnya menjadi ruang evaluasi. Amal hari ini idealnya lebih baik daripada kemarin, baik dari segi niat, kualitas, maupun dampak sosialnya.

Meningkatkan Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas

Fastabiqul khairat tidak selalu berarti memperbanyak aktivitas ibadah secara fisik. Lebih dari itu, Islam menekankan kualitas amal.

Sebuah perbuatan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan bisa bernilai besar di sisi Allah.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali menegaskan bahwa kualitas amal sangat ditentukan oleh niat dan kesadaran hati.

Menurut al-Ghazali, amal yang dilakukan tanpa kehadiran hati hanya akan menjadi rutinitas kosong.

Sebaliknya, amal yang disertai niat yang lurus dan kesungguhan batin akan membentuk kepribadian yang lebih matang secara spiritual.

Karena itu, berlomba dalam kebaikan juga berarti berlomba dalam memperbaiki niat, memperhalus akhlak, dan menjaga konsistensi ibadah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Baca juga: Pelajaran Hidup dari Isra’ Mi’raj: Iman, Shalat, dan Kesabaran

Menyesuaikan Amal dengan Potensi Diri

Islam mengajarkan bahwa setiap orang memiliki ruang kontribusi yang berbeda. Tidak semua orang mampu bersedekah dalam jumlah besar, namun setiap Muslim dapat beramal sesuai kapasitasnya.

Dalam buku Fiqh Prioritas karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk memahami skala prioritas amal.

Orang yang diberi kelapangan rezeki dianjurkan memperbanyak sedekah dan membantu sesama.

Sementara mereka yang memiliki keterbatasan harta dapat memperkuat ibadah personal, seperti shalat malam, puasa sunnah atau memperbanyak doa.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa fastabiqul khairat bersifat inklusif. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kemuliaan, meskipun bentuk amalnya berbeda.

Mengutamakan Amal yang Paling Bernilai

Dalam berlomba melakukan kebaikan, Islam juga mengajarkan prinsip memilih amal yang lebih utama.

Contohnya, shalat wajib memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan ibadah sunnah. Begitu pula shalat berjamaah di masjid memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan shalat sendirian.

Rasulullah SAW bersabda bahwa pahala shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan selisih yang signifikan.

Pesan ini menegaskan bahwa fastabiqul khairat tidak hanya tentang banyaknya aktivitas, tetapi juga tentang memilih amal yang memiliki dampak spiritual dan sosial yang lebih luas.

Baca juga: Puasa Sunnah: Ibadah Ringan yang Menguatkan Iman dan Mendatangkan Keutamaan

Memperluas Dampak Kebaikan

Semangat berlomba dalam kebaikan juga tercermin dalam upaya memperluas manfaat amal. Islam tidak membatasi kebaikan hanya pada lingkaran internal umat, tetapi mendorong hadirnya rahmat bagi seluruh manusia.

Konsep rahmatan lil ‘alamin menjadi fondasi etika sosial Islam. Dalam konteks ini, fastabiqul khairat dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Kebaikan yang berdampak luas bukan hanya memperkuat ukhuwah, tetapi juga memperlihatkan wajah Islam yang penuh kasih dan keadilan.

Fastabiqul Khairat sebagai Gaya Hidup

Pada akhirnya, fastabiqul khairat bukan sekadar slogan religius, melainkan gaya hidup seorang Mukmin.

Ia mengajarkan kepekaan terhadap waktu, kesungguhan dalam beramal, serta keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Dengan menjadikan kebaikan sebagai orientasi utama, seorang Muslim tidak hanya membangun bekal akhirat, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi kehidupan dunia.

Di tengah tantangan zaman, semangat berlomba dalam kebaikan menjadi energi moral yang mampu menggerakkan perubahan, membangun harapan, dan memperkuat nilai kemanusiaan.

Fastabiqul khairat dengan demikian, bukan hanya tentang siapa yang paling cepat beramal, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga kualitas iman dan ketulusan dalam setiap langkah kehidupan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com