Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menu Favorit Rasulullah, Nutrisi dan Keberkahan dalam Hidangan

Kompas.com, 18 Januari 2026, 10:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bagi masyarakat modern, makan sering kali dianggap sebagai aktivitas mekanis untuk sekadar mengenyangkan perut atau memenuhi gaya hidup melalui tren kuliner.

Namun, dalam tradisi Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, setiap suapan adalah sebuah seni yang memadukan rasa syukur, kesahajaan, dan pemahaman mendalam tentang keseimbangan tubuh.

Di hadapan hidangan, Baginda Nabi tidak hanya melihat rasa, tetapi juga keberkahan yang terkandung di dalamnya.

Baca juga: Jejak Empat Sungai Mulia Berasal dari Surga yang Disebut Rasulullah

Salah satu rujukan paling otoritatif untuk membedah bagaimana keseharian Nabi adalah kitab klasik Al-Shamail al-Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi.

Dalam buku tersebut, Imam At-Tirmidzi secara mendetail mengumpulkan riwayat tentang karakteristik fisik dan kebiasaan harian Nabi, termasuk bab khusus yang membahas lauk-pauk serta tata cara makan beliau.

Baca juga: Amul Huzni: Episode Terberat Kehidupan dan Dakwah Rasulullah SAW

Kesederhanaan yang Menyehatkan: Lauk-Pauk Pilihan

Meski dikenal sebagai pemimpin besar, meja makan Rasulullah jauh dari kemewahan yang berlebihan. Namun, pilihan menu beliau justru selaras dengan prinsip nutrisi yang baik.

Dalam kitab tersebut, dikisahkan bahwa Nabi pernah memuji cuka dengan sabdanya: "Sebaik-baik lauk adalah cuka."

Di balik kesederhanaan cuka, dunia kesehatan modern kini mengakui manfaatnya bagi pencernaan dan keseimbangan gula darah.

Selain itu, Nabi sangat menggemari buah labu. Anas bin Malik RA menceritakan bahwa beliau sering melihat Nabi mencari potongan labu di sela-sela hidangan, sebuah sayuran yang kaya serat dan menenangkan sistem pencernaan.

Untuk asupan protein, Rasulullah menyukai daging bagian lengan atau kaki depan kambing karena teksturnya yang lebih lembut dan mudah dicerna.

Beliau juga tercatat pernah mengonsumsi daging unggas seperti ayam dan burung puyuh. Sebagai penutup atau camilan, Baginda sangat menyukai madu dan makanan yang manis secara alami, sebuah sumber energi instan yang thayyib (baik).

Baca juga: Mengalami Mimpi Buruk? Ini Adab dan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW

Rahasia Keseimbangan Suhu Tubuh

Satu hal yang menarik dalam literatur syamail (karakteristik Nabi) adalah kecerdasan beliau dalam memadukan jenis makanan.

Dikutip dari buku Zad Al-Ma’ad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dijelaskan bahwa Rasulullah sering mengombinasikan dua jenis makanan yang memiliki sifat berlawanan untuk menciptakan keseimbangan bagi tubuh.

Misalnya, Nabi terbiasa memakan mentimun atau semangka yang bersifat "dingin" dengan kurma matang yang bersifat "panas".

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa kombinasi ini bertujuan untuk menetralisir efek samping dari masing-masing makanan tersebut sehingga lebih ramah bagi lambung.

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa sehat dalam perspektif Nabi bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi bagaimana cara memadukannya.

Adab Makan: Lebih dari Sekadar Sopan Santun

Imam At-Tirmidzi dalam Al-Shamail al-Muhammadiyyah juga menyoroti perilaku fisik Nabi saat makan yang secara medis terbukti menyehatkan:

  • Posisi Duduk: Rasulullah menegaskan, "Aku tidak makan sambil bersandar." Secara klinis, makan sambil bersandar dapat menghambat saluran pencernaan dan membuat seseorang makan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Nabi memilih posisi duduk yang sigap sebagai bentuk penghormatan pada rezeki.
  • Makan dengan Tiga Jari: Rasulullah menggunakan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Kebiasaan ini mencegah seseorang mengambil suapan terlalu besar, sehingga proses pengunyahan menjadi lebih sempurna dan sistem pencernaan tidak bekerja terlalu berat.
  • Etika Minum yang Tenang: Nabi melarang minum sekali teguk seperti cara unta minum. Beliau menganjurkan untuk mengambil napas tiga kali di luar wadah saat minum. Hal ini memberikan waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan suhu cairan yang masuk dan mencegah tersedak.

Baca juga: 6 Faktor Kesabaran dan Keteguhan Hati Masa Rasulullah yang Relevan Hingga Kini

Keberkahan dalam Setiap Butiran

Bagi Rasulullah, keberkahan bisa jadi terletak pada suapan terakhir. Inilah mengapa beliau membiasakan diri untuk membersihkan jemari (menjilat jari) sebelum mencucinya.

Hal ini bukan sekadar kebiasaan fisik, melainkan bentuk apresiasi tertinggi bahwa tak ada satu pun butir rezeki yang boleh tersia-sia.

Kesadaran spiritual ini dimulai dengan Basmalah sebagai pengakuan bahwa makanan tersebut adalah pemberian Tuhan, dan diakhiri dengan Hamdalah sebagai bentuk syukur.

Nutrisi untuk Fisik dan Ruhani

Meneladani cara makan Rasulullah adalah langkah konkret untuk meraih kesehatan yang holistik.

Dengan memilih makanan yang halal lagi baik, serta memperhatikan adab yang santun, meja makan kita tidak hanya menjadi tempat mengisi energi fisik, tetapi juga menjadi sarana ibadah.

Sehat ala Nabi adalah tentang kecukupan, bukan kelimpahan; tentang kesadaran, bukan kerakusan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Daftar Lengkap Juara MTQ Nasional 2026, Menag: Gelar Bukan Akhir
Daftar Lengkap Juara MTQ Nasional 2026, Menag: Gelar Bukan Akhir
Aktual
Menag Ungkap Kunci Gontor Bertahan dan Tetap Relevan Selama 100 Tahun
Menag Ungkap Kunci Gontor Bertahan dan Tetap Relevan Selama 100 Tahun
Aktual
Cara Shalat Berjamaah Saat Imam Sudah Rukuk untuk Makmum Masbuk
Cara Shalat Berjamaah Saat Imam Sudah Rukuk untuk Makmum Masbuk
Aktual
Kemenag Sulteng Perkuat Pembinaan 181 Eks Napiter di Poso
Kemenag Sulteng Perkuat Pembinaan 181 Eks Napiter di Poso
Aktual
Qanun Asasi NU Bantah Dana Korupsi ATR/BPN Mengalir ke Muktamar ke-35
Qanun Asasi NU Bantah Dana Korupsi ATR/BPN Mengalir ke Muktamar ke-35
Aktual
Mewaspadai Bahaya Sifat Merasa Paling Benar dan Memaksakan Kehendak
Mewaspadai Bahaya Sifat Merasa Paling Benar dan Memaksakan Kehendak
Aktual
Syamsuri Firdaus dan Makna “Tijarotan Lan Tabur” di MTQ Nasional 2026
Syamsuri Firdaus dan Makna “Tijarotan Lan Tabur” di MTQ Nasional 2026
Aktual
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama dan Potensi Libur Panjangnya
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama dan Potensi Libur Panjangnya
Aktual
Tangan-Tangan yang Tak Berhenti Bekerja, Ini Kisah di Balik Kesuksesan MTQ Nasional XXXI 2026
Tangan-Tangan yang Tak Berhenti Bekerja, Ini Kisah di Balik Kesuksesan MTQ Nasional XXXI 2026
Aktual
Jakarta Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional XXXII 2027
Jakarta Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional XXXII 2027
Aktual
Kalimantan Timur Jadi Juara Umum, Cek Daftar Lengkap 10 Besar MTQ Nasional XXXI 2026
Kalimantan Timur Jadi Juara Umum, Cek Daftar Lengkap 10 Besar MTQ Nasional XXXI 2026
Aktual
Kakak Beradik Jadi Juara MTQ Nasional XXXI 2026, Bawa Nama Rembang
Kakak Beradik Jadi Juara MTQ Nasional XXXI 2026, Bawa Nama Rembang
Aktual
Gontor 100 Tahun: Dari Hutan Ponorogo hingga Melahirkan Jaringan Pesantren di Indonesia
Gontor 100 Tahun: Dari Hutan Ponorogo hingga Melahirkan Jaringan Pesantren di Indonesia
Aktual
Waketum MUI Ingatkan Kufur dan Zalim Sebabkan Hilangnya Nikmat Allah
Waketum MUI Ingatkan Kufur dan Zalim Sebabkan Hilangnya Nikmat Allah
Aktual
Islam Melarang Berkata Kasar dan Menghina, Ini Dalil Al-Qur'an dan Hadisnya
Islam Melarang Berkata Kasar dan Menghina, Ini Dalil Al-Qur'an dan Hadisnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar