Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang Kini Bersih dari Kayu Gelondongan

Kompas.com, 17 Januari 2026, 21:32 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Pondok Pesantren Islam Terpadu Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, kini telah bersih dan terbebas dari tumpukan kayu gelondongan sisa banjir bandang.

Pesantren tersebut menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto dalam proses pemulihan pascabencana.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menyampaikan bahwa penanganan Pesantren Darul Mukhlisin dilakukan secara cepat dan menyeluruh atas arahan langsung Presiden Prabowo.

Baca juga: Isra Miraj di Istiqlal, Khofifah Ajak Umat Kembali Tautkan Hati ke Masjid

“Jadi memang tempat ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Ada instruksi khusus, Pak Seskab Teddy Indra Wijaya, dan tentunya melanjutkan arahan dari Bapak Presiden Prabowo untuk menangani pesantren Darul Mukhlisin ini dengan sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya,” kata Qodari dalam pernyataan di Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Qodari menjelaskan, kunjungannya ke Aceh Tamiang pada Kamis (15/1/2026) merupakan bagian dari rangkaian kerja Kantor Staf Presiden untuk memastikan pemulihan pascabencana berjalan sesuai arahan Presiden, sekaligus menyalurkan bantuan dan memantau rehabilitasi di berbagai sektor.

Dalam peninjauan tersebut, Qodari bersama tim KSP melihat langsung kondisi asrama santri putri yang sebelumnya masih berlumpur, serta proses pembersihan puing-puing dan material banjir.

Ia juga meninjau kompleks asrama santri putra yang sempat menjadi perhatian publik karena dikelilingi tumpukan kayu besar akibat banjir bandang.

Kompleks pesantren dengan luas sekitar 2,5 hektare itu berada di kawasan seluas lima hektare yang sempat menjadi titik penumpukan material kayu dari aliran sungai.

Di lokasi bekas tumpukan kayu, Qodari mendengarkan langsung penjelasan Pendiri Pesantren Darul Mukhlisin, Haji Zakwan, terkait kondisi saat banjir melanda.

Dari penjelasan tersebut, Qodari mengetahui bahwa posisi pesantren secara tidak langsung berperan menahan laju kayu dan batang pohon besar, sehingga tidak masuk ke permukiman warga di sekitarnya.

Kesaksian serupa disampaikan Pelaksana Tugas Pimpinan Ponpes Darul Mukhlisin, Mulkana, yang menceritakan bagaimana para pengurus dan santri bertahan hidup selama beberapa hari dengan keterbatasan hingga banjir surut.

Ia juga mengungkapkan kondisi kayu-kayu besar yang sempat mengelilingi area masjid pesantren.

Menanggapi hal itu, Qodari menegaskan bahwa pesantren mengalami kerusakan cukup serius akibat terjangan air, lumpur, dan material kayu.

Namun di sisi lain, pesantren tersebut turut berperan penting dalam menahan penyebaran kayu agar tidak menimbulkan dampak yang lebih luas ke wilayah pemukiman.

Ia mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam proses pemulihan, mulai dari TNI, Polri, instansi kehutanan, hingga BUMN WIKA, yang telah membantu pembersihan area pesantren hingga kini mulai pulih.

Sementara itu, Haji Zakwan menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat dan upaya pembersihan yang telah dilakukan. Ia juga meluruskan informasi yang sempat beredar terkait pemanfaatan kayu sisa banjir.

Baca juga: Ketika Wirid Menggema, Sumpah Tapanuli Mengikat Nurani

“Kami meluruskan informasi yang menyatakan kayu-kayu telah digunakan, itu tidak benar. Belum ada kayu yang digunakan, masih utuh. Untuk bisa menggunakan kayu tersebut, kami perlu izin resmi dari pemerintah pusat,” tegasnya.

Zakwan menambahkan, kegiatan belajar mengajar di Pesantren Darul Mukhlisin telah kembali berjalan.

Namun, para santri belum dapat menempati asrama dan masih harus pulang-pergi karena kondisi asrama putra dan putri masih memerlukan rehabilitasi secara bertahap.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com