Editor
KOMPAS.com - Mekkah menjadi kota suci yang selalu didatangi umat Islam untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.
Selain thawaf dan berbagai rangkaian ibadah lainnya, terdapat sejumlah lokasi di Masjidil Haram yang dikenal memiliki keutamaan untuk berdoa.
Salah satu tempat yang paling dicari jamaah adalah Multazam, area di dekat Ka'bah yang diyakini sebagai lokasi mustajab.
Baca juga: Doa Mustajab di Makam Ibrahim Saat Tawaf, Ini Bacaan Lengkapnya
Banyak jamaah memanfaatkan momen berada di sana untuk memohon ampunan dan menyampaikan hajat kepada Allah SWT.
Berikut adalah ulasan terkait Multazam yang dirangkum dari laman Antara, HIMPUH, dan BPKH RI.
Baca juga: 12 Tempat Mustajab untuk Berdoa di Makkah, dari Ka’bah hingga Padang Arafah
Multazam merupakan dinding Kakbah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah. Jarak area tersebut diperkirakan sekitar dua meter saja.
Namun si lokasi ini, jamaah biasanya berusaha mendekat ke dinding Kakbah, lalu menempelkan tubuh sambil berdoa dengan penuh harap.
Banyak jamaah juga mengangkat tangan, menangis, dan memohon kebaikan dunia maupun akhirat apabila melewati area ini.
Mengutip buku Tapak Sejarah Seputar Makkah dan Madinah karya H. Muslim Nasution, nama Multazam dimaknai sebagai tempat memeluk. Istilah itu berasal dari kata iltazama fulanan yang berarti memeluk di fulan.
Makna tersebut dikaitkan dengan riwayat Rasulullah SAW yang pernah memeluk Kakbah di tempat itu.
Secara bahasa, Multazam berasal dari kata lazim yang berarti melekat atau menempel.
Dalam konteks Kakbah, istilah ini merujuk pada area dinding Kakbah tempat jamaah menempelkan badan ketika berdoa.
Karena itu, Multazam identik dengan tempat seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa dan munajat.
Multazam dikenal sebagai salah satu tempat yang diyakini mustajab untuk berdoa. Banyak jamaah berusaha mencapai area ini karena berharap doa yang dipanjatkan lebih mudah dikabulkan.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Nabi, Rasulullah SAW bersabda:
الْمُلْتَرَمُ مَوْضِعٌ يُسْتَجَابُ فِيْهِ الدُّعَاءُ مَا دَعَا اللَّهَفِيْهِ عَبْدٌ إِلا اسْتَجَابَهُ
Artinya: "Multazam adalah tempat dikabulkannya doa. Apa yang diminta seseorang kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya."
Riwayat lain menyebutkan Rasulullah SAW bersabda:
“Antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah terdapat Multazam. Tidak seorang pun hamba Allah SWT yang berdoa di tempat ini, kecuali dikabulkan doanya,”
Karena keutamaannya, Rasulullah SAW disebut pernah mendekapkan wajah dan dada di Multazam sambil berdoa.
Dalam riwayat disebutkan Rasulullah SAW pernah memanjatkan doa di Multazam:
”Ya Allah yang memelihara Al Bait al Atieq (Ka’bah) merdekakanlah kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, saudara-saudara kami dan anak-anak kami dari belenggu api neraka Wahai Yang Mahamurah, Yang Mahamulia, Yang Mahautama, Yang Maha Pengarunia, Yang Maha Pemberi Kebakan. Ya Allah jadikanlah segala urusan kami mendatangkan kebajikan, jauh dari segala kehinaan dunia dan siksa akhirat,”
”Ya Allah, aku ini hamba-Mu dan anak hamba-mu yang sedang berdiri di bawah rumah-mu di Multazam, aku menghadap dan bersimpuh di hadapan-Mu. Aku mengharapkan rahmat-Mu, takut akan siksa-Mu, wahai Pemberi Kebajikan."
"Ya Allah aku memohon kepada-Mu terimalah zikir-ku (pada-Mu), hilangkanlah dosa-dosaku, lancarkanlah urusanku sucikanlah hatiku, sinarilah kuburku, ampunilah dosaku dan aku mohon pada-Mu berikanlah derajat tinggi di surga,” (HR Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali).
Bagi jamaah haji maumpun umrah yang memiliki kesempatan berada di Multazam, tata cara berdoa dapat mengikuti riwayat Abdullah bin Umar yang melihat Rasulullah SAW melakukannya.
Beberapa poin tata cara yang dijelaskan dalam riwayat tersebut adalah:
Dengan cara itu, seorang hamba menunjukkan rasa cinta kepada Baitullah dan berharap mendapat keberkahan.
Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca di Multazam. Namun Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menyebut doa yang dianjurkan dibaca saat berada di sana, dimulai dengan:
اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَكَ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَكَ أَحْمَدُكَ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَم أَعْلَمْ وَعَلَى جَمِيْعَ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اللهم أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَأَعِذْنِيْ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَقَنَعْنِيْ بِمَا رَزَقْتَنِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ اللهم اجْعَلْنِيْ مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ وَأَلْزِمْنِيْ سَبِيْلَ الْلإِسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Arab latin: Allâhumma lakal hamdu hamdan yuwâfî ni‘amaka wa yukâfi‘u mazîdaka. Ahmaduka bi jamî’i mahâmidika mâ ‘alimtu minhâ wa mâ lam a‘lam wa alâ jamî’i ni‘amika, mâ ‘alimtu minhâ wa mâ lam a’lam wa alâ kulli hâl. Allâhumma shalli ala Muhammadin wa ala âli Muhammadin. Allâhumma a‘idznâ minasy syaithânir rajîm wa a‘idzni min kulli sû' wa qann‘ni bi mâ razaqtanî wa bârik lî fîhi. Allâhummaj ‘alnî min akrami wafdika ‘alaika wa alzimnî sabîlal istiqâmati hattâ alqâka yâ Rabbal âlamîn.
Artinya, “Ya Allah, bagi-Mu pujian, (dengan) pujian yang meliputi seluruh anugerahmu. Aku bersyukur pada-Mu atas segala macam pemberian-Mu, baik yang kuketahui ataupun yang tidak kuketahui, dan atas segala nikmat-Mu, baik yang kuketahui ataupun yang tidak kuketahui, dan atas segalanya. Ya Allah, sholawat dan salam semoga tercurah limpahkan pada Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, lindungi aku dari setan yang terkutuk, lindungi pula aku dari segala kejelekan, cukupi aku dengan segala yang Kauberikan kepadaku, dan berkahi aku dalam rezeki tersebut. Ya Allah, jadikan aku sebagai tebusan yang terbaik terhadap-Mu, dan tetapkan aku pada jalan yang istiqamah hingga aku kelak bertemu dengan-Mu, wahai Tuhan semesta alam.
Multazam tidak memiliki batasan waktu khusus. Jamaah dapat mendatangi dan berdoa di tempat ini kapan saja selama berada di Masjidil Haram.
Namun, karena Multazam merupakan bagian dinding Kakbah yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah sehingga area ini kerap dipadati jamaah.
Karena itu, jamaah diimbau menjaga adab, ketertiban, dan tidak mengganggu ibadah orang lain saat berdoa di tempat tersebut.
Jamaah tetap dianjurkan menjaga etika, tidak berdesakan berlebihan, serta tidak menyakiti dengan mendorong, menyikut, atau menghalangi jamaah lain.
Dengan memahami letak dan keutamaan Multazam, jamaah diharapkan bisa memaksimalkan ibadah haji maupun umrah dengan lebih khusyuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang