KOMPAS.com - Dalam imajinasi religius umat Islam, surga sering kali digambarkan sebagai sebuah tempat peristirahatan terakhir yang di bawahnya mengalir sungai-sungai jernih.
Namun, narasi tentang sungai ini tidak sepenuhnya berada di alam eskatologis yang jauh. Rasulullah SAW, melalui berbagai riwayat, menyebutkan bahwa ada empat sungai di dunia yang memiliki "ikatan batin" dengan mata air surga.
Keempat sungai tersebut adalah Nil, Eufrat (Al-Furat), Saihan, dan Jaihan. Kehadiran mereka di bumi bukan sekadar fenomena geografis, melainkan tanda kebesaran Sang Pencipta yang menghubungkan realitas duniawi dengan alam ukhrawi.
Baca juga: 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga Lengkap dengan Keutamaannya
Kisah mengenai sungai-sungai ini bermula dari peristiwa agung Isra Mi’raj. Saat Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha, beliau melihat empat sungai yang memancar dari akarnya. Dua sungai bersifat batin (tersembunyi di surga) dan dua sungai bersifat zahir (tampak di dunia).
Dalam catatan Imam Ibnu Katsir pada kitab legendarisnya, Al-Bidayah wan Nihayah (Masa Awal dan Masa Akhir), beliau mengutip hadis riwayat Imam Muslim yang menyebutkan secara eksplisit: "Empat sungai dipancarkan dari surga: Eufrat, Nil, Saihan, dan Jaihan."
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa eksistensi sungai-sungai ini merupakan bukti nyata bagaimana rahmat Tuhan diturunkan ke bumi untuk menopang kehidupan manusia.
Baca juga: Fenomena Emas di Sungai Eufrat: Tanda Kiamat atau Sekadar Mineral?
Apa yang membuat keempat sungai ini begitu istimewa hingga disebut berasal dari surga? Secara geografis, mereka adalah nadi utama peradaban manusia:
Dalam buku Tafsir al-Qur’an al-Azhim, juga karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa penyebutan "berasal dari surga" memiliki makna yang dalam.
Beliau memaparkan bahwa sungai-sungai ini mengandung unsur keberkahan (barakah) yang tidak dimiliki sungai lain.
Airnya bukan sekadar zat cair (H2O), melainkan sarana Tuhan untuk menumbuhkan tanaman, menghidupi ternak, dan menyokong kelangsungan hidup jutaan jiwa selama ribuan tahun.
Baca juga: Lakukan 6 Amalan Ini, Rasulullah SAW akan Menjamin Surga Bagimu
Pertanyaan menarik muncul: secara sains, kita tahu sungai berasal dari siklus air dan mata air pegunungan. Lantas, bagaimana memaknai hadis tersebut?
Para ulama, termasuk Imam Nawawi dalam bukunya yang sangat fenomenal, Syarah Shahih Muslim (Penjelasan Kitab Shahih Muslim), memberikan penjelasan yang mencerahkan. Beliau menjelaskan bahwa ada tiga cara memahami hal ini:
Secara Hakiki di mana Allah bisa saja menurunkan unsur materi sungai tersebut dari surga ke bumi melalui mekanisme yang tidak terjangkau nalar manusia. Ini adalah wilayah iman terhadap perkara gaib.
Kemudian berdasarkan keserupaan sifat, air sungai-sungai ini memiliki sifat yang menyerupai air surga yang segar, jernih, dan memberi manfaat yang luas.
Dan berdasarkan perumpamaan keberkahan, sebagaimana kurma Ajwa disebut dari surga, bukan berarti ia jatuh dari langit, melainkan karena manfaat medis dan spiritualnya yang luar biasa.
Baca juga: Khutbah Jumat: Dua Hal yang Paling Banyak Memasukkan Manusia ke Surga
Membaca kisah sungai-sungai ini mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap alam semesta. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan "ayat" atau tanda-tanda kehadiran Tuhan.
Jika sungai Nil atau Eufrat yang berada di dunia fana saja sudah mampu memberikan kehidupan bagi miliaran orang sejak zaman purba, maka bayangkan betapa dahsyatnya sungai surga yang sesungguhnya.
Narasi ini sebenarnya adalah undangan spiritual bagi umat beriman untuk senantiasa merindukan kampung halaman abadi manusia: surga.
Menjaga kelestarian air dan ekosistem sungai-sungai di sekitar kita pun menjadi bentuk syukur yang nyata.
Sebab, melalui airlah Tuhan menitipkan rahasia kehidupan, sebuah nikmat yang dihubungkan-Nya langsung dengan keindahan di balik gerbang Sidratul Muntaha.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang