Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Empat Sungai Mulia Berasal dari Surga yang Disebut Rasulullah

Kompas.com, 18 Januari 2026, 06:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam imajinasi religius umat Islam, surga sering kali digambarkan sebagai sebuah tempat peristirahatan terakhir yang di bawahnya mengalir sungai-sungai jernih.

Namun, narasi tentang sungai ini tidak sepenuhnya berada di alam eskatologis yang jauh. Rasulullah SAW, melalui berbagai riwayat, menyebutkan bahwa ada empat sungai di dunia yang memiliki "ikatan batin" dengan mata air surga.

Keempat sungai tersebut adalah Nil, Eufrat (Al-Furat), Saihan, dan Jaihan. Kehadiran mereka di bumi bukan sekadar fenomena geografis, melainkan tanda kebesaran Sang Pencipta yang menghubungkan realitas duniawi dengan alam ukhrawi.

Baca juga: 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga Lengkap dengan Keutamaannya

Kesaksian dari Sidratul Muntaha

Kisah mengenai sungai-sungai ini bermula dari peristiwa agung Isra Mi’raj. Saat Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha, beliau melihat empat sungai yang memancar dari akarnya. Dua sungai bersifat batin (tersembunyi di surga) dan dua sungai bersifat zahir (tampak di dunia).

Dalam catatan Imam Ibnu Katsir pada kitab legendarisnya, Al-Bidayah wan Nihayah (Masa Awal dan Masa Akhir), beliau mengutip hadis riwayat Imam Muslim yang menyebutkan secara eksplisit: "Empat sungai dipancarkan dari surga: Eufrat, Nil, Saihan, dan Jaihan."

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa eksistensi sungai-sungai ini merupakan bukti nyata bagaimana rahmat Tuhan diturunkan ke bumi untuk menopang kehidupan manusia.

Baca juga: Fenomena Emas di Sungai Eufrat: Tanda Kiamat atau Sekadar Mineral?

Menelusuri Jejak Geografis dan Keberkahan

Apa yang membuat keempat sungai ini begitu istimewa hingga disebut berasal dari surga? Secara geografis, mereka adalah nadi utama peradaban manusia:

  • Sungai Nil (Mesir): Dikenal sebagai pemberi kehidupan di padang pasir yang tandus. Tanpa Nil, sejarah peradaban Mesir tidak akan pernah ada.
  • Sungai Eufrat (Irak): Menjadi saksi bisu lahirnya peradaban Mesopotamia dan menjadi salah satu tanda penting dalam nubuat akhir zaman.
  • Sungai Saihan dan Jaihan (Turki): Mengalir di wilayah Asia Kecil (Anatolia), memberikan kesuburan luar biasa bagi wilayah sekitarnya.

Dalam buku Tafsir al-Qur’an al-Azhim, juga karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa penyebutan "berasal dari surga" memiliki makna yang dalam.

Beliau memaparkan bahwa sungai-sungai ini mengandung unsur keberkahan (barakah) yang tidak dimiliki sungai lain.

Airnya bukan sekadar zat cair (H2O), melainkan sarana Tuhan untuk menumbuhkan tanaman, menghidupi ternak, dan menyokong kelangsungan hidup jutaan jiwa selama ribuan tahun.

Baca juga: Lakukan 6 Amalan Ini, Rasulullah SAW akan Menjamin Surga Bagimu

Memahami "Asal dari Surga": Perspektif Ulama

Pertanyaan menarik muncul: secara sains, kita tahu sungai berasal dari siklus air dan mata air pegunungan. Lantas, bagaimana memaknai hadis tersebut?

Para ulama, termasuk Imam Nawawi dalam bukunya yang sangat fenomenal, Syarah Shahih Muslim (Penjelasan Kitab Shahih Muslim), memberikan penjelasan yang mencerahkan. Beliau menjelaskan bahwa ada tiga cara memahami hal ini:

Secara Hakiki di mana Allah bisa saja menurunkan unsur materi sungai tersebut dari surga ke bumi melalui mekanisme yang tidak terjangkau nalar manusia. Ini adalah wilayah iman terhadap perkara gaib.

Kemudian berdasarkan keserupaan sifat, air sungai-sungai ini memiliki sifat yang menyerupai air surga yang segar, jernih, dan memberi manfaat yang luas.

Dan berdasarkan perumpamaan keberkahan, sebagaimana kurma Ajwa disebut dari surga, bukan berarti ia jatuh dari langit, melainkan karena manfaat medis dan spiritualnya yang luar biasa.

Baca juga: Khutbah Jumat: Dua Hal yang Paling Banyak Memasukkan Manusia ke Surga

Pelajaran Spiritual: Alam sebagai Cermin Keimanan

Membaca kisah sungai-sungai ini mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap alam semesta. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan "ayat" atau tanda-tanda kehadiran Tuhan.

Jika sungai Nil atau Eufrat yang berada di dunia fana saja sudah mampu memberikan kehidupan bagi miliaran orang sejak zaman purba, maka bayangkan betapa dahsyatnya sungai surga yang sesungguhnya.

Narasi ini sebenarnya adalah undangan spiritual bagi umat beriman untuk senantiasa merindukan kampung halaman abadi manusia: surga.

Menjaga kelestarian air dan ekosistem sungai-sungai di sekitar kita pun menjadi bentuk syukur yang nyata.

Sebab, melalui airlah Tuhan menitipkan rahasia kehidupan, sebuah nikmat yang dihubungkan-Nya langsung dengan keindahan di balik gerbang Sidratul Muntaha.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
5 Berita Terpopuler Cahaya Kemarin: Aduan Haji Disorot, Petugas Dipulangkan, hingga Kabar Raja Salman
5 Berita Terpopuler Cahaya Kemarin: Aduan Haji Disorot, Petugas Dipulangkan, hingga Kabar Raja Salman
Aktual
Hukum Bunuh Diri dalam Islam: Larangan, Dosa Besar, dan Dampaknya
Hukum Bunuh Diri dalam Islam: Larangan, Dosa Besar, dan Dampaknya
Aktual
Tragedi Kesalehan Semu: Tiga Sosok yang Pertama Dilempar ke Neraka
Tragedi Kesalehan Semu: Tiga Sosok yang Pertama Dilempar ke Neraka
Doa dan Niat
Jejak Empat Sungai Mulia Berasal dari Surga yang Disebut Rasulullah
Jejak Empat Sungai Mulia Berasal dari Surga yang Disebut Rasulullah
Doa dan Niat
Memperbaiki Hidup dengan Shalat: Kunci Pertolongan, Ketakwaan, dan Ketenangan Hati
Memperbaiki Hidup dengan Shalat: Kunci Pertolongan, Ketakwaan, dan Ketenangan Hati
Doa dan Niat
Tanggung Jawab Suami-Istri dalam Islam yang Harus Dipahami Muslim
Tanggung Jawab Suami-Istri dalam Islam yang Harus Dipahami Muslim
Doa dan Niat
Ingin Rezeki Lancar, Amalkan Ayat Seribu Dinar
Ingin Rezeki Lancar, Amalkan Ayat Seribu Dinar
Doa dan Niat
Warga Padang Berjalan Kaki ke Makkah demi Haji, Kemenhaj Beri Penjelasan
Warga Padang Berjalan Kaki ke Makkah demi Haji, Kemenhaj Beri Penjelasan
Aktual
Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang Kini Bersih dari Kayu Gelondongan
Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang Kini Bersih dari Kayu Gelondongan
Aktual
Mengapa Doa Bisa Membuat Hati Lebih Tenang? Ini 5 Doa Sabar dan Ikhlas yang Dianjurkan
Mengapa Doa Bisa Membuat Hati Lebih Tenang? Ini 5 Doa Sabar dan Ikhlas yang Dianjurkan
Doa dan Niat
Jejak Kejayaan Kekhalifahan Islam dalam Sejarah Peradaban Dunia
Jejak Kejayaan Kekhalifahan Islam dalam Sejarah Peradaban Dunia
Doa dan Niat
Istighfar: Bacaan, Keutamaan, dan Kisah Menggetarkan Hati
Istighfar: Bacaan, Keutamaan, dan Kisah Menggetarkan Hati
Doa dan Niat
Rahasia Silaturahmi: Kunci Pembuka Rezeki dan Keberkahan Hidup
Rahasia Silaturahmi: Kunci Pembuka Rezeki dan Keberkahan Hidup
Aktual
Isra Miraj di Istiqlal, Khofifah Ajak Umat Kembali Tautkan Hati ke Masjid
Isra Miraj di Istiqlal, Khofifah Ajak Umat Kembali Tautkan Hati ke Masjid
Aktual
Doa Agar Terhindar dari Penyakit yang Dianjurkan Nabi
Doa Agar Terhindar dari Penyakit yang Dianjurkan Nabi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com