Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gerhana Matahari 17 Februari 2026, Apa yang Harus Dilakukan Umat Islam?

Kompas.com, 19 Januari 2026, 12:28 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Fenomena langit langka akan kembali terjadi pada 17 Februari 2026. Pada tanggal tersebut, dunia akan menyaksikan gerhana matahari cincin atau annular solar eclipse yang menampilkan pemandangan “ring of fire”—cincin cahaya terang mengelilingi siluet bulan.

Menurut laporan astronomi internasional yang dilansir dari Space, proses gerhana dimulai pukul 09.56 GMT dan mencapai puncaknya pada 12.12 GMT.

Pada fase maksimum, sekitar 96 persen piringan matahari akan tertutup oleh bulan. Namun, jalur utama gerhana cincin hanya melintasi wilayah sangat terbatas di Antartika, seperti Concordia Research Station dan Mirny Station.

Masyarakat di sebagian Afrika bagian selatan dan ujung Amerika Selatan hanya dapat menyaksikan gerhana sebagian.

Baca juga: Dari Mitos ke Tauhid: Pandangan Islam tentang Fenomena Gerhana

Sementara di wilayah lain, termasuk Indonesia, fenomena ini bisa diikuti melalui siaran daring yang biasanya disediakan lembaga antariksa.

Mengapa Terjadi Gerhana Cincin?

Gerhana matahari terjadi saat fase bulan baru, ketika bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari. Pada gerhana total, ukuran tampak bulan cukup besar untuk menutupi matahari sepenuhnya.

Namun pada gerhana cincin, posisi bulan sedikit lebih jauh dari Bumi sehingga tampak lebih kecil dari matahari.

Akibatnya, bagian tepi matahari tetap terlihat membentuk lingkaran cahaya—efek yang dikenal sebagai "ring of fire" atau cincin api.

Apa yang Harus Dilakukan Umat Islam?

Dalam tradisi Islam, gerhana bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan tanda kebesaran Allah SWT.

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak panik, tetapi memperbanyak ibadah ketika gerhana terjadi.

Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:

1. Melaksanakan shalat gerhana (shalat khusuf/ kusuf) secara berjamaah di masjid.

2. Memperbanyak doa, istighfar, dan zikir sebagai bentuk ketundukan kepada Allah.

3. Bersedekah serta meningkatkan kepedulian sosial.

4. Menghindari mitos atau kepercayaan yang tidak berdasar syariat.

Ulama menegaskan bahwa gerhana bukan pertanda musibah atau kelahiran seseorang, melainkan pengingat agar manusia merenungi keteraturan ciptaan Allah.

Cara Aman Menyaksikan Gerhana

Bagi yang ingin mengikuti fenomena ini secara ilmiah, keselamatan mata harus menjadi prioritas. Para ahli mengingatkan:

  • Jangan melihat matahari langsung tanpa kacamata filter khusus.
  • Hindari menggunakan kacamata hitam biasa karena tidak cukup melindungi.
  • Pilih siaran resmi dari lembaga astronomi untuk pengamatan daring.

Tahun 2026 Penuh Peristiwa Langit

NASA dalam situs resminya, nasa.gov, mencatat bahwa 2026 akan menjadi tahun istimewa bagi para pengamat langit. Selain gerhana matahari 17 Februari, ada sederet fenomena menarik:

  • 28 Februari: Parade enam planet—Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter.
  • 3 Maret: Gerhana bulan total yang tampak di Amerika Utara.
  • 8–9 Juni: Konjungsi Venus dan Jupiter yang tampak sangat berdekatan.
  • 12–13 Agustus: Hujan meteor Perseid.
  • 13–14 Desember: Hujan meteor Geminid.
  • 24 Desember: Supermoon malam Natal.

Rangkaian peristiwa ini mengingatkan manusia bahwa alam semesta bergerak dengan ketetapan yang sangat presisi.

Momentum Tafakur

Bagi umat Islam, gerhana matahari 17 Februari 2026 seharusnya menjadi momentum tafakur dan peningkatan ibadah, bukan sekadar tontonan.

Baca juga: 7 Hikmah Gerhana: Bukti Kekuasaan Allah hingga Pengingat Hari Kiamat

Di balik keindahan cincin api di langit, tersimpan pesan tentang kebesaran Sang Pencipta.

Seperti sabda Nabi, saat gerhana terjadi hendaknya manusia bersegera mendekat kepada Allah melalui shalat dan doa.

Dengan begitu, fenomena astronomi tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperdalam keimanan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Hijaukan Gurun dan Lindungi Laut Merah, Ambisi Besar Menuju Visi 2030 Jadi Sorotan Dunia
Arab Saudi Hijaukan Gurun dan Lindungi Laut Merah, Ambisi Besar Menuju Visi 2030 Jadi Sorotan Dunia
Aktual
Menag: Santri Harus Tampil Jadi Pemimpin Bangsa, Pesantren Kunci Hadapi Tantangan Zaman
Menag: Santri Harus Tampil Jadi Pemimpin Bangsa, Pesantren Kunci Hadapi Tantangan Zaman
Aktual
Wamenhaj: Hampir 17.000 Haji Tempati Hotel bintang 4 dan 5 di Madinah
Wamenhaj: Hampir 17.000 Haji Tempati Hotel bintang 4 dan 5 di Madinah
Aktual
Berburu Oleh-oleh Haji Murah di Pasar Kakiyah, 'Tanah Abang' Makkah
Berburu Oleh-oleh Haji Murah di Pasar Kakiyah, "Tanah Abang" Makkah
Aktual
Polisi Dubai Tutup Jalan Tol demi Bantu Mobil Mogok, Videonya Viral
Polisi Dubai Tutup Jalan Tol demi Bantu Mobil Mogok, Videonya Viral
Aktual
Manfaat Masjid Terdaftar di Simas Kemenag, Dapat Bantuan hingga Mudah Ditemukan di Google Maps
Manfaat Masjid Terdaftar di Simas Kemenag, Dapat Bantuan hingga Mudah Ditemukan di Google Maps
Aktual
Kebakaran di Hotel Jamaah Haji Indonesia di Makkah, PPIH Pastikan Semua Jamaah Selamat
Kebakaran di Hotel Jamaah Haji Indonesia di Makkah, PPIH Pastikan Semua Jamaah Selamat
Aktual
Nahnu NU: Dari Ego Sektoral Menuju Harmoni Kolektif
Nahnu NU: Dari Ego Sektoral Menuju Harmoni Kolektif
Aktual
Wamenhaj Minta Petugas Siaga Penuh Hadapi Kedatangan Jemaah Setelah Armuzna
Wamenhaj Minta Petugas Siaga Penuh Hadapi Kedatangan Jemaah Setelah Armuzna
Aktual
Wamenhaj Pastikan Layanan Prima akan Sambut Jemaah Haji Gelombang Kedua di Madinah
Wamenhaj Pastikan Layanan Prima akan Sambut Jemaah Haji Gelombang Kedua di Madinah
Aktual
75 Kloter Sudah Pulang, Kemenhaj Tegaskan Larangan Bawa Zamzam dalam Koper
75 Kloter Sudah Pulang, Kemenhaj Tegaskan Larangan Bawa Zamzam dalam Koper
Aktual
Pandangan MUI soal Mitos di Bulan Muharram, Umat Islam Diminta Berpegang pada Akidah
Pandangan MUI soal Mitos di Bulan Muharram, Umat Islam Diminta Berpegang pada Akidah
Aktual
Mengenal Bulan Muharram, Pembuka Tahun Hijriah yang Mulia dan Diharamkan untuk Berperang
Mengenal Bulan Muharram, Pembuka Tahun Hijriah yang Mulia dan Diharamkan untuk Berperang
Aktual
KH Manarul Hidayat Restui Gus Hery Haryanto Azumi Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU
KH Manarul Hidayat Restui Gus Hery Haryanto Azumi Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU
Aktual
Kebakaran Hotel Al Hidayah di Makkah, Bagaimana Nasib Jemaah Haji Indonesia?
Kebakaran Hotel Al Hidayah di Makkah, Bagaimana Nasib Jemaah Haji Indonesia?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com