Editor
KOMPAS.com - Fenomena langit langka akan kembali terjadi pada 17 Februari 2026. Pada tanggal tersebut, dunia akan menyaksikan gerhana matahari cincin atau annular solar eclipse yang menampilkan pemandangan “ring of fire”—cincin cahaya terang mengelilingi siluet bulan.
Menurut laporan astronomi internasional yang dilansir dari Space, proses gerhana dimulai pukul 09.56 GMT dan mencapai puncaknya pada 12.12 GMT.
Pada fase maksimum, sekitar 96 persen piringan matahari akan tertutup oleh bulan. Namun, jalur utama gerhana cincin hanya melintasi wilayah sangat terbatas di Antartika, seperti Concordia Research Station dan Mirny Station.
Masyarakat di sebagian Afrika bagian selatan dan ujung Amerika Selatan hanya dapat menyaksikan gerhana sebagian.
Baca juga: Dari Mitos ke Tauhid: Pandangan Islam tentang Fenomena Gerhana
Sementara di wilayah lain, termasuk Indonesia, fenomena ini bisa diikuti melalui siaran daring yang biasanya disediakan lembaga antariksa.
Gerhana matahari terjadi saat fase bulan baru, ketika bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari. Pada gerhana total, ukuran tampak bulan cukup besar untuk menutupi matahari sepenuhnya.
Namun pada gerhana cincin, posisi bulan sedikit lebih jauh dari Bumi sehingga tampak lebih kecil dari matahari.
Akibatnya, bagian tepi matahari tetap terlihat membentuk lingkaran cahaya—efek yang dikenal sebagai "ring of fire" atau cincin api.
Dalam tradisi Islam, gerhana bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan tanda kebesaran Allah SWT.
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak panik, tetapi memperbanyak ibadah ketika gerhana terjadi.
Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:
1. Melaksanakan shalat gerhana (shalat khusuf/ kusuf) secara berjamaah di masjid.
2. Memperbanyak doa, istighfar, dan zikir sebagai bentuk ketundukan kepada Allah.
3. Bersedekah serta meningkatkan kepedulian sosial.
4. Menghindari mitos atau kepercayaan yang tidak berdasar syariat.
Ulama menegaskan bahwa gerhana bukan pertanda musibah atau kelahiran seseorang, melainkan pengingat agar manusia merenungi keteraturan ciptaan Allah.
Bagi yang ingin mengikuti fenomena ini secara ilmiah, keselamatan mata harus menjadi prioritas. Para ahli mengingatkan:
NASA dalam situs resminya, nasa.gov, mencatat bahwa 2026 akan menjadi tahun istimewa bagi para pengamat langit. Selain gerhana matahari 17 Februari, ada sederet fenomena menarik:
Rangkaian peristiwa ini mengingatkan manusia bahwa alam semesta bergerak dengan ketetapan yang sangat presisi.
Bagi umat Islam, gerhana matahari 17 Februari 2026 seharusnya menjadi momentum tafakur dan peningkatan ibadah, bukan sekadar tontonan.
Baca juga: 7 Hikmah Gerhana: Bukti Kekuasaan Allah hingga Pengingat Hari Kiamat
Di balik keindahan cincin api di langit, tersimpan pesan tentang kebesaran Sang Pencipta.
Seperti sabda Nabi, saat gerhana terjadi hendaknya manusia bersegera mendekat kepada Allah melalui shalat dan doa.
Dengan begitu, fenomena astronomi tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperdalam keimanan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang