KOMPAS.com - Puasa Ramadhan tidak hanya menjadi kewajiban individu Muslim yang telah baligh, tetapi juga momentum pendidikan ibadah bagi anak-anak.
Dalam tradisi Islam, pembiasaan puasa sejak usia dini dipandang sebagai bagian penting dari proses pembentukan karakter religius dan kedisiplinan spiritual.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan pengendalian diri, kesabaran, dan kepatuhan terhadap aturan syariat.
Karena itu, pendidikan puasa pada anak perlu dilakukan secara bertahap, persuasif, dan sesuai dengan tahap perkembangan psikologis mereka.
Dalam Al-Qur’an, kewajiban puasa ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menyebutkan bahwa tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan.
Ulama kontemporer memaknai ayat ini sebagai penegasan bahwa puasa merupakan instrumen pendidikan moral dan spiritual.
Dalam buku Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Abdullah Nashih Ulwan dijelaskan bahwa ibadah memiliki fungsi pedagogis, yaitu membentuk kepribadian anak agar terbiasa hidup disiplin, jujur, dan bertanggung jawab.
Puasa melatih anak untuk mengendalikan keinginan, menghargai waktu, serta memahami makna menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar.
Baca juga: Ramadhan 2026: Apakah Sekolah Libur 1 Bulan Selama Puasa?
Secara fiqih, puasa memang baru diwajibkan setelah baligh. Namun para ulama sepakat bahwa pembiasaan ibadah sebelum baligh merupakan bentuk pendidikan preventif agar anak tidak merasa berat saat kewajiban syariat mulai berlaku.
Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in menjelaskan bahwa anak dianjurkan diperintah berpuasa sejak usia tujuh tahun jika sudah mampu dan dibiasakan lebih tegas ketika menginjak usia sepuluh tahun.
Tujuan utama dari pembiasaan ini bukan pemaksaan, melainkan latihan mental agar ibadah menjadi kebiasaan yang melekat.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip psikologi pendidikan modern yang menyebut bahwa kebiasaan positif yang ditanamkan sejak kecil akan lebih mudah bertahan hingga dewasa.
Praktik pendidikan puasa sudah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rubayyi’ binti Mu’awwidz menceritakan bahwa para sahabat melatih anak-anak mereka berpuasa pada hari Asyura dan Ramadhan.
Untuk mengalihkan rasa lapar, mereka memberikan mainan sederhana agar anak tetap terhibur hingga waktu berbuka.
Syekh Ahmad Al-Qasthalani dalam Irshad al-Sari menafsirkan praktik ini sebagai bentuk latihan ketaatan.
Anak-anak bahkan diajak ke masjid agar terbiasa berada di lingkungan ibadah dan merasakan atmosfer spiritual sejak dini.
Dari sini terlihat bahwa metode pendidikan yang diterapkan para sahabat bersifat edukatif, kreatif, dan penuh empati, bukan dengan pendekatan keras.
Dalam melatih anak berpuasa, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Pertama, menyesuaikan dengan kemampuan fisik anak.
Tidak semua anak memiliki daya tahan yang sama. Orang tua perlu memahami batas kemampuan dan tidak memaksakan puasa penuh sejak awal.
Kedua, menanamkan makna puasa secara sederhana. Anak perlu memahami bahwa puasa bukan hukuman, melainkan ibadah yang mendatangkan pahala dan membuat mereka menjadi pribadi yang lebih sabar.
Ketiga, mengutamakan pendekatan emosional. Abdullah Nashih Ulwan menekankan bahwa pendidikan berbasis kasih sayang lebih efektif dibanding pendekatan otoriter dalam membentuk karakter religius anak.
Baca juga: Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Begini Cara Persiapan Ramadan yang Tepat
Salah satu strategi efektif adalah memulai dengan puasa bertahap. Anak bisa diajak berpuasa setengah hari, lalu perlahan ditingkatkan hingga mampu menjalani puasa penuh. Metode ini membantu tubuh beradaptasi dan mencegah kelelahan berlebihan.
Memberikan aktivitas positif juga sangat membantu. Anak dapat diajak membaca buku Islami, mewarnai tema Ramadhan, menghafal doa pendek atau mengikuti kegiatan masjid yang ramah anak. Aktivitas ini berfungsi sebagai pengalih perhatian sekaligus sarana pembelajaran.
Orang tua juga dapat memberikan penghargaan non-material, seperti pujian, pelukan, atau sertifikat sederhana.
Dalam psikologi pendidikan, bentuk apresiasi ini memperkuat motivasi intrinsik anak tanpa menumbuhkan mental transaksional.
Teladan orang tua memiliki pengaruh besar dalam membentuk sikap anak terhadap puasa. Anak yang melihat orang tuanya berpuasa dengan gembira, menjaga lisan, dan memperbanyak ibadah akan cenderung meniru perilaku tersebut.
Dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam karya Hasan Langgulung dijelaskan bahwa keteladanan adalah metode pendidikan paling efektif karena anak belajar melalui observasi dan imitasi.
Karena itu, orang tua tidak hanya mengajak anak berpuasa, tetapi juga menunjukkan bahwa puasa dijalani dengan penuh kesadaran, bukan keluhan.
Aspek kesehatan tidak boleh diabaikan. Sahur dan berbuka perlu disiapkan dengan menu bergizi seimbang agar kebutuhan energi anak tetap terpenuhi.
Dokter dan pakar gizi menyarankan agar anak yang berpuasa mengonsumsi karbohidrat kompleks, protein, buah, dan air yang cukup. Pola tidur juga perlu dijaga agar anak tetap segar dan tidak mudah lelah.
Jika anak menunjukkan tanda kelelahan berlebihan atau dehidrasi, orang tua perlu bersikap fleksibel dan memprioritaskan kesehatan.
Baca juga: Bulan Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Hitung Mundur dan Persiapan Menyambut Ramadhan 1447 H
Ramadhan sebaiknya dikenalkan sebagai bulan penuh kegembiraan spiritual. Orang tua dapat menciptakan suasana rumah yang hangat dengan kegiatan bersama seperti buka puasa keluarga, shalat berjamaah, dan membaca kisah nabi.
Menurut Mohammad Iqbal Ghazali dalam buku Amalan-Amalan di Bulan Suci Ramadhan, pengalaman positif selama Ramadhan akan membekas dalam memori anak dan membentuk asosiasi emosional yang baik terhadap ibadah.
Selain menahan lapar, puasa juga mengajarkan empati terhadap orang yang kurang mampu. Anak dapat diajak ikut berbagi takjil, menyisihkan uang jajan untuk sedekah atau mengantarkan bantuan ke tetangga yang membutuhkan.
Kegiatan ini membantu anak memahami bahwa puasa bukan hanya ibadah personal, tetapi juga sarana membangun kepedulian sosial.
Melatih anak berpuasa bukan sekadar target agar mereka mampu menahan lapar, tetapi bagian dari proses panjang pembentukan karakter Muslim yang tangguh, sabar, dan bertanggung jawab.
Seperti ditegaskan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ibadah yang dibiasakan sejak kecil akan membentuk hati yang lembut dan jiwa yang mudah menerima kebenaran.
Dengan pendekatan yang tepat, Ramadhan dapat menjadi madrasah pertama bagi anak untuk belajar tentang makna ketaatan, kesabaran, dan kasih sayang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang