KOMPAS. com - Umat Islam memasuki bulan Syaban 1447 Hijriah dengan semangat memperbanyak amal saleh sebagai persiapan spiritual menuju Ramadan.
Syaban bukan sekadar bulan transisi, tetapi memiliki kedudukan khusus dalam tradisi ibadah Islam.
Salah satu amalan yang paling dianjurkan pada bulan ini adalah puasa sunnah,yang secara konsisten dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam berbagai riwayat hadis dan kitab klasik, puasa Syaban disebut sebagai ibadah yang sarat nilai keutamaan, baik dari sisi spiritual, pembinaan diri, maupun persiapan fisik dan mental menjelang bulan suci.
Bulan Syaban berada di antara Rajab dan Ramadan. Posisi ini membuat Syaban kerap luput dari perhatian sebagian umat. Padahal, Rasulullah SAW justru memberikan perhatian besar terhadap bulan ini.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Sayyidah Aisyah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah sebanyak puasa beliau di bulan Syaban. Bahkan, pada beberapa kesempatan, Nabi hampir mengisi seluruh hari Syaban dengan puasa.
Para ulama menjelaskan bahwa Syaban merupakan masa persiapan ruhani. Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, disebutkan bahwa Syaban berfungsi sebagai “latihan spiritual” agar seorang Muslim memasuki Ramadan dalam kondisi iman yang stabil dan jiwa yang terlatih menahan hawa nafsu.
Baca juga: Amalan Syaban: Persiapan Spiritual Menyambut Ramadan
Ulama besar, Syekh Nawawi al-Bantani, menjelaskan keutamaan puasa Syaban dalam kitab Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadiîn.
Dalam cetakan Dârul Fikr Beirut halaman 197, beliau menyebutkan bahwa puasa Syaban termasuk ibadah sunnah yang sangat dicintai Rasulullah SAW.
Syekh Nawawi menegaskan bahwa kecintaan Nabi terhadap Syaban menjadi dasar keutamaan puasa pada bulan tersebut.
Menurut beliau, orang yang membiasakan puasa Syaban akan memperoleh syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat.
Penjelasan ini memperlihatkan bahwa puasa Syaban bukan hanya berdimensi ibadah fisik, tetapi juga memiliki implikasi eskatologis dalam kehidupan akhirat.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam An-Nasa’i, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Syaban adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, Nabi menyukai amal tersebut diangkat dalam keadaan beliau sedang berpuasa.
Para ulama tafsir dan hadis memaknai pernyataan ini sebagai bentuk kesadaran spiritual Rasulullah bahwa momentum Syaban adalah waktu evaluasi amal tahunan. Puasa menjadi sarana penyucian diri agar laporan amal disertai kondisi ruhani yang bersih.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq juga disebutkan bahwa puasa Syaban memiliki fungsi psikologis dan spiritual sebagai jembatan transisi menuju Ramadan, sehingga tubuh dan jiwa tidak mengalami kejutan ibadah yang mendadak.
Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Mengetuk Pintu Ampunan di Bulan yang Sering Terlupakan
Puasa Syaban dilaksanakan sebagaimana puasa sunnah pada umumnya. Niat dapat dilakukan sejak malam hari atau pada siang hari sebelum waktu zawal, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Lafal niat yang biasa digunakan adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma sya’bâna lillâhi ta’âlâ
Artinya: “Saya niat puasa Syaban karena Allah Ta’ala.”
Setelah niat, dianjurkan makan sahur meskipun dalam jumlah sedikit. Rasulullah SAW menegaskan bahwa sahur mengandung keberkahan.
Selama berpuasa, seorang Muslim tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, serta perilaku dari perbuatan yang dapat mengurangi nilai pahala puasa.
Saat waktu maghrib tiba, umat Islam dianjurkan menyegerakan berbuka puasa sebagaimana sunnah Rasulullah SAW.
Syaban juga dikenal dengan keberadaan malam Nisfu Syaban yang jatuh pada pertengahan bulan.
Dalam sejumlah riwayat, malam ini disebut sebagai waktu turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa malam Nisfu Syaban termasuk malam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah seperti doa, zikir, dan shalat sunnah. Puasa di siang harinya menjadi pelengkap kesempurnaan ibadah malam tersebut.
Korelasi antara puasa dan ibadah malam ini menunjukkan bahwa Syaban bukan hanya tentang satu amalan, tetapi membentuk ekosistem spiritual yang utuh.
Baca juga: Doa Masuk Bulan Syaban, Menyiapkan Hati Menyambut Ramadhan
Secara sosiologis dan spiritual, puasa Syaban berfungsi sebagai tahap adaptasi sebelum memasuki Ramadan.
Dalam buku Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, disebutkan bahwa kebiasaan ibadah sebelum momentum besar akan memperkuat konsistensi amal saat puncak ibadah tiba.
Puasa Syaban membantu umat Islam menata ulang disiplin ibadah, melatih kesabaran, serta membangun kesiapan mental agar Ramadan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi momentum transformasi diri.
Puasa Syaban merupakan ibadah sunnah yang memiliki dasar kuat dalam hadis Nabi, pendapat ulama, serta praktik generasi salaf.
Keutamaannya tidak hanya terletak pada pahala, tetapi juga pada fungsi pembinaan spiritual dan persiapan menuju Ramadan.
Dengan menghidupkan puasa Syaban, umat Islam diajak meneladani Rasulullah SAW, membersihkan jiwa, serta mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan kualitas iman yang lebih matang dan kesadaran ibadah yang lebih mendalam.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang