Editor
KOMPAS.com - Suara itu tidak hanya terdengar di pelataran Masjidil Haram. Ia menembus dinding kamar hotel, lorong-lorong pasar, bahkan menyentuh hati jutaan umat Islam yang hanya bisa mendengarnya dari siaran langsung televisi dan internet.
Adzan dari Makkah bukan sekadar penanda waktu salat. Bagi banyak Muslim, ia adalah panggilan ruhani yang menghadirkan rasa haru, rindu, sekaligus ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ketika muazin Masjidil Haram melantunkan, “Allahu Akbar, Allahu Akbar…”, suasana kota seolah berubah. Aktivitas melambat. Langkah-langkah dipercepat menuju masjid. Hati-hati yang semula sibuk oleh urusan dunia, mendadak hening.
Baca juga: Doa Sesudah Adzan Lengkap dengan Arti dan Keutamaannya
Banyak jamaah mengaku, adzan di Makkah terasa berbeda. Bukan karena nadanya lebih tinggi atau lebih merdu, tetapi karena ia berkumandang dari tempat paling suci di muka bumi—di sisi Ka’bah, kiblat umat Islam.
Bagi mereka yang pernah menunaikan haji atau umrah, suara adzan itu menjadi memori yang melekat kuat. Bahkan bertahun-tahun setelah pulang ke tanah air, ketika mendengar rekamannya saja, kenangan itu kembali hidup: langkah tergesa menuju shaf, angin gurun yang hangat, dan pandangan pertama ke arah Ka’bah.
Adzan Makkah juga menjadi penghubung emosional umat Islam di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, tidak sedikit orang yang sengaja memutar siaran langsung dari Masjidil Haram saat waktu salat tiba, sekadar untuk merasakan suasana spiritual yang sama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa adzan bukan hanya syiar, tetapi juga energi spiritual. Ia mengingatkan manusia pada tujuan hidupnya, memanggilnya kembali kepada Allah di tengah hiruk pikuk dunia.
Dalam ajaran Islam, adzan memang memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW menyebut bahwa muazin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat, sebagai simbol kemuliaan dan kehormatan atas tugasnya menyeru manusia kepada kebaikan.
Ketika adzan itu berkumandang dari Makkah, kemuliaan itu terasa berlipat. Sebab ia lahir dari tanah yang setiap jengkalnya diberkahi, dari masjid yang pahalanya dilipatgandakan.
Tak heran jika banyak orang meneteskan air mata saat pertama kali mendengarnya secara langsung. Ada rasa kecil di hadapan kebesaran Allah, ada rasa syukur bisa berada di tempat yang selama ini hanya dilihat di layar.
Baca juga: Keutamaan dan Cara Menjawab Adzan dengan Benar: Panduan Lengkap untuk Umat Islam
Adzan Makkah pada akhirnya bukan hanya tentang suara. Ia adalah pengalaman batin. Ia adalah panggilan yang tidak hanya sampai ke telinga, tetapi menembus ke dalam hati.
Dan bagi umat Islam di mana pun berada, setiap kali suara itu terdengar, ia seperti pesan lembut dari Tanah Suci: sudahkah kita memenuhi panggilan-Nya?
Berikut video adzan Makkah dengan muadzin Abdul Aziz Zahrani
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang