Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Momen Haru Saat Putra Deden Maulana Lantunkan Surat Al-Quran Depan Peti Jenazah Ayahnya Korban Pesawat ATR

Kompas.com, 24 Januari 2026, 10:21 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Suasana hening menyelimuti Auditorium Madidihang Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis pagi (22/1/2026).

Di hadapan peti jenazah yang terbaring rapi dibalut bendera merah putih, seorang anak berdiri dengan suara bergetar namun tegar. Ia melantunkan Surat Al-Insyirah.

Setiap ayat yang keluar dari bibirnya seperti memeluk ruangan yang dipenuhi duka. Itulah Asensio Maulana, putra dari Deden Maulana, Penata Muda Tingkat I di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Deden bukan sedang bepergian. Ia sedang bertugas.

Pesawat yang ditumpanginya bersama dua pegawai KKP lainnya merupakan bagian dari misi patroli udara pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan, menggunakan pesawat sewaan dari Indonesia Air Transport.

Baca juga: Doa Naik Pesawat dalam Islam dan Keistimewaan Doa Musafir

Pesawat itu jatuh pada 17 Januari 2026 di medan pegunungan terjal yang menyulitkan proses pencarian dan evakuasi.

Jenazah Deden ditemukan pertama kali oleh Tim SAR pada 18 Januari di jurang sedalam sekitar 200 meter. Namun karena cuaca ekstrem dan kontur lokasi yang sulit dijangkau, proses evakuasi baru dapat dilakukan menggunakan helikopter Basarnas pada 21 Januari pagi.

Malam harinya, jenazah teridentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan di Makassar dan langsung diserahkan kepada keluarga.

Keesokan paginya, jenazah diterbangkan ke Jakarta.

KKP Berduka

Dalam siaran persnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyampaikan duka mendalam atas kepergian Deden Maulana.

“Mewakili keluarga besar KKP, saya mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga Deden Maulana. Beliau dikenal sebagai pegawai yang ulet, dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Duka mendalam juga kami sampaikan untuk keluarga pramugari maskapai Indonesia Air Transport, Florencia Lolita Wibisono,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Deden merupakan korban kedua yang berhasil diidentifikasi oleh tim DVI Polda Sulsel. Korban pertama adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono.

Sementara satu korban lain yang telah ditemukan masih dalam proses identifikasi, dan tujuh korban lainnya masih dalam pencarian di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Menteri Trenggono memastikan KKP akan terus mendampingi keluarga Deden Maulana, serta keluarga Ferry Irawan dan Yoga Nauval, dua pegawai KKP lain yang turut berada dalam pesawat tersebut.

Penghormatan Terakhir Secara Kedinasan

Setibanya di Jakarta, jenazah Deden disemayamkan di kampus AUP Pasar Minggu sebelum diberangkatkan ke Garut untuk dimakamkan. Prosesi pelepasan dilakukan secara kedinasan, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian almarhum.

KKP juga memberikan kenaikan pangkat anumerta dari Penata Muda Tk I (III/b) menjadi Penata (III/c).

Bukan hanya itu.

Untuk putra almarhum, KKP memberikan beasiswa pendidikan hingga perguruan tinggi. Seluruh hak almarhum, termasuk asuransi kecelakaan kerja, dipastikan diserahkan langsung kepada keluarga.

“Semoga segera ada kabar baik dari Tim SAR Gabungan, dan kami masih berharap keajaiban untuk pegawai KKP maupun kru pesawat yang masih dalam pencarian. Teriring doa juga untuk keselamatan dan kesehatan seluruh tim gabungan yang tak kenal lelah membantu proses pencarian para korban,” pungkas Menteri Trenggono.

Ayat yang Menguatkan

Di tengah seluruh penghormatan itu, momen paling menggetarkan justru datang dari seorang anak yang berdiri di sisi peti ayahnya.

Alam nasyrah laka shadrak…

"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?"

Baca juga: Doa Naik Pesawat Lengkap Arab, Latin, dan Artinya, Termasuk Doa Saat Turbulensi

Surat Al-Insyirah yang dilantunkan Asensio seolah menjadi pesan tak tertulis: di balik musibah, ada kekuatan iman yang sedang diuji. Di balik kehilangan, ada ketegaran yang lahir lebih cepat dari usianya.

Deden Maulana gugur saat menjalankan tugas negara. Namun di ruang duka itu, yang terlihat bukan hanya kepergian seorang pegawai, melainkan kehilangan seorang ayah — yang diantar pulang oleh doa anaknya sendiri.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Aktual
Hukum Trading Forex dan Kripto dalam Islam, Ini Penjelasan MUI
Hukum Trading Forex dan Kripto dalam Islam, Ini Penjelasan MUI
Aktual
Bukan Superman, tapi Superteam: Cara Petugas Haji 2026 Siap Hadapi Puncak Haji di Armuzna
Bukan Superman, tapi Superteam: Cara Petugas Haji 2026 Siap Hadapi Puncak Haji di Armuzna
Aktual
Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Bisa Dipesan Besok, Begini Cara Mudah Pesanannya
Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Bisa Dipesan Besok, Begini Cara Mudah Pesanannya
Aktual
Beasiswa S2 Double Degree Kemenag–LPDP 2026 Dibuka, Kuliah di Indonesia dan Australia
Beasiswa S2 Double Degree Kemenag–LPDP 2026 Dibuka, Kuliah di Indonesia dan Australia
Aktual
Amalan Bulan Syaban: Waktu Mustajab Sebelum Berbuka Puasa
Amalan Bulan Syaban: Waktu Mustajab Sebelum Berbuka Puasa
Doa dan Niat
10 Hari Terendam Rob, Santri di Bekasi Terbantu Paket Logistik Baznas
10 Hari Terendam Rob, Santri di Bekasi Terbantu Paket Logistik Baznas
Aktual
Sholat Nisfu Syaban: Waktu Pelaksanaan dan Bacaan Niatnya
Sholat Nisfu Syaban: Waktu Pelaksanaan dan Bacaan Niatnya
Doa dan Niat
Momen Haru Saat Putra Deden Maulana Lantunkan Surat Al-Quran Depan Peti Jenazah Ayahnya Korban Pesawat ATR
Momen Haru Saat Putra Deden Maulana Lantunkan Surat Al-Quran Depan Peti Jenazah Ayahnya Korban Pesawat ATR
Aktual
Wamenhaj: Perintah Presiden Prabowo, Haji 2026 Harus Berpihak pada Perempuan dan Lansia
Wamenhaj: Perintah Presiden Prabowo, Haji 2026 Harus Berpihak pada Perempuan dan Lansia
Aktual
Bolehkah Puasa Setelah Nisfu Syaban? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad untuk yang Punya Utang Puasa
Bolehkah Puasa Setelah Nisfu Syaban? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad untuk yang Punya Utang Puasa
Aktual
Doa Malam Nisfu Syaban: Amalan di Waktu Penuh Ampunan
Doa Malam Nisfu Syaban: Amalan di Waktu Penuh Ampunan
Doa dan Niat
Doa Saat Angin Kencang Sesuai Sunnah Rasulullah, Mohon Kebaikan dan Perlindungan Allah
Doa Saat Angin Kencang Sesuai Sunnah Rasulullah, Mohon Kebaikan dan Perlindungan Allah
Doa dan Niat
Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Catat Tanggalnya dan Amalan yang Dianjurkan
Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Catat Tanggalnya dan Amalan yang Dianjurkan
Aktual
Penyebab Suhu Anjlok -3 Derajat di Arab Saudi, Fenomena Langka di Negeri Gurun
Penyebab Suhu Anjlok -3 Derajat di Arab Saudi, Fenomena Langka di Negeri Gurun
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com