KOMPAS.com - Umat Muslim di Arab Saudi diperkirakan akan menjalani pengalaman Ramadhan yang relatif lebih ringan pada 2026.
Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah diproyeksikan bertepatan dengan musim dingin, sehingga durasi puasa harian menjadi lebih singkat dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini menjadi kabar yang cukup melegakan, terutama bagi jamaah yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, termasuk para pekerja sektor pelayanan haji dan umrah, serta jutaan jamaah yang beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Dalam sistem kalender Hijriah, Ramadhan terus bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal setiap tahun dibandingkan kalender Masehi.
Setelah beberapa tahun jatuh di puncak musim panas dengan suhu ekstrem, Ramadhan 2026 akan memasuki fase musim dingin di Arab Saudi.
Pakar astronomi Arab Saudi, Abdullah Al-Mosned, memperkirakan durasi puasa di berbagai wilayah Saudi pada Ramadhan 1447 H berkisar antara 12 hingga 13 jam per hari.
Angka ini jauh lebih pendek dibandingkan puasa musim panas yang dapat mencapai 14 hingga 15 jam, bahkan lebih di beberapa wilayah.
Durasi yang lebih singkat, ditambah suhu udara yang lebih sejuk, diyakini akan memberi kenyamanan lebih bagi umat Muslim dalam menjalani ibadah puasa dan rangkaian amalan Ramadhan lainnya.
Baca juga: Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan Pakar BRIN
Musim dingin membawa suhu yang relatif stabil dan tidak ekstrem. Kondisi ini dinilai sangat mendukung kekhusyukan ibadah, baik pada siang hari saat berpuasa maupun malam hari ketika umat Muslim melaksanakan salat Tarawih, qiyamul lail, dan i’tikaf.
Selain itu, durasi puasa yang lebih pendek juga membantu menjaga stamina, terutama bagi jamaah lansia dan mereka yang memiliki aktivitas fisik tinggi.
Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang menjadikan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai beban yang memberatkan.
Allah SWT berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
YurīduLlōhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra.
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini kerap dikaitkan dengan ibadah puasa, menegaskan bahwa setiap ketentuan dalam syariat Islam selalu mengandung hikmah dan kemudahan.
Meski secara astronomi Ramadhan 1447 H telah diproyeksikan jatuh pada Februari 2026, penetapan resmi awal puasa di Arab Saudi tetap menunggu hasil rukyatul hilal.
Tradisi ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
Ṣūmū li ru’yatihī wa afṭirū li ru’yatihī.
Artinya: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Asosiasi Astronomi Jeddah juga telah menyampaikan analisis awal terkait posisi bulan menjelang Ramadhan. Namun, keputusan resmi tetap berada di tangan otoritas keagamaan setelah pengamatan langsung.
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Memaknai Keutamaan Bulan Syaban
Februari disebut sebagai bulan yang kaya fenomena astronomi. Dilansir dari theislamicinformation, Asosiasi Astronomi Jeddah menjelaskan bahwa fase purnama yang terjadi di awal Februari dapat memengaruhi pengamatan hilal karena cahaya bulan yang sangat terang.
Ketua Asosiasi Astronomi Jeddah, Majid Abu Zahrah, menjelaskan bahwa istilah “Bulan Salju” yang sering dilekatkan pada purnama Februari bukanlah istilah ilmiah, melainkan sebutan tradisional dari masyarakat tertentu dan tidak memengaruhi karakteristik fisik bulan.
Dalam astronomi modern, fase bulan ditentukan oleh posisi geometris bulan terhadap Matahari dan Bumi, bukan oleh musim atau kondisi cuaca di permukaan bumi.
Abu Zahrah juga menyoroti potensi terjadinya fenomena okultasi, tertutupnya bulan terhadap bintang Regulus yang dapat diamati di beberapa wilayah dunia, meski di Arab Saudi hanya akan tampak sebagai konjungsi.
Dalam buku Astronomi Islam karya Prof. Susiknan Azhari, dijelaskan bahwa keteraturan peredaran bulan dan Matahari merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang menjadi dasar penentuan waktu ibadah dalam Islam.
Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ
Huwal-ladzī ja‘ala asy-syamsa ḍiyā’an wal-qamara nūrā wa qaddarahu manāzil.
Artinya: “Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan bulan bercahaya serta Dia menetapkan manzilah-manzilahnya.” (QS. Yunus: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa kalender ibadah umat Islam sangat erat dengan keteraturan kosmik yang telah ditetapkan Allah sejak awal penciptaan.
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Siap
Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh di musim dingin menghadirkan harapan baru, ibadah yang lebih nyaman, stamina yang lebih terjaga, dan peluang memperdalam kualitas spiritual.
Namun, para ulama mengingatkan bahwa ringan atau beratnya puasa sejatinya bukan semata soal durasi dan cuaca, melainkan kesiapan hati dan niat dalam menjalankannya.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab karya M. Quraish Shihab, Ramadhan selalu datang sebagai sarana pendidikan ruhani, apa pun kondisi alam yang menyertainya.
Kini, ketika Ramadhan 2026 kian mendekat, umat Muslim di Arab Saudi dan dunia diingatkan kembali bahwa setiap perubahan musim bukan hanya fenomena alam, tetapi juga undangan untuk memperbarui semangat ibadah dengan rasa syukur, kesabaran, dan kesadaran penuh akan makna puasa itu sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang