KOMPAS.com - Bagi umat Islam, hari Jumat menempati posisi istimewa yang tidak dimiliki hari-hari lain.
Ia bukan sekadar penutup pekan, tetapi hari yang sarat dengan nilai spiritual, sejarah penciptaan manusia, hingga momentum dikabulkannya doa-doa.
Di balik kesibukan aktivitas dunia, terdapat satu rahasia besar pada hari Jumat yang kerap luput disadari, adanya satu waktu singkat di mana doa seorang hamba tidak akan ditolak oleh Allah SWT. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kapan waktu itu terjadi?
Para ulama sejak dahulu hingga kini terus membahasnya. Dari berbagai pendapat yang berkembang, satu waktu disebut paling kuat dan banyak dijadikan pegangan, yaitu setelah salat Ashar hingga menjelang Maghrib.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Khatib
Keutamaan hari Jumat dijelaskan dalam banyak hadis sahih. Dalam kitab Syarah Hisnul Muslim karya Syaikh Majdi Abdul Wahab Al-Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah SAW menegaskan posisi Jumat sebagai hari terbaik dalam sepekan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan darinya, dan pada hari itu pula kiamat akan terjadi." (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Jumat bukan hari biasa, melainkan hari yang menyimpan rangkaian peristiwa besar dalam sejarah kemanusiaan dan akhir zaman.
Baca juga: 5 Keistimewaan Hari Jumat dalam Islam, Ini Hadits yang Menjelaskan Kemuliaannya
Rahasia utama hari Jumat terletak pada satu waktu mustajab untuk berdoa. Hal ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:
"Pada hari Jumat terdapat satu waktu. Jika seorang Muslim memohon kepada Allah bertepatan dengan waktu itu, niscaya Allah mengabulkan permohonannya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Menariknya, Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat singkat, menandakan betapa berharganya momen ini.
Dalam literatur fikih dan hadis, terdapat beragam pendapat ulama mengenai kapan tepatnya waktu mustajab tersebut terjadi.
Dalam kitab Syu‘abul Iman karya Imam Al-Baihaqi dan Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, perbedaan pendapat itu dirangkum dengan cukup detail.
Sebagian ulama berpendapat waktu mustajab terjadi:
Namun, pendapat yang paling banyak dianut dan dinilai paling kuat adalah waktu setelah salat Ashar hingga matahari terbenam.
Pendapat ini didasarkan pada hadis berikut:
"Hari Jumat itu ada dua belas jam. Tidaklah seorang Muslim memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu, kecuali Allah akan mengabulkannya. Maka carilah waktu itu pada akhir waktu setelah Ashar." (HR Abu Dawud)
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Siap
Dalam buku Agar Hidup Berkah karya Habib Syarief Muhammad Alaydrus, dijelaskan bahwa waktu sore hari menjelang Maghrib merupakan saat di mana hati manusia cenderung lebih tenang, reflektif, dan dekat dengan kesadaran spiritual.
Selain itu, secara psikologis, sore hari adalah waktu merenungi perjalanan hidup, kesalahan, dan harapan. Karena itulah doa yang dipanjatkan pada waktu ini sering lahir dari ketulusan terdalam.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
YurīduLlōhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra.
Artinya: "Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu."
(QS Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menguatkan bahwa Islam memberikan ruang-ruang kemudahan bagi hamba-Nya untuk mendekat, termasuk melalui waktu doa yang penuh rahmat.
Para ulama sepakat bahwa pada waktu mustajab ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, dan permohonan kebaikan dunia dan akhirat.
Dalam kitab Nurul Lum‘ah dan Hisnul Muslim, terdapat doa-doa yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW dan para sahabat, di antaranya:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي ، وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ أَمَتِكَ ، وَفِي قَبْضَتِكَ ، وَنَاصِيَتِي بِيَدِكَ . أَمْسَيْتُ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ بِنِعْمَتِكَ ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبُ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma Anta Rabbi laa ilaaha illa Anta khalaqtani, wa ana abduka wabnu amatika wafi qabdhotika wa nasiyati bi yadika. Amsaitu ala ahdika wa wa'dika mastatho'tu a'udzu bika min syarri ma shona'tu. Abu'u bi ni'matika wa abu'u bidzanbi faghfirly dzunubi. Innahu la yaghfirudz dzunuba illa Anta.
Artinya: "Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada tuhan yang aku sembah kecuali Engkau yang telah menciptakanku. Menciptakanku sebagai hamba-Mu dan anak dari hamba sahaya-Mu. Hidupku ada dalam genggaman-Mu. Aku hidup atas janji dan ancaman-Mu. Selama aku bisa, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku telah menyia-nyiakan nikmat-Mu. Dan aku berbuat dosa. Maka ampunilah dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau."
Doa ini dikenal sebagai bentuk pengakuan total seorang hamba atas ketergantungannya kepada Allah SWT.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أَغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal 'afwa wal 'aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur 'awrootii wa aamin row'aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa 'an yamiinii wa 'an syimaalii wa min fawqii wa a'udzu bi 'azhomatik an ughtala min tahtii
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh)." (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah)
Baca juga: Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Menyambut Ramadhan dengan Memaknai Keutamaan Bulan Syaban
Dalam buku Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, M. Quraish Shihab menekankan bahwa ibadah doa bukan sekadar rangkaian lafaz, melainkan latihan kesadaran spiritual untuk menyadari keterbatasan manusia di hadapan Tuhan.
Hari Jumat, terutama waktu setelah Ashar, menjadi momen ideal untuk kembali menata niat, harapan, dan arah hidup.
Bukan soal panjangnya doa, tetapi kejujuran hati ketika mengangkat tangan dan berserah diri sepenuhnya.
Waktu mustajab di hari Jumat adalah hadiah mingguan dari Allah SWT. Ia datang singkat, kemudian berlalu. Tidak ada jaminan seseorang akan kembali menjumpainya pekan depan.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar umat Islam tidak melewatkan sore Jumat tanpa doa, zikir, dan pengharapan kepada Allah.
Sebab, bisa jadi pada satu sore Jumat itulah, doa yang selama ini tertunda akhirnya dikabulkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang