Editor
KOMPAS.com - Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama melalui Pimpinan Pusat (PP ISNU) menggelar Dialog Publik dan Workshop Literasi Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Grand Orchardz Hotel, Kemayoran, Jakarta, pada Senin (9/2/2026) hingga Selasa (10/2/2026).
Kegiatan ini diikuti puluhan peserta perempuan perwakilan Pengurus Wilayah (PW) ISNU dari berbagai daerah serta unsur banom perempuan Nahdlatul Ulama.
Forum ini menjadi ruang konsolidasi intelektual NU untuk merespons persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih menjadi problem serius di Indonesia.
Tak sekadar diskusi, kegiatan dirancang sebagai penguatan kapasitas literasi sekaligus produksi konten edukatif yang ramah perempuan dan anak.
Baca juga: ISNU Salurkan Bantuan UKT untuk 51 Mahasiswa Korban Banjir Aceh Tamiang
Sekretaris Umum PP ISNU Wardi Taufik yang mewakili Ketua Umum menegaskan, kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan persoalan sektoral, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Literasi anti kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan hanya soal pengetahuan, tetapi tentang keberanian mengenali, mencegah, dan bertindak ketika kekerasan terjadi,” ujar Wardi Taufik dalam keterangan tertulis, Selasa.
Ia menambahkan, literasi anti kekerasan tidak cukup dipahami sebagai wacana normatif, tetapi harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang membentuk cara pandang dan perilaku sosial.
Karena itu, ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan aksi nyata melalui jejaring yang aktif dan berkelanjutan. Ketika jejaring bergerak, korban tidak sendirian, dan lingkungan berubah menjadi ruang yang melindungi, bukan melukai.
Dialog publik menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Arifatul Choiri Fauzi, Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor, Komisioner Komnas Perempuan Daden Sukendar, serta Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Ai Rahmayanti.
Dalam paparannya, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyoroti kuatnya akar patriarki dalam masyarakat.
“Walaupun perempuan kuat secara ekonomi, dalam realitas masih sering terjadi kasus pemerkosaan dengan korban anak dan pelakunya justru suami. Ironisnya, ibu kerap lebih membela suami. Ini mencerminkan lemahnya pemahaman agama dan minimnya literasi tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah menghadirkan ruang aman bagi perempuan dan anak.
“Target kami adalah menghadirkan ruang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan dimulai dari desa, sebagai fondasi lahirnya generasi yang terlindungi dan berdaya. Dari desa, kita wujudkan Indonesia yang aman dan bebas dari kekerasan bagi perempuan dan anak,” tegasnya.
Sementara itu, Daden Sukendar menekankan kepedulian terhadap perempuan harus diwujudkan lewat penciptaan ruang aman di semua sektor kehidupan.
“Peduli terhadap perempuan berarti menciptakan ruang aman bagi mereka, baik di rumah, di lingkungan kerja, di dunia pendidikan, maupun di setiap sektor kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya laporan kasus sebagai fenomena ganda.
“Bertambahnya laporan menunjukkan dua hal, masih tingginya kekerasan, sekaligus tumbuhnya kepercayaan masyarakat kepada negara sehingga berani speak up. Kesadaran ini menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah kekerasan terhadap kemanusiaan itu sendiri.”
Selain dialog publik, kegiatan diisi workshop literasi menghadirkan Dewan Ahli PP ISNU Nur Kholisoh, Redaktur NU Online Aru Lego Triono, serta Rofi Uddarojat dari TikTok Indonesia.
Peserta dibekali keterampilan memproduksi konten digital yang edukatif, sensitif gender, dan berpihak pada perlindungan perempuan serta anak.
Penanggung jawab kegiatan Zainun Nasihah Ghufron menjelaskan forum ini dirancang agar peserta tak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi menjadi agen literasi di lingkungannya.
Ia berharap peserta mampu menyampaikan pesan moral anti kekerasan kepada publik serta memproduksi konten edukatif yang sensitif gender dan berpihak pada perlindungan perempuan dan anak.
Kegiatan ini juga menghasilkan rumusan rekomendasi kebijakan dan rencana tindak lanjut sebagai kontribusi intelektual ISNU dalam mendukung agenda nasional pencegahan kekerasan.
Baca juga: ISNU Gelar Fun Walk Peduli Lingkungan dan Galang Dana Bencana Sumatera
Kehadiran puluhan peserta perempuan dari PW ISNU dan banom perempuan NU dinilai menjadi kekuatan penting dalam mengarusutamakan isu perlindungan perempuan dan anak di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Para peserta diharapkan menjadi motor penggerak literasi anti kekerasan di daerah masing-masing, sekaligus memperkuat peran perempuan NU sebagai agen perubahan sosial yang berkeadilan dan berperspektif kemanusiaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang