KOMPAS.com - Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah resmi merilis peta waktu (timeline) penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah.
Rangkaian jadwal tersebut disusun sejak jauh hari sebagai bagian dari manajemen perencanaan terpadu, mulai dari fase persiapan administratif, kontrak layanan, hingga kedatangan jamaah pertama di Tanah Suci.
Salah satu agenda krusial yang menjadi perhatian dunia adalah dimulainya penerbitan visa haji pada 8 Februari 2026.
Baca juga: Arab Saudi Terbitkan Visa Haji 2026 Lebih Awal, 750.000 Jamaah Terdaftar
Tahapan ini menjadi gerbang awal masuknya jamaah ke fase operasional menjelang puncak ibadah.
Langkah perencanaan dini ini menunjukkan komitmen Arab Saudi dalam memastikan penyelenggaraan haji berlangsung tertib, aman, dan berkualitas, sejalan dengan transformasi layanan berbasis digital yang terus dikembangkan dalam kerangka Saudi Vision 2030.
Dilansir dari laman economictimes, siklus persiapan haji 1447 H telah dimulai sejak 12 Dzulhijjah 1446 H atau bertepatan dengan 8 Juni 2025.
Artinya, proses perencanaan sudah berjalan hanya sehari setelah puncak musim haji sebelumnya berakhir.
Pada tahap awal ini, dokumen pengaturan teknis dan pedoman operasional didistribusikan kepada kantor urusan haji di berbagai negara.
Dokumen tersebut menjadi acuan dalam penyusunan kuota, layanan, hingga strategi keberangkatan jamaah.
Akses data kamp di kawasan Masya’ir Muqaddasah—Mina, Muzdalifah, dan Arafah—dibuka lebih awal melalui platform digital Nusuk.
Sistem ini memungkinkan setiap otoritas haji meninjau kapasitas, lokasi, serta kebutuhan logistik secara lebih transparan.
Model perencanaan seperti ini selaras dengan prinsip manajemen ibadah haji modern. Dalam buku Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah az-Zuhaili, dijelaskan bahwa penyelenggaraan haji bukan sekadar ritual individual, melainkan aktivitas kolektif berskala global yang membutuhkan pengaturan matang demi menjaga keselamatan jamaah.
Baca juga: Bukan Superman, tapi Superteam: Cara Petugas Haji 2026 Siap Hadapi Puncak Haji di Armuzna
Melansir dari laman Alyaum.com, memasuki 1 Rabi’ul Awwal 1447 H, pemerintah Arab Saudi membuka tahap kontrak resmi untuk akomodasi, konsumsi, transportasi, dan layanan dasar lainnya. Fase ini menjadi fondasi penyediaan fasilitas bagi jutaan jamaah.
Batas akhir penyelesaian pertemuan persiapan serta kelengkapan data operasional ditetapkan pada 20 Rabi’ul Akhir 1447 H atau 12 Oktober 2025.
Pada periode ini pula negara-negara pengirim jamaah mulai mengumumkan pendaftaran haji secara nasional.
Selanjutnya, di bulan Jumadil Awal, dilakukan penandatanganan perjanjian utama antara otoritas haji dan penyedia layanan.
Pameran layanan haji turut digelar untuk memperkuat kolaborasi antara sektor pemerintah dan swasta, sekaligus mendorong inovasi pelayanan.
Upaya ini menunjukkan bahwa haji bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga sistem pelayanan publik berskala internasional yang memerlukan koordinasi lintas sektor.
Memasuki awal tahun 2026, seluruh kontrak akomodasi di Makkah dan Madinah ditargetkan rampung.
Layanan transportasi antar kota suci serta fasilitas di Arafah, Mina, dan Muzdalifah difinalisasi pada fase ini.
Penerbitan visa haji resmi dimulai 8 Februari 2026 dan dijadwalkan berakhir pada Maret 2026. Pada periode yang sama, data kesiapan jamaah dikunci (finalisasi) untuk memastikan tidak ada kendala administratif menjelang keberangkatan.
Tahap ini menjadi momentum penting karena berkaitan langsung dengan mobilisasi jamaah internasional.
Baca juga: Saudi Terbitkan Visa Haji 2026 Lebih Awal, Ini Dampaknya bagi Jamaah
Kementerian menetapkan 1 Dzulqa’dah 1447 H atau 18 April 2026 sebagai waktu kedatangan rombongan pertama jamaah haji. Kedatangan ini menandai dimulainya fase operasional penuh di Tanah Suci.
Arab Saudi mengingatkan seluruh kantor urusan haji agar mematuhi jadwal resmi demi memastikan layanan berjalan optimal sebelum puncak ibadah wukuf di Arafah.
Transformasi digital kembali menjadi tulang punggung penyelenggaraan haji 1447 H. Platform Nusuk digunakan untuk integrasi data jamaah, pengelolaan kontrak, hingga transaksi keuangan berbasis dompet elektronik.
Digitalisasi dinilai mampu meningkatkan transparansi, mempercepat prosedur, serta meminimalkan praktik pemesanan tidak resmi.
Kebijakan ini sejalan dengan agenda Saudi Vision 2030 yang menempatkan sektor haji dan umrah sebagai salah satu prioritas modernisasi layanan publik.
Dalam buku Ilmu Dakwah karya Prof. M. Ali Aziz dijelaskan bahwa pemanfaatan teknologi informasi menjadi kebutuhan mendesak dalam pengelolaan jamaah berskala jutaan orang, terutama untuk menjamin efisiensi dan keamanan.
Musim haji 1447 H mengusung slogan “Nusuk dan Ketenangan” (نسك وطمأنينة), menegaskan komitmen menghadirkan pengalaman ibadah yang aman dan tertata.
Baca juga: Kemenhaj Tegaskan Kartu Nusuk Wajib Dibagikan di Indonesia Sebelum Keberangkatan Haji
Perencanaan matang penyelenggaraan haji sejatinya selaras dengan perintah Allah SWT agar ibadah ini dilaksanakan dengan kesiapan dan kesempurnaan.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 196:
Wa atimmul hajja wal ‘umrata lillah.
Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”
Ayat ini menegaskan pentingnya kesempurnaan dalam pelaksanaan haji, baik dari sisi spiritual maupun teknis penyelenggaraan.
Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani menuju ketakwaan. Dalam Surah Al-Hajj ayat 27 disebutkan:
Wa adzdzin fin-naasi bil hajj, ya’tuuka rijaalan wa ‘alaa kulli daamirin.
Artinya: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus.”
Ayat tersebut menggambarkan universalitas panggilan haji yang melintasi batas geografis dan zaman.
Timeline yang dirilis Pemerintah Arab Saudi memperlihatkan bahwa penyelenggaraan haji kini berada pada titik temu antara spiritualitas klasik dan manajemen modern.
Perencanaan yang dimulai hampir setahun sebelumnya menunjukkan keseriusan dalam menjaga kualitas layanan bagi jutaan tamu Allah.
Dengan sistem digital terintegrasi, kontrak layanan yang disusun lebih awal, serta pengawasan ketat terhadap kesiapan infrastruktur, musim haji 1447 H diproyeksikan berlangsung lebih tertib dan efisien.
Bagi calon jamaah, jadwal ini menjadi penanda penting untuk mulai mempersiapkan diri—bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara ruhani.
Sebab pada akhirnya, perjalanan haji adalah panggilan suci yang menuntut kesiapan lahir dan batin.
Dan ketika visa mulai diterbitkan pada Februari 2026, pertanyaannya bukan lagi sekadar kapan berangkat, melainkan sejauh mana hati telah siap memenuhi panggilan-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang