Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

“Gamis Bini Orang” Jadi Tren Baju Lebaran 2026, Seperti Apa Bentuknya?

Kompas.com, 10 Februari 2026, 12:10 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Setiap menjelang Lebaran, selalu muncul istilah unik di pasar busana muslim. Tahun ini, sebelum Ramadhan benar-benar tiba, pedagang di Pasar Tanah Abang sudah memprediksi satu model yang bakal viral: “gamis bini orang.”

Namanya memang terdengar nyeleneh. Tapi justru dari situlah rasa penasaran publik muncul. Model ini disebut-sebut sebagai kandidat kuat tren baju Lebaran 2026, bersanding dengan tren rompi lepas yang juga ramai dibicarakan.

Menurut Sasqiah, karyawan toko Hagia Sophia di Tanah Abang, penamaan tersebut sederhana saja.

“Karena kan yang pakainya pasti istri orang,” ujarnya dilansir dari Tribun Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Baca juga: Model Gamis Terbaru 2026 untuk Lebaran: Simple, Elegan & Kombinasi Brokat

Seperti Apa Bentuk “Gamis Bini Orang”?

Secara tampilan, model ini jauh dari kesan ramai. Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan:

  • Satu warna polos (tanpa motif)
  • Warna soft & kalem, tidak mencolok
  • Potongan simpel, jatuh, dan dewasa
  • Tanpa payet, tanpa shimmer, tanpa detail ramai

Gamis ini memunculkan kesan matang, anggun, dan elegan—gaya yang identik dengan sosok ibu-ibu muda atau wanita dewasa yang ingin tampil rapi tanpa terlihat berlebihan saat silaturahmi.

Pilihan warnanya cenderung ke earth tone dan pastel lembut: sage, beige, mocca, dusty pink, baby blue, hingga broken white.

Diproduksi Sendiri, Harga Ramah

Sasqiah menyebut model ini merupakan produksi konveksi toko mereka sendiri, sehingga harga bisa ditekan.

Rinciannya:

  • Satuan: Rp 150 ribu
  • Grosir: Rp 135 ribu
  • Kodian: Rp 125 ribu

Harga ini membuat model “gamis bini orang” cepat dilirik pembeli yang ingin tampil elegan tanpa harus membeli gamis mahal dengan detail berat.

Kenapa Model Ini Cepat Naik Daun?

Ada beberapa alasan kenapa model ini diprediksi viral:

1. Timeless: bisa dipakai lagi setelah Lebaran

2. Fleksibel: cocok untuk kondangan, pengajian, arisan

3. Nyaman: bahan ringan, tidak gerah

4. Mudah dipadukan: hijab warna apa pun masuk

5. Fotogenik: terlihat clean dan mahal di foto keluarga

Gaya ini sejalan dengan pergeseran tren 2026 yang meninggalkan busana terlalu berkilau menuju minimalis elegan.

Selain Itu, Gamis Malaysia Juga Diburu

Selain model unik ini, Sasqiah menyebut gamis Malaysia juga banyak dicari pembeli.

Modelnya yang longgar, jatuh, dan rapi dianggap cocok untuk gaya Lebaran yang sopan sekaligus nyaman.

Penjualan Mulai Naik Sejak Awal Tahun

Meski Ramadhan belum tiba, pergerakan pembeli sudah terasa.

“Sudah kelihatan peningkatannya, sekitar dua sampai tiga kali lipat,” kata Sasqiah.

Ia memprediksi lonjakan akan terjadi menjelang libur panjang terakhir sebelum puasa, lalu kembali ramai di pertengahan Ramadhan.

Baca juga: 5 Model Baju Lebaran Timeless yang Bisa Dipakai Sehari-hari

Kesimpulan

Di tengah banyaknya model gamis dengan detail mewah, “gamis bini orang” justru hadir sebagai antitesis: polos, kalem, dan dewasa. Tapi justru di situlah letak daya tariknya.

Lebaran 2026 tampaknya akan diramaikan oleh busana yang tidak ramai, namun tetap terlihat mahal dan anggun saat dikenakan.

Artikel ini diolah dari berita TribunJakarta.com dengan judul Terdengar Nyeleneh 'Gamis Bini Orang' Diprediksi Bakal Jadi Tren Baju Lebaran di Pasar Tanah Abang

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com