Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jadwal Libur Lebaran 2026 Resmi, Momentum Ibadah dengan Keluarga

Kompas.com, 10 Februari 2026, 12:10 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah telah menetapkan rangkaian hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2026, termasuk masa libur Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 dan Minggu, 22 Maret 2026.

Selain dua hari tersebut, terdapat tambahan cuti bersama pada 20, 23, dan 24 Maret 2026. Jika digabung dengan cuti bersama dan Hari Suci Nyepi pada 18–19 Maret 2026, masyarakat berpotensi menikmati waktu libur hingga tujuh hari berturut-turut.

Rangkaian hari besar keagamaan ini bukan sekadar jeda dari rutinitas pekerjaan. Dalam perspektif keagamaan, cuti Lebaran dapat dimaknai sebagai ruang untuk memperdalam kualitas spiritual, mempererat hubungan sosial, serta membangun kembali energi kolektif umat setelah menjalani ibadah Ramadhan.

Lebaran dan Tradisi Silaturahmi: Menguatkan Ikatan Sosial

Idul Fitri identik dengan tradisi saling berkunjung dan memaafkan. Silaturahmi bukan sekadar budaya, melainkan ajaran yang memiliki landasan kuat dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

Fahal ‘asaitum in tawallaitum an tufsidu fil ardhi wa tuqaththi‘u arhamakum.

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung tali silaturahmi.

Tradisi mudik yang menguat setiap Lebaran dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi ajaran tersebut.

Dalam buku Fiqh al-Sirah karya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW senantiasa menjaga hubungan kekerabatan sebagai bagian dari misi dakwah dan pembinaan umat.

Silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat.

Libur panjang Lebaran 2026 memberi ruang lebih luas bagi keluarga yang terpisah jarak untuk berkumpul, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang.

Baca juga: Libur Sekolah Awal Puasa 2026 Berpotensi Jadi Long Weekend 7 Hari, Catat Tanggalnya

Cuti Lebaran sebagai Perpanjangan Spirit Ramadhan

Ramadhan bukan akhir, melainkan awal dari pembentukan karakter takwa. Allah SWT berfirman:

Yaa ayyuhalladzina aamanu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaquun.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa menjadi tujuan utama puasa. Oleh karena itu, masa cuti Lebaran idealnya tidak menghilangkan nilai-nilai disiplin spiritual yang telah terbangun selama sebulan penuh.

Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa tanda diterimanya suatu ibadah adalah munculnya perubahan perilaku menuju kebaikan.

Jika Ramadhan membentuk kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri, maka Syawal dan bulan-bulan setelahnya menjadi ruang pembuktian.

Salah satu bentuk menjaga kesinambungan itu adalah dengan melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Libur panjang memberikan kesempatan bagi umat untuk menyusun kembali jadwal ibadah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, serta menjaga shalat berjamaah.

Baca juga: Jadwal Libur Sekolah Awal Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Catat Tanggalnya

Refleksi Lebaran: Dari Euforia Menuju Kesadaran Spiritual

Kemeriahan Idul Fitri sering kali identik dengan konsumsi berlebih dan aktivitas rekreasi. Tidak ada larangan untuk bergembira, karena Rasulullah SAW pun merayakan hari raya dengan penuh suka cita. Namun kegembiraan tersebut tetap berada dalam koridor syukur.

Allah SWT berfirman:

Wa litukmilul ‘iddata wa litukabbirullaha ‘ala ma hadaakum wa la‘allakum tasykurun.

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa Idul Fitri adalah momentum mengagungkan Allah, bukan sekadar perayaan sosial.

Dalam buku Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa hakikat Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian fitrah setelah proses penyucian diri melalui puasa.

Dengan waktu libur yang relatif panjang, masyarakat memiliki peluang untuk menghadirkan keseimbangan antara aktivitas rekreatif dan refleksi spiritual.

Mengunjungi orang tua, memperbanyak sedekah, hingga melakukan ziarah kubur dapat menjadi aktivitas yang memperkaya makna Lebaran.

Dampak Sosial dan Ekonomi: Antara Mudik dan Pariwisata

Libur panjang pertengahan Maret 2026 diperkirakan mendorong peningkatan mobilitas masyarakat.

Aktivitas mudik, kunjungan keluarga, hingga perjalanan wisata domestik biasanya mengalami lonjakan signifikan.

Namun dari sudut pandang keagamaan, perjalanan tersebut juga dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk silaturahmi dan kebaikan. Dalam kaidah fikih disebutkan:

Al-umuru bi maqashidiha

Artinya: "setiap amal tergantung pada niatnya,"

Dengan demikian, cuti bersama bukan hanya momentum ekonomi dan sosial, tetapi juga ladang pahala jika diiringi niat yang benar.

Baca juga: Jadwal Pembelajaran Selama Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Cek Tanggal Libur dan Tatap Muka

Menyambut Libur dengan Kesadaran Baru

Rangkaian libur Idul Fitri 2026 yang berdekatan dengan Hari Suci Nyepi juga menjadi pengingat akan pentingnya toleransi dan keharmonisan antarumat beragama.

Dua momentum keagamaan besar yang hadir hampir bersamaan memperlihatkan keragaman Indonesia yang saling berdampingan.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar berapa lama kita menikmati libur, melainkan bagaimana kita mengisinya.

Apakah cuti Lebaran hanya menjadi waktu istirahat fisik, atau justru kesempatan memperkuat fondasi spiritual dan sosial?

Libur panjang bisa berlalu tanpa makna. Namun ia juga bisa menjadi titik balik, ruang jeda yang menyegarkan jiwa, memperbaiki relasi, dan meneguhkan kembali komitmen sebagai insan yang lebih bertakwa setelah Ramadhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com