KOMPAS.com - Pemerintah telah menetapkan rangkaian hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2026, termasuk masa libur Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 dan Minggu, 22 Maret 2026.
Selain dua hari tersebut, terdapat tambahan cuti bersama pada 20, 23, dan 24 Maret 2026. Jika digabung dengan cuti bersama dan Hari Suci Nyepi pada 18–19 Maret 2026, masyarakat berpotensi menikmati waktu libur hingga tujuh hari berturut-turut.
Rangkaian hari besar keagamaan ini bukan sekadar jeda dari rutinitas pekerjaan. Dalam perspektif keagamaan, cuti Lebaran dapat dimaknai sebagai ruang untuk memperdalam kualitas spiritual, mempererat hubungan sosial, serta membangun kembali energi kolektif umat setelah menjalani ibadah Ramadhan.
Idul Fitri identik dengan tradisi saling berkunjung dan memaafkan. Silaturahmi bukan sekadar budaya, melainkan ajaran yang memiliki landasan kuat dalam Islam.
Allah SWT berfirman:
Fahal ‘asaitum in tawallaitum an tufsidu fil ardhi wa tuqaththi‘u arhamakum.
“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung tali silaturahmi.
Tradisi mudik yang menguat setiap Lebaran dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi ajaran tersebut.
Dalam buku Fiqh al-Sirah karya Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW senantiasa menjaga hubungan kekerabatan sebagai bagian dari misi dakwah dan pembinaan umat.
Silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat.
Libur panjang Lebaran 2026 memberi ruang lebih luas bagi keluarga yang terpisah jarak untuk berkumpul, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
Baca juga: Libur Sekolah Awal Puasa 2026 Berpotensi Jadi Long Weekend 7 Hari, Catat Tanggalnya
Ramadhan bukan akhir, melainkan awal dari pembentukan karakter takwa. Allah SWT berfirman:
Yaa ayyuhalladzina aamanu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaquun.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa menjadi tujuan utama puasa. Oleh karena itu, masa cuti Lebaran idealnya tidak menghilangkan nilai-nilai disiplin spiritual yang telah terbangun selama sebulan penuh.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa tanda diterimanya suatu ibadah adalah munculnya perubahan perilaku menuju kebaikan.
Jika Ramadhan membentuk kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri, maka Syawal dan bulan-bulan setelahnya menjadi ruang pembuktian.
Salah satu bentuk menjaga kesinambungan itu adalah dengan melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Libur panjang memberikan kesempatan bagi umat untuk menyusun kembali jadwal ibadah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, serta menjaga shalat berjamaah.
Baca juga: Jadwal Libur Sekolah Awal Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Catat Tanggalnya
Kemeriahan Idul Fitri sering kali identik dengan konsumsi berlebih dan aktivitas rekreasi. Tidak ada larangan untuk bergembira, karena Rasulullah SAW pun merayakan hari raya dengan penuh suka cita. Namun kegembiraan tersebut tetap berada dalam koridor syukur.
Allah SWT berfirman:
Wa litukmilul ‘iddata wa litukabbirullaha ‘ala ma hadaakum wa la‘allakum tasykurun.
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa Idul Fitri adalah momentum mengagungkan Allah, bukan sekadar perayaan sosial.
Dalam buku Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa hakikat Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian fitrah setelah proses penyucian diri melalui puasa.
Dengan waktu libur yang relatif panjang, masyarakat memiliki peluang untuk menghadirkan keseimbangan antara aktivitas rekreatif dan refleksi spiritual.
Mengunjungi orang tua, memperbanyak sedekah, hingga melakukan ziarah kubur dapat menjadi aktivitas yang memperkaya makna Lebaran.
Libur panjang pertengahan Maret 2026 diperkirakan mendorong peningkatan mobilitas masyarakat.
Aktivitas mudik, kunjungan keluarga, hingga perjalanan wisata domestik biasanya mengalami lonjakan signifikan.
Namun dari sudut pandang keagamaan, perjalanan tersebut juga dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk silaturahmi dan kebaikan. Dalam kaidah fikih disebutkan:
Al-umuru bi maqashidiha
Artinya: "setiap amal tergantung pada niatnya,"
Dengan demikian, cuti bersama bukan hanya momentum ekonomi dan sosial, tetapi juga ladang pahala jika diiringi niat yang benar.
Baca juga: Jadwal Pembelajaran Selama Ramadhan 2026 Resmi dari Pemerintah, Cek Tanggal Libur dan Tatap Muka
Rangkaian libur Idul Fitri 2026 yang berdekatan dengan Hari Suci Nyepi juga menjadi pengingat akan pentingnya toleransi dan keharmonisan antarumat beragama.
Dua momentum keagamaan besar yang hadir hampir bersamaan memperlihatkan keragaman Indonesia yang saling berdampingan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar berapa lama kita menikmati libur, melainkan bagaimana kita mengisinya.
Apakah cuti Lebaran hanya menjadi waktu istirahat fisik, atau justru kesempatan memperkuat fondasi spiritual dan sosial?
Libur panjang bisa berlalu tanpa makna. Namun ia juga bisa menjadi titik balik, ruang jeda yang menyegarkan jiwa, memperbaiki relasi, dan meneguhkan kembali komitmen sebagai insan yang lebih bertakwa setelah Ramadhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang