TASIKMALAYA, KOMPAS.com – Di balik ketenangan asrama santri Pondok Pesantren Cipasung yang terletak di Singaparna, Tasikmalaya, tersimpan narasi besar tentang perjuangan merebut kemerdekaan, disiplin spiritual yang ketat, dan prinsip politik yang menjaga marwah ulama.
Kisah perjuangan sang pendiri, KH Ruhiat diceritakan oleh Pengasuh Ponpes Cipasung, KH Ubaidillah Ruhiat saat Tim Jelajah Pesantren Kompas.com bertandang ke tempat tersebut pada Desember 2025.
Dia bercerita bagaimana Kiai Ruhiat membangun fondasi pesantren ini tak hanya berlandaskan keteguhan iman dan keberanian fisik dalam mengusir penjajah.
Kiai Ruhiat lahir pada tanggal 11 November 1911 di Cisarong, Jawa Barat. Ruhiat kecil adalah sosok yang tangguh, karena ditempa langsung oleh kondisi sulit zaman penjajahan Belanda.
Keterbatasan dan tekanan dari Para Londo menjadi makanan sehari-hari, termasuk saat mengenyam pendidikan formal di sekolah rakyat Belanda selama empat tahun.
Kemudian selesai dari sekolah Belanda, Ruhiat melanjutkan pendidikannya di bidang keagamaan selama delapan tahun di berbagai pesantren tersohor seperti Cileungah, Kubang, Sukaraja Garut, hingga Cintawana.
Setelah selesai mengenyam pendidikan, Ruhiat yang saat itu merupakan sosok pemuda 20 tahun mendirikan pondok pesantren Cipasung, tepatnya pada tahun 1931.
Muda berkarya dengan tantangan penguasa Belanda, sudah pasti membuat jalannya tak semulus aspal jalan raya. Ruhiat menghadapi rintangan tak hanya dari penjajah, tetapi juga masyarakat yang tak paham ilmu agama.
"Abah" kata Ubaidillah mengingat sosok Ruhiat. Dia bergetar menceritakan bagaimana Kiai Ruhiat sering keluar masuk penjara menjadi tahanan politik karena pergerakan mencerdaskan masyarakat sekitar.
“Abah itu sering keluar masuk penjara karena perlawanannya terhadap Belanda. Mungkin sekitar enam kali beliau masuk penjara, dan yang paling lama di Sukamiskin selama hampir tiga bulan,” kenang KH Ubaidillah.
Kiai Ruhiat tak hanya menjadi korban tahanan politik ketika masa penjajahan Belanda saja. Ketika Jepang menduduki Nusantara, Kiai Ruhiat juga menjadi sosok yang diincar.
Pasca peristiwa perlawanan Sukamanah yang dipimpin oleh KH Zainal Mustofa pada tahun 1944, KH Ruhiat ikut ditangkap. Sementara KH Zainal Mustofa dibawa ke Jakarta dan gugur, KH Ruhiat ditahan di Sukamiskin dan kemudian dipindahkan ke Tasikmalaya.
Puncak dramatis perjuangannya terjadi saat Agresi Militer Belanda II tahun 1949. Cipasung menjadi sasaran serangan.
Saat KH Ruhiat sedang mengimami ibadah shalat berjamaah, tentara Belanda melepas tembakan dari arah depan. Secara dramatis, Kiai Ruhiyat selamat dari desingan peluru serangan pasca kemerdekaan.
Namun serangan tersebut banyak memakan korban jiwa, termasuk makmum yang sedang ikut shalat bersama Kiai Ruhiat.
KH Ubaidillah, Pimpinan Ponpes CipasungKerasnya keadaan tak menghambat pertumbuhan Pondok Pesantren Cipasung. Sehingga Ponpes ini dikenal bukan bukan sekadar tempat menimba ilmu kitab kuning, melainkan laboratorium kedisiplinan.
KH Ubaidillah menekankan bahwa bagi Kiai Ruhiat, kemajuan sebuah pesantren tidak diukur dari banyaknya jumlah santri, melainkan seberapa banyak alumni yang berhasil menjadi seorang ulama dan pemengaruh kebaikan di masyarakat.
Filosofi pendidikan yang diterapkan Kiai Ruhiat tergolong progresif, mengikuti zaman dan mampu berdiplomasi.
Contohnya adalah cara berpakaian. Ketika Kiai lain bertahan dengan sarung sebagai ciri khas konservatif, Kiai Ruhiat disebut tak ragu menggunakan setelan jas dan celana saat bepergian ke luar kota.
Ubaidillah meyakini, yang dilakukan Kiai Ruhiat bukan untuk meninggalkan keimanan dan ajaran agama, tetapi untuk memberikan pesan moderat dalam beragama.
Tapi setelah berada di Ponpes Cipasung, kata "disiplin" memiliki makna sesuatu yang tak bisa ditawar.
Kiai Ubaidillah menceritakan satu tradisi yang masih dijalankannya hingga hari ini sebagai warisan langsung dari sang ayah: membangunkan santri secara personal.
"Sampai sekarang, saya setiap jam 04.30 pagi yang membangunkan santri di asrama. Saya ketuk pintu kamar satu per satu sendirian. Itu kebiasaan Abah yang tidak boleh ditinggalkan. Kata Abah, santri tidak akan menurut kepada kita jika kita tidak melaksanakan sendiri apa yang kita perintahkan,” ungkap Ubaidillah.
Selain itu, Kiai Ruhiat selalu mengambil porsi mengajar kitab Ta’lim Muta’allim bagi santri-santri baru. Beliau percaya bahwa fondasi akhlak harus diletakkan langsung oleh pengasuh.
Kedisiplinan ini juga merambah ke ranah keluarga; anak-anak beliau dilarang keras meninggalkan salat berjamaah sejak kecil hingga dewasa, membentuk karakter keluarga besar Cipasung yang kokoh dalam ritualitas agama.
Meski kini Kiai Ruhiat telah tiada, warisan ilmu dan prinsip sebagai ulama terus dipertahankan.
Ruhiat wafat pada tahun 1987 dan tongkat estafet kepemimpinan diteruskan kepada putra-putranya, mulai dari KH Moh Ilyas Ruhiat yang juga dikenal menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Dudung Abdul Halim, KH Abun Bunyamin Ruhiat, hingga kini Ubaidillah Ruhiat sendiri.
Cipasung tetap memegang teguh prinsip "Politik Marwah" yang diwariskan pendirinya. Ubaidillah sebagai anak Kiai Ruhiat menegaskan sebuah wasiat penting tentang hubungan antara ulama dan umara.
"Abah berpesan, kalau ada pejabat datang minta doa lalu mereka menang (terpilih), jangan sekali-kali kita datang ke tempat mereka untuk mengucapkan terima kasih atau meminta sesuatu. Kita jangan ke pendopo atau ke gubernuran kecuali dipanggil. Kalau kita datang sendiri, nanti disangka kita mau minta apa-apa,” tegasnya.
Baca juga: Dari Mufti Keraton ke Pesantren Rakyat: Kisah Buntet Melawan Narasi VOC Sejak 1750
Prinsip ini membuat Cipasung berdiri di atas semua golongan. Meskipun keluarga besar memiliki aspirasi politik yang beragam, secara institusi Cipasung tetap menjaga independensi.
Hal ini terlihat pada Pilpres lalu, di mana semua calon diterima dengan tangan terbuka, namun pesantren tetap menjaga kewibawaannya di atas kepentingan politik praktis.
Sebagai penutup, Ubaidillah menyampaikan dua pesan utama Kiai Ruhiat yang selalu diberikan kepada santri: yakni menjadi teladan yang baik bagi masyarakat dan mengamalkan ilmu untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan negara.
Dengan sejarah panjang yang penuh perjuangan, Pondok Pesantren Cipasung terus berdiri sebagai penjaga moral dan benteng kedaulatan NKRI.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang