CIPASUNG, KOMPAS.com - Deru helikopter yang membelah langit Desa Cipasung dan barisan panser yang terparkir di sekitar area pesantren masih terekam jelas dalam ingatan Pengurus Pondok Pesantren Cipasung, Jawa Barat, Muhammad Rizqi Romdhon.
Bagi seorang anak kecil kala itu, pemandangan moncong senapan laras panjang yang digenggam satu kompi tentara serta bayang-bayang sniper atau penembak runduk di atap masjid dan asrama santri adalah sebuah tontonan yang mengasyikkan.
Kepada Tim Jelajah Pesantren Kompas.com pada Desember 2025, Rizqi menceritakan suasana mencekam yang dianggap sebuah keseruannya di waktu kecil.
"Waktu saya masih kecil, muktamar itu sangat menyenangkan karena ada helikopter, ada mobil panser, terus ada sniper di atas masjid. Tapi setelah saya dewasa, saya baru sadar itu adalah hal yang mengancam nyawa," kenang Rizqi.
Baca juga: Ditembak Saat Jadi Imam hingga 6 Kali Dipenjara, Kisah Heroik Pendiri Ponpes Cipasung Tasikmalaya
Namun, seiring berjalannya waktu Rizqi menyadari bahwa kemegahan militer di tanah kelahirannya pada tahun 1994 itu bukanlah parade perayaan, melainkan simbol dari salah satu periode paling mencekam dalam sejarah hubungan ormas keagamaan dan negara di Indonesia.
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-29 di Pondok Pesantren Cipasung menjadi panggung pertama dan terakhir "perang dingin" antara KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Presiden Soeharto.
Muktamar NU 1994 bukan sekadar forum organisasi keagamaan biasa. Di balik hiruk-pikuk ribuan muktamirin yang hadir, terdapat ketegangan politik yang mendidih.
Rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Gus Dur, terutama setelah cucu pendiri NU itu mendirikan Forum Demokrasi (Fordem), yang dianggap sebagai gerakan oposisi intelektual yang berbahaya.
Ketegangan tersebut dipicu oleh upaya masif pemerintah untuk menjegal terpilihnya kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.
Rezim Orba menggunakan berbagai instrumen kekuasaan untuk mempengaruhi para kiai dan delegasi agar beralih dukungan.
Sejarah mencatat betapa panasnya konfrontasi pengaruh tersebut. Bahkan dalam literatur nu.or.id, paman Gus Dur sendiri, Yusuf Hasyim ikut terbawa pengaruh rezim Soeharto dengan gerakan ABG, alias Asal Bukan Gus Dur.
"Itu saking panasnya pertarungan antara Gus Dur dan Pak Harto. Tapi alhamdulillah tidak sampai pertarungan fisik, hanya pertarungan pengaruh. Bagaimana Pak Harto mempengaruhi muktamirin supaya jangan Gus Dur yang jadi, tapi karena kiai NU tetap ingin Gus Dur, akhirnya beliau yang terpilih," ucap Rizqi.
Pengaruh tak hanya dari suasana para mubaligh dan sesepuh NU, tetapi juga dari gambaran Rizqi yang memperlihatkan kejanggalan pengamanan dalam muktamar tersebut.
Kehadiran sniper di titik-titik strategis asrama dan masjid menjadi bukti betapa pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik di dalam muktamar.
Di tengah pusaran konflik Gus Dur vs Orang-Orang Soeharto tersebut, muncul sosok KH Ilyas Ruhiat, pengasuh Cipasung yang saat itu menjabat sebagai Rais Aam PBNU. Kiai Ilyas mewarisi watak ayahnya, KH Ruhiat, yang dikenal sebagai sosok muallif atau pendamai yang santun.
Menurut Rizqi, kunci keberhasilan Muktamar Cipasung yang berakhir damai meskipun dalam tekanan tinggi adalah kemampuan Kiai Ilyas dalam mengelola emosi kedua belah pihak.
Kiai Ilyas dan Kiai Ruhiat tidak memilih untuk berkonfrontasi secara frontal, melainkan mengambil peran sebagai jembatan atau penyambung lidah.
"Kiai Ilyas tidak senang memihak salah satu. Beliau lebih senang menyatukan umat. Bagaimana beliau mengelola emosi pendukung Gus Dur dan juga pengelola emosi pihak yang didukung Pak Harto, sehingga muktamar tidak gagal," jelasnya.
Menariknya, Cipasung menggunakan strategi diplomasi yang sangat halus. Kiai Ilyas menjalin hubungan baik dengan Siti Hardijanti Rukmana atau Ibu Tutut, putri sulung Presiden Soeharto.
Kedekatan ini dimanfaatkan Gus Dur dengan cara yang sangat cerdik. Setelah ketegangan muktamar mereda, Gus Dur justru mengajak Ibu Tutut berkeliling ke berbagai pesantren di Indonesia.
"Dengan cantik, Gus Dur membawa Ibu Tutut keliling. Akhirnya tensi Pak Harto menurun dan pada akhir Orde Baru, beliau menjadi lebih dekat dengan kalangan Islam," ungkap Rizqi.
Pasca-Muktamar 1994, hubungan NU dan Pemerintah mengalami transformasi drastis. Kiai Ilyas Ruhiat bahkan diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).
Cara ini membuat Cipasung berhasil memainkan peran strategis: menjaga prinsip NU namun tetap mampu merangkul penguasa demi stabilitas umat.
Perubahan sikap Pak Harto ini dianggap banyak pihak sebagai upaya rekonsiliasi setelah bertahun-tahun hubungan yang renggang akibat peristiwa-peristiwa kelam seperti Malari dan Tanjung Priok.
Aula KH Ruhiat Ponpes Cipasung tempat Muktamar NU digelar tahun 1994 silam.Selain drama politik, Muktamar NU ke-29 di Cipasung meninggalkan warisan intelektual yang sangat maju melampaui zamannya.
Di sinilah untuk pertama kalinya Nahdlatul Ulama mencetuskan konsep Fikih Lingkungan.
"Ada satu hal yang menarik, tentang fikih lingkungan. Pertama kali NU mencetuskan bagaimana Islam harus merawat lingkungan. Nilai-nilai ini sangat relevan dibawa ke masa sekarang, di mana banyak bencana lingkungan terjadi di Indonesia," tutur Rizqi.
Keputusan muktamar ini menunjukkan bahwa di tengah kepungan panser dan sniper, para ulama NU tetap memikirkan isu-isu kemanusiaan dan keberlanjutan alam.
Hal ini mempertegas identitas NU sebagai organisasi yang tidak hanya berkutat pada regenerasi kepemimpinan, tetapi juga pada kemaslahatan publik yang lebih luas.
Dilansir dari website resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), nu.or.id, Muktamar yang menegangkan itu memutuskan pencemaran ingkungan, baik udara, air, maupun tanah, apabila menimbulkan kerusakan, maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat).
Hasil muktamar ini pun pernah diperkuat pada 23 Juli 2007 lewat Gerakan Nasional Kehutanan. Secara khusus, PBNU mengajar warga NU dan rakyat Indonesia jihad melestarikan lingkungan (jihad bi'ah) dengan tetap berpedoman pada kaidah tasawuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar ma'ruf nahi munkar.
Cerita dari Cipasung 1994 adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah institusi keagamaan bisa bertahan di bawah tekanan rezim otoriter.
Melalui kombinasi keteguhan prinsip Gus Dur, kesantunan diplomasi Kiai Ilyas Ruhiat, dan keterbukaan pikiran dalam merumuskan fikih baru, NU berhasil melewati lubang jarum sejarah dan keluar menjadi organisasi yang lebih matang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang