Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sniper di Atas Masjid Cipasung 1994: Detik-detik Mencekam Gus Dur vs Soeharto

Kompas.com, 17 Februari 2026, 11:16 WIB
Singgih Wiryono,
Farid Assifa

Tim Redaksi

CIPASUNG, KOMPAS.com - Deru helikopter yang membelah langit Desa Cipasung dan barisan panser yang terparkir di sekitar area pesantren masih terekam jelas dalam ingatan Pengurus Pondok Pesantren Cipasung, Jawa Barat, Muhammad Rizqi Romdhon.

Bagi seorang anak kecil kala itu, pemandangan moncong senapan laras panjang yang digenggam satu kompi tentara serta bayang-bayang sniper atau penembak runduk di atap masjid dan asrama santri adalah sebuah tontonan yang mengasyikkan.

Kepada Tim Jelajah Pesantren Kompas.com pada Desember 2025, Rizqi menceritakan suasana mencekam yang dianggap sebuah keseruannya di waktu kecil.

"Waktu saya masih kecil, muktamar itu sangat menyenangkan karena ada helikopter, ada mobil panser, terus ada sniper di atas masjid. Tapi setelah saya dewasa, saya baru sadar itu adalah hal yang mengancam nyawa," kenang Rizqi.

Baca juga: Ditembak Saat Jadi Imam hingga 6 Kali Dipenjara, Kisah Heroik Pendiri Ponpes Cipasung Tasikmalaya

Namun, seiring berjalannya waktu Rizqi menyadari bahwa kemegahan militer di tanah kelahirannya pada tahun 1994 itu bukanlah parade perayaan, melainkan simbol dari salah satu periode paling mencekam dalam sejarah hubungan ormas keagamaan dan negara di Indonesia.

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-29 di Pondok Pesantren Cipasung menjadi panggung pertama dan terakhir "perang dingin" antara KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Presiden Soeharto.

Barikade Militer dan Diplomasi di Ujung Laras

Muktamar NU 1994 bukan sekadar forum organisasi keagamaan biasa. Di balik hiruk-pikuk ribuan muktamirin yang hadir, terdapat ketegangan politik yang mendidih.

Rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Gus Dur, terutama setelah cucu pendiri NU itu mendirikan Forum Demokrasi (Fordem), yang dianggap sebagai gerakan oposisi intelektual yang berbahaya.

Ketegangan tersebut dipicu oleh upaya masif pemerintah untuk menjegal terpilihnya kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.

Rezim Orba menggunakan berbagai instrumen kekuasaan untuk mempengaruhi para kiai dan delegasi agar beralih dukungan.

Sejarah mencatat betapa panasnya konfrontasi pengaruh tersebut. Bahkan dalam literatur nu.or.id, paman Gus Dur sendiri, Yusuf Hasyim ikut terbawa pengaruh rezim Soeharto dengan gerakan ABG, alias Asal Bukan Gus Dur.

"Itu saking panasnya pertarungan antara Gus Dur dan Pak Harto. Tapi alhamdulillah tidak sampai pertarungan fisik, hanya pertarungan pengaruh. Bagaimana Pak Harto mempengaruhi muktamirin supaya jangan Gus Dur yang jadi, tapi karena kiai NU tetap ingin Gus Dur, akhirnya beliau yang terpilih," ucap Rizqi.

Pengaruh tak hanya dari suasana para mubaligh dan sesepuh NU, tetapi juga dari gambaran Rizqi yang memperlihatkan kejanggalan pengamanan dalam muktamar tersebut.

Kehadiran sniper di titik-titik strategis asrama dan masjid menjadi bukti betapa pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik di dalam muktamar.

Cipasung sebagai Sosok Penengah

Di tengah pusaran konflik Gus Dur vs Orang-Orang Soeharto tersebut, muncul sosok KH Ilyas Ruhiat, pengasuh Cipasung yang saat itu menjabat sebagai Rais Aam PBNU. Kiai Ilyas mewarisi watak ayahnya, KH Ruhiat, yang dikenal sebagai sosok muallif atau pendamai yang santun.

Menurut Rizqi, kunci keberhasilan Muktamar Cipasung yang berakhir damai meskipun dalam tekanan tinggi adalah kemampuan Kiai Ilyas dalam mengelola emosi kedua belah pihak.

Kiai Ilyas dan Kiai Ruhiat tidak memilih untuk berkonfrontasi secara frontal, melainkan mengambil peran sebagai jembatan atau penyambung lidah.

"Kiai Ilyas tidak senang memihak salah satu. Beliau lebih senang menyatukan umat. Bagaimana beliau mengelola emosi pendukung Gus Dur dan juga pengelola emosi pihak yang didukung Pak Harto, sehingga muktamar tidak gagal," jelasnya.

Menariknya, Cipasung menggunakan strategi diplomasi yang sangat halus. Kiai Ilyas menjalin hubungan baik dengan Siti Hardijanti Rukmana atau Ibu Tutut, putri sulung Presiden Soeharto.

Kedekatan ini dimanfaatkan Gus Dur dengan cara yang sangat cerdik. Setelah ketegangan muktamar mereda, Gus Dur justru mengajak Ibu Tutut berkeliling ke berbagai pesantren di Indonesia.

"Dengan cantik, Gus Dur membawa Ibu Tutut keliling. Akhirnya tensi Pak Harto menurun dan pada akhir Orde Baru, beliau menjadi lebih dekat dengan kalangan Islam," ungkap Rizqi.

Pasca-Muktamar 1994, hubungan NU dan Pemerintah mengalami transformasi drastis. Kiai Ilyas Ruhiat bahkan diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Cara ini membuat Cipasung berhasil memainkan peran strategis: menjaga prinsip NU namun tetap mampu merangkul penguasa demi stabilitas umat.

Perubahan sikap Pak Harto ini dianggap banyak pihak sebagai upaya rekonsiliasi setelah bertahun-tahun hubungan yang renggang akibat peristiwa-peristiwa kelam seperti Malari dan Tanjung Priok.

Warisan Muktamar Cipasung yang Relevan Hingga Saat Ini

Aula KH Ruhiat Ponpes Cipasung tempat Muktamar NU digelar tahun 1994 silam.KOMPAS.com/ FARID ASSIFA Aula KH Ruhiat Ponpes Cipasung tempat Muktamar NU digelar tahun 1994 silam.

Selain drama politik, Muktamar NU ke-29 di Cipasung meninggalkan warisan intelektual yang sangat maju melampaui zamannya.

Di sinilah untuk pertama kalinya Nahdlatul Ulama mencetuskan konsep Fikih Lingkungan.

"Ada satu hal yang menarik, tentang fikih lingkungan. Pertama kali NU mencetuskan bagaimana Islam harus merawat lingkungan. Nilai-nilai ini sangat relevan dibawa ke masa sekarang, di mana banyak bencana lingkungan terjadi di Indonesia," tutur Rizqi.

Keputusan muktamar ini menunjukkan bahwa di tengah kepungan panser dan sniper, para ulama NU tetap memikirkan isu-isu kemanusiaan dan keberlanjutan alam.

Hal ini mempertegas identitas NU sebagai organisasi yang tidak hanya berkutat pada regenerasi kepemimpinan, tetapi juga pada kemaslahatan publik yang lebih luas.

Baca juga: Ketika Wapres Gibran Bawa Payung Sendiri Lindungi Kiai dari Hujan, Kesantunan yang Membekas di Cipasung

Dilansir dari website resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), nu.or.id, Muktamar yang menegangkan itu memutuskan pencemaran ingkungan, baik udara, air, maupun tanah, apabila menimbulkan kerusakan, maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat).

Hasil muktamar ini pun pernah diperkuat pada 23 Juli 2007 lewat Gerakan Nasional Kehutanan. Secara khusus, PBNU mengajar warga NU dan rakyat Indonesia jihad melestarikan lingkungan (jihad bi'ah) dengan tetap berpedoman pada kaidah tasawuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan amar ma'ruf nahi munkar.

Cerita dari Cipasung 1994 adalah pelajaran tentang bagaimana sebuah institusi keagamaan bisa bertahan di bawah tekanan rezim otoriter.

Melalui kombinasi keteguhan prinsip Gus Dur, kesantunan diplomasi Kiai Ilyas Ruhiat, dan keterbukaan pikiran dalam merumuskan fikih baru, NU berhasil melewati lubang jarum sejarah dan keluar menjadi organisasi yang lebih matang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cek Jadwal Imsakiyah 2026 Jakarta Hari Pertama Versi Muhammadiyah
Cek Jadwal Imsakiyah 2026 Jakarta Hari Pertama Versi Muhammadiyah
Aktual
Jadwal Imsakiyah 2026 Muhammadiyah Lengkap Kabupaten/Kota se-Indonesia
Jadwal Imsakiyah 2026 Muhammadiyah Lengkap Kabupaten/Kota se-Indonesia
Aktual
Tak Semua Orang Wajib Puasa, Siapa Saja? Ini Penjelasan Lengkapnya
Tak Semua Orang Wajib Puasa, Siapa Saja? Ini Penjelasan Lengkapnya
Aktual
Doa Ramadhan: Bacaan Lengkap Menyambut Puasa, dari Doa Awal Bulan hingga Doa Berbuka
Doa Ramadhan: Bacaan Lengkap Menyambut Puasa, dari Doa Awal Bulan hingga Doa Berbuka
Doa dan Niat
Sniper di Atas Masjid Cipasung 1994: Detik-detik Mencekam Gus Dur vs Soeharto
Sniper di Atas Masjid Cipasung 1994: Detik-detik Mencekam Gus Dur vs Soeharto
Aktual
Jadwal Pembelajaran Pesantren Selama Ramadhan 2026 dari Kemenag
Jadwal Pembelajaran Pesantren Selama Ramadhan 2026 dari Kemenag
Aktual
Hilal Masih di Bawah Ufuk, NU Tetap Rukyatul Hilal 17 Februari 2026
Hilal Masih di Bawah Ufuk, NU Tetap Rukyatul Hilal 17 Februari 2026
Aktual
Sekjen PBB Antonio Guterres Ajak Dunia Jadikan Ramadhan 2026 Momentum Perdamaian
Sekjen PBB Antonio Guterres Ajak Dunia Jadikan Ramadhan 2026 Momentum Perdamaian
Aktual
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Muhammadiyah Hari Pertama: Cek Waktu Imsak, Subuh hingga Maghrib di 5 Kota Besar
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Muhammadiyah Hari Pertama: Cek Waktu Imsak, Subuh hingga Maghrib di 5 Kota Besar
Aktual
Pemkot Jambi Larang Operasional Hiburan Malam Mulai H-3 Ramadhan hingga H+3 Lebaran
Pemkot Jambi Larang Operasional Hiburan Malam Mulai H-3 Ramadhan hingga H+3 Lebaran
Aktual
Jadwal dan Link Live Streaming Sidang Isbat Awal Puasa 1 Ramadhan 2026
Jadwal dan Link Live Streaming Sidang Isbat Awal Puasa 1 Ramadhan 2026
Aktual
Gamis Lebaran 2026 Terbaru di Toko Online, Model Simple hingga Mewah Mulai Diburu
Gamis Lebaran 2026 Terbaru di Toko Online, Model Simple hingga Mewah Mulai Diburu
Aktual
Butter Yellow Jadi Tren Warna Lebaran, Cocok untuk Seragam Keluarga
Butter Yellow Jadi Tren Warna Lebaran, Cocok untuk Seragam Keluarga
Aktual
Jadwal Sholat Hari Ini Kota Medan Selasa, 17 Februari 2026
Jadwal Sholat Hari Ini Kota Medan Selasa, 17 Februari 2026
Aktual
Jadwal Sholat Hari Ini Kabupaten Karawang Selasa, 17 Februari 2026
Jadwal Sholat Hari Ini Kabupaten Karawang Selasa, 17 Februari 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com