Editor
KOMPAS.com - Bulan suci Ramadhan di Indonesia bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga perayaan budaya yang sarat makna.
Dari barat hingga timur, masyarakat menyambutnya dengan ragam tradisi yang memperlihatkan harmoni, solidaritas, hingga kekayaan kuliner khas daerah.
Berikut deretan tradisi Ramadhan di Nusantara yang selalu dinanti setiap tahun:
Di Kota Semarang, tradisi Dugderan menjadi penanda datangnya Ramadhan. Festival rakyat ini identik dengan arak-arakan Warak Ngendog dan tabuhan bedug.
Baca juga: Dari Dugderan hingga 3.000 Culok, Tradisi Sambut Ramadhan 1447 H Semarak di Berbagai Daerah
Menariknya, Dugderan tahun ini dimaknai sebagai simbol harmoni lintas agama karena berdekatan dengan perayaan Imlek dan masa puasa Paskah. Masih di Semarang, masyarakat juga menggelar Semaan Al Quran di Masjid Agung Kauman, dengan tafsir berbahasa Jawa sederhana agar mudah dipahami semua kalangan.
Warga Tangerang, Banten, menyambut Ramadhan dengan tradisi keramas bersama. Ritual ini melambangkan pembersihan diri, baik secara fisik maupun spiritual, sebelum memasuki bulan suci.
Sejumlah Sapi Yang Disiapkan Pemkab Bener Meriah Untuk Dibagikan ke Desa-Desa Terdampak Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten SetempatDi wilayah Aceh dan Sumatera Utara, masyarakat mempertahankan tradisi Meugang atau potong sapi menjelang Ramadhan.
Tradisi ini begitu penting sehingga bantuan sapi, termasuk dari Presiden, disalurkan ke desa-desa terdampak bencana agar masyarakat tetap dapat merayakannya.
Momen ini bukan sekadar makan bersama, melainkan simbol kebersamaan dan kepedulian sosial.
Di Pekanbaru, masyarakat juga mengenal tradisi Petang Megang untuk menyambut bulan puasa.
Wilayah Kalimantan dan Sulawesi merayakan Ramadhan dengan pawai Tarhib yang meriah. Sementara di Gorontalo, ada tradisi Koko'o, yakni kegiatan membangunkan warga saat sahur dengan cara semarak dan penuh keceriaan.
Tradisi ini menjadi pengingat kebersamaan sekaligus menjaga semangat warga selama menjalani puasa.
Ramadhan di Indonesia juga identik dengan kekayaan kuliner. Kolak hampir selalu hadir sebagai takjil favorit.
Di Samarinda, masyarakat menikmati Bubur Peca saat berbuka. Sementara di Palangka Raya, Bingka Kentang menjadi menu andalan.
Ada pula Gohu Ikan yang populer di kawasan timur Indonesia, hingga sajian kambing qoozi aromatik ala Yaman yang mulai banyak digemari.
Menjelang akhir Ramadhan, masyarakat di Ternate menggelar tradisi Ela-ela di Kedaton Kesultanan Ternate untuk menyambut malam Lailatul Qadar.
Sementara itu, Festival Tumbilotohe di Gorontalo mempercantik malam ke-27 Ramadhan dengan ribuan lampu yang menyala serentak, menciptakan suasana sakral sekaligus memukau.
Ragam tradisi ini menunjukkan bahwa Ramadhan di Indonesia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.
Baca juga: 7 Tradisi Ramadhan Zaman Dulu yang Kini Jarang Ditemui
Lebih dari itu, bulan suci menjadi momentum memperkuat identitas budaya, mempererat silaturahmi, dan membangun solidaritas sosial di tengah keberagaman.
Di tengah modernisasi, tradisi-tradisi ini tetap hidup—menjadi bukti bahwa Ramadhan di Nusantara selalu hadir dengan warna yang berbeda, namun tetap satu dalam makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang