Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Masjid Tertua di Samarinda: Dari Kampung Maksiat Jadi Pusat Ibadah

Kompas.com, 22 Februari 2026, 19:31 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Sebuah bangunan tua berdiri kokoh di tepian Sungai Mahakam, menjadi saksi bisu perubahan zaman dan moral masyarakat.

Dialah Masjid Shirathal Mustaqiem, rumah ibadah tertua di Kota Samarinda, yang menyimpan kisah transformasi luar biasa: dari kampung maksiat menjadi pusat syiar Islam.

Kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid, Samarinda Seberang, pada penghujung abad ke-19 bukanlah tempat untuk melantunkan doa.

Riwayat tutur masyarakat menyebut, sabung ayam, perjudian, dan berbagai praktik yang jauh dari nilai agama pernah menjadi denyut kehidupan sehari-hari di sana.

Baca juga: Bukan Arab, Ini Daftar Negara dengan Masjid Terbanyak di Dunia, Indonesia Nomor 1

Datangnya Ulama Pendatang yang Mengubah Sejarah

Perubahan besar itu bermula dari kedatangan seorang ulama sekaligus saudagar keturunan Arab bernama Said Abdurachman bin Assegaf, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Bendahara.

Ia berasal dari wilayah Pontianak dan semula hanya berniat berdagang menyusuri jalur perdagangan pesisir Kalimantan.

Kapalnya berlabuh di wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura, tepatnya di Samarinda Seberang.

Namun, niat berniaga itu perlahan berubah menjadi panggilan dakwah. Di balik gemerlap aktivitas pelabuhan, ia melihat potensi besar Samarinda Seberang sebagai pusat penyebaran Islam di tanah Kutai.

Dengan pendekatan humanis dan keteladanan akhlak, Said Abdurachman merangkul masyarakat yang kala itu lekat dengan kebiasaan negatif. Ia tak datang dengan paksaan, melainkan dengan kesabaran dan ilmu.

Diangkat Sultan Kutai, Diberi Amanah Besar

Kabar tentang keberhasilannya membawa ketenangan dan perubahan moral sampai ke telinga Sultan Kutai saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Pada 1880, sang ulama diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang serta dianugerahi gelar Pangeran Bendahara. Bagi Said Abdurachman, jabatan itu bukan simbol kekuasaan, melainkan amanah untuk memperluas syiar Islam.

Dibangun di Atas Bekas Arena Judi

Setahun kemudian, pada 1881, ia mewujudkan gagasan besar: membangun masjid sebagai pusat pijakan spiritual masyarakat. Masjid itu didirikan tepat di lahan yang dulunya kerap menjadi arena perjudian—sebuah simbol pembersihan moral secara nyata.

Masjid Shirathal Mustaqiem pun berdiri, menjadi pusat ibadah dan kajian Islam yang terus berkembang. Sepeninggal Pangeran Bendahara, pembangunan dan perawatannya dilanjutkan oleh tokoh setempat, Kapitan Jaya.

Kini, lebih dari satu abad berselang, masjid ini tetap kokoh di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang. Menara segi delapan setinggi 21 meter masih menjulang, memancarkan aura sejarah dan spiritualitas.

Cagar Budaya dan Simbol Hidayah

Masjid ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Namun, nilainya jauh melampaui status administratif.

Ia adalah monumen perjuangan dakwah, bukti bahwa perubahan sosial bisa lahir dari keteladanan dan kesabaran.

Baca juga: Sniper di Atas Masjid Cipasung 1994: Detik-detik Mencekam Gus Dur vs Soeharto

Gema azan dari menara tua itu seolah menjadi pengingat abadi bagi warga Samarinda: tidak ada hati yang terlalu keras untuk menerima hidayah, dan tidak ada kampung yang terlalu kelam untuk disinari cahaya iman.

Kisah Pangeran Bendahara dan Masjid Shirathal Mustaqiem bukan sekadar legenda. Ia adalah sejarah hidup tentang bagaimana ilmu, akhlak, dan keikhlasan mampu mengubah wajah sebuah kampung—dari gelap menjadi terang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
26 Hari Jelang Lebaran 2026, Tren Gamis Abaya Ini Diprediksi Laris Manis
26 Hari Jelang Lebaran 2026, Tren Gamis Abaya Ini Diprediksi Laris Manis
Aktual
Lupa Niat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasan PBNU Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanafi
Lupa Niat Puasa Ramadhan? Ini Penjelasan PBNU Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanafi
Doa dan Niat
Kisah Masjid Tertua di Samarinda: Dari Kampung Maksiat Jadi Pusat Ibadah
Kisah Masjid Tertua di Samarinda: Dari Kampung Maksiat Jadi Pusat Ibadah
Aktual
Tradisi Ramadhan Paling Unik di Nusantara, dari Dugderan hingga Tumbilotohe
Tradisi Ramadhan Paling Unik di Nusantara, dari Dugderan hingga Tumbilotohe
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Semarang Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Semarang Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Bogor Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Bogor Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa di Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunungkidul Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa di Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunungkidul Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Kesepakatan Dagang RI-AS Dikritik Waketum MUI: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
Kesepakatan Dagang RI-AS Dikritik Waketum MUI: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
Aktual
5 Doa Berbuka Puasa yang Mustajab, Lengkap Arab, Arti, dan Dalil Hadis
5 Doa Berbuka Puasa yang Mustajab, Lengkap Arab, Arti, dan Dalil Hadis
Doa dan Niat
Jadwal Buka Puasa Kota Bandung Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Bandung Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
BI Sumsel Siapkan 110 Titik Penukaran Uang Selama Ramadhan 2026, Simak Jadwalnya
BI Sumsel Siapkan 110 Titik Penukaran Uang Selama Ramadhan 2026, Simak Jadwalnya
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Samarinda Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Samarinda Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Bolehkah Berbuka Ikut Adzan Maghrib Paling Cepat? Ini Penjelasan Fikih dan Risikonya
Bolehkah Berbuka Ikut Adzan Maghrib Paling Cepat? Ini Penjelasan Fikih dan Risikonya
Aktual
Bagaimana Mengatur Jadwal Minum Obat Saat Puasa Ramadhan? Ini Saran Ahli Farmasi
Bagaimana Mengatur Jadwal Minum Obat Saat Puasa Ramadhan? Ini Saran Ahli Farmasi
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Jakarta Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Jakarta Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com