KOMPAS.com – Memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, suasana masjid di berbagai tempat biasanya berubah menjadi lebih hidup.
Jamaah datang lebih awal, lantunan tilawah Al-Qur’an terdengar lebih sering, dan sebagian umat Muslim memilih menghabiskan malamnya di masjid untuk satu ibadah yang sangat dianjurkan, yaitu i’tikaf.
Tradisi berdiam diri di masjid ini bukan sekadar kebiasaan Ramadhan. Dalam khazanah Islam, i’tikaf dipahami sebagai momen pengasingan spiritual, sebuah kesempatan bagi seorang Muslim untuk menjauh sejenak dari rutinitas dunia dan memusatkan perhatian sepenuhnya pada ibadah kepada Allah SWT.
Baca juga: Aturan Baru Itikaf Ramadan 2026: Arab Saudi Wajibkan Ekspatriat Kantongi Izin Sponsor
Karena itu, memahami niat i’tikaf, syarat sah, serta tata cara pelaksanaannya menjadi penting agar ibadah ini dilakukan sesuai tuntunan syariat.
Terlebih, i’tikaf sering kali menjadi jalan untuk meraih satu malam yang sangat dinantikan pada bulan Ramadhan, yaitu malam lailatul qadar.
Dalam literatur fiqih, i’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang berarti menetap atau berdiam diri di suatu tempat dengan tujuan tertentu.
Dalam konteks ibadah, i’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai bentuk ibadah.
Praktik ini bukan hanya dilakukan oleh umat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga telah dikenal sejak masa nabi-nabi sebelumnya.
Baca juga: Malam Lailatul Qadar 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Jadwalnya
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan yang sujud’.” (QS. Al-Baqarah: 125)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa praktik i’tikaf telah dikenal sejak masa Nabi Ibrahim AS dan menjadi bagian dari tradisi ibadah di rumah Allah.
Sementara dalam hadis, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW secara konsisten melaksanakan i’tikaf setiap Ramadhan.
Aisyah RA meriwayatkan:
“Nabi SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan karena selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Baca juga: Dzikir di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kunci Mendapat Lailatul Qadar
Sepuluh malam terakhir Ramadhan sering disebut sebagai fase paling penting dalam perjalanan ibadah selama bulan puasa.
Pada periode ini, umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah karena terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu lailatul qadar.
Allah SWT berfirman:
“Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Dalam buku Fiqh Puasa karya Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah momentum spiritual paling tinggi dalam ibadah puasa.
Pada masa inilah seorang Muslim dianjurkan meningkatkan ibadah, memperbanyak dzikir, serta memperbanyak doa.
I’tikaf menjadi salah satu cara terbaik untuk menghidupkan malam-malam tersebut karena seorang Muslim dapat fokus beribadah tanpa terganggu oleh aktivitas duniawi.
Baca juga: Ramadhan 1447 H: Ini Doa Mustajab Saat Sahur, Berbuka, dan Lailatul Qadar
Dalam Islam, setiap ibadah dimulai dengan niat. Begitu pula dengan i’tikaf.
Niat tidak harus diucapkan secara lisan, namun cukup dihadirkan dalam hati ketika seseorang memasuki masjid dengan tujuan beribadah.
Meski demikian, banyak ulama menganjurkan melafalkannya sebagai bentuk penguatan niat.
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ
Nawaitu an a’takifa fī hādzal masjidi mā dumtu fīhi.
Artinya: “Aku berniat i’tikaf di masjid ini selama aku berada di dalamnya.”
Niat ini biasa digunakan ketika seseorang masuk masjid dalam waktu singkat namun ingin mendapatkan pahala i’tikaf.
نَوَيْتُ الْاِعْتِكَافَ فِي هٰذَا الْمَسْجِدِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu al-i’tikāfa fī hādzal masjidi sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat i’tikaf di masjid ini sebagai sunnah karena Allah Ta’ala.”
Dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam Asy-Syafi’i dijelaskan bahwa niat menjadi rukun utama i’tikaf karena tanpa niat, aktivitas berdiam diri di masjid tidak dianggap sebagai ibadah.
Agar i’tikaf dinilai sah menurut syariat, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Penjelasan ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab fiqih klasik seperti Fathul Mu’in karya Zainuddin Al-Malibari dan Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi.
Beberapa syarat tersebut antara lain:
I’tikaf hanya sah dilakukan oleh seorang Muslim karena termasuk ibadah yang memerlukan niat mendekatkan diri kepada Allah.
Pelaku i’tikaf harus memiliki kesadaran penuh. Anak kecil yang sudah tamyiz boleh melakukannya, tetapi anak yang belum memahami ibadah belum dianggap sah.
Seseorang yang sedang junub, haid, atau nifas tidak diperbolehkan berdiam di masjid sehingga tidak dapat melaksanakan i’tikaf.
Mayoritas ulama sepakat bahwa i’tikaf harus dilakukan di masjid.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat Al-Qur’an yang membahas i’tikaf selalu dikaitkan dengan masjid sebagai tempat pelaksanaannya.
Tanpa niat, seseorang hanya dianggap duduk atau beristirahat di masjid, bukan melakukan i’tikaf.
Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar 2026? Ini Perkiraan Tanggal dan Amalan untuk Meraih Malam Seribu Bulan
Bagi umat Muslim yang ingin menjalankan i’tikaf, terdapat beberapa langkah yang dianjurkan agar ibadah ini berjalan dengan baik.
Masuk masjid dianjurkan dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid.
Setelah berada di dalam masjid, niatkan dalam hati untuk melakukan i’tikaf.
Selama i’tikaf, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak:
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa tujuan utama i’tikaf adalah membersihkan hati dari kesibukan dunia agar lebih mudah mengingat Allah.
Penggunaan gawai, percakapan yang tidak bermanfaat, atau aktivitas yang melalaikan sebaiknya dikurangi selama i’tikaf.
Seseorang boleh keluar dari masjid hanya untuk kebutuhan mendesak seperti buang air, mandi wajib, atau mengambil makanan jika tidak ada yang mengantarkannya.
Selain syarat dan tata cara, terdapat pula adab yang dianjurkan selama i’tikaf agar ibadah lebih bermakna.
Beberapa adab tersebut antara lain:
Menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, menjaga adab di masjid merupakan bagian dari penghormatan terhadap rumah Allah dan dapat meningkatkan nilai ibadah seseorang.
Baca juga: Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar Terkait Peristiwa Turunnya Al-Quran di Bulan Ramadhan
I’tikaf memiliki sejumlah keutamaan yang membuat ibadah ini sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Pertama, i’tikaf membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan malam lailatul qadar.
Kedua, i’tikaf membantu seseorang melakukan muhasabah atau introspeksi diri karena ia menjauh dari aktivitas duniawi.
Ketiga, orang yang menunggu waktu sholat di masjid akan terus didoakan oleh para malaikat agar mendapat ampunan dan rahmat Allah.
Dalam buku Ensiklopedi Amalan Ramadhan karya Muhammad Abduh Tuasikal dijelaskan bahwa i’tikaf merupakan salah satu ibadah yang dapat memperkuat hubungan spiritual antara seorang hamba dan Tuhannya.
Beberapa perbuatan dapat membatalkan i’tikaf, antara lain:
Karena itu, menjaga kesungguhan niat dan kedisiplinan selama i’tikaf menjadi hal yang sangat penting.
Bagi banyak Muslim, i’tikaf bukan sekadar ibadah tambahan di bulan Ramadhan. Ia sering menjadi puncak perjalanan spiritual selama bulan suci.
Melalui i’tikaf, seseorang belajar menenangkan hati, memperbanyak dzikir, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Ketika malam-malam terakhir Ramadhan berlalu, mereka yang menjalani i’tikaf sering merasakan ketenangan yang berbeda, sebuah perasaan dekat dengan Tuhan yang sulit ditemukan di tengah kesibukan sehari-hari.
Karena itu, memahami niat i’tikaf, syarat sah, serta tata cara pelaksanaannya menjadi langkah awal untuk menjalani ibadah ini dengan lebih khusyuk dan bermakna.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan pun dapat menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan berharap menjadi pribadi yang lebih baik setelah bulan suci berakhir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang