Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Niat I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan: Bacaan, Syarat, dan Tata Cara

Kompas.com, 5 Maret 2026, 11:04 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, suasana masjid di berbagai tempat biasanya berubah menjadi lebih hidup.

Jamaah datang lebih awal, lantunan tilawah Al-Qur’an terdengar lebih sering, dan sebagian umat Muslim memilih menghabiskan malamnya di masjid untuk satu ibadah yang sangat dianjurkan, yaitu i’tikaf.

Tradisi berdiam diri di masjid ini bukan sekadar kebiasaan Ramadhan. Dalam khazanah Islam, i’tikaf dipahami sebagai momen pengasingan spiritual, sebuah kesempatan bagi seorang Muslim untuk menjauh sejenak dari rutinitas dunia dan memusatkan perhatian sepenuhnya pada ibadah kepada Allah SWT.

Baca juga: Aturan Baru Itikaf Ramadan 2026: Arab Saudi Wajibkan Ekspatriat Kantongi Izin Sponsor

Karena itu, memahami niat i’tikaf, syarat sah, serta tata cara pelaksanaannya menjadi penting agar ibadah ini dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Terlebih, i’tikaf sering kali menjadi jalan untuk meraih satu malam yang sangat dinantikan pada bulan Ramadhan, yaitu malam lailatul qadar.

I’tikaf: Tradisi Ibadah yang Dicontohkan Nabi

Dalam literatur fiqih, i’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang berarti menetap atau berdiam diri di suatu tempat dengan tujuan tertentu.

Dalam konteks ibadah, i’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai bentuk ibadah.

Praktik ini bukan hanya dilakukan oleh umat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga telah dikenal sejak masa nabi-nabi sebelumnya.

Baca juga: Malam Lailatul Qadar 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Jadwalnya

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang rukuk dan yang sujud’.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa praktik i’tikaf telah dikenal sejak masa Nabi Ibrahim AS dan menjadi bagian dari tradisi ibadah di rumah Allah.

Sementara dalam hadis, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW secara konsisten melaksanakan i’tikaf setiap Ramadhan.

Aisyah RA meriwayatkan:

“Nabi SAW senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan karena selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Baca juga: Dzikir di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kunci Mendapat Lailatul Qadar

Mengapa I’tikaf Dilakukan pada 10 Malam Terakhir?

Sepuluh malam terakhir Ramadhan sering disebut sebagai fase paling penting dalam perjalanan ibadah selama bulan puasa.

Pada periode ini, umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah karena terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu lailatul qadar.

Allah SWT berfirman:

“Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Dalam buku Fiqh Puasa karya Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah momentum spiritual paling tinggi dalam ibadah puasa.

Pada masa inilah seorang Muslim dianjurkan meningkatkan ibadah, memperbanyak dzikir, serta memperbanyak doa.

I’tikaf menjadi salah satu cara terbaik untuk menghidupkan malam-malam tersebut karena seorang Muslim dapat fokus beribadah tanpa terganggu oleh aktivitas duniawi.

Baca juga: Ramadhan 1447 H: Ini Doa Mustajab Saat Sahur, Berbuka, dan Lailatul Qadar

Bacaan Niat I’tikaf 

Dalam Islam, setiap ibadah dimulai dengan niat. Begitu pula dengan i’tikaf.

Niat tidak harus diucapkan secara lisan, namun cukup dihadirkan dalam hati ketika seseorang memasuki masjid dengan tujuan beribadah.

Meski demikian, banyak ulama menganjurkan melafalkannya sebagai bentuk penguatan niat.

1. Niat I’tikaf Umum

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ

Nawaitu an a’takifa fī hādzal masjidi mā dumtu fīhi.

Artinya: “Aku berniat i’tikaf di masjid ini selama aku berada di dalamnya.”

Niat ini biasa digunakan ketika seseorang masuk masjid dalam waktu singkat namun ingin mendapatkan pahala i’tikaf.

2. Niat I’tikaf Sunnah di 10 Hari Terakhir Ramadhan

نَوَيْتُ الْاِعْتِكَافَ فِي هٰذَا الْمَسْجِدِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu al-i’tikāfa fī hādzal masjidi sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Aku berniat i’tikaf di masjid ini sebagai sunnah karena Allah Ta’ala.”

Dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam Asy-Syafi’i dijelaskan bahwa niat menjadi rukun utama i’tikaf karena tanpa niat, aktivitas berdiam diri di masjid tidak dianggap sebagai ibadah.

Syarat Sah I’tikaf

Agar i’tikaf dinilai sah menurut syariat, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Penjelasan ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab fiqih klasik seperti Fathul Mu’in karya Zainuddin Al-Malibari dan Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi.

Beberapa syarat tersebut antara lain:

1. Beragama Islam

I’tikaf hanya sah dilakukan oleh seorang Muslim karena termasuk ibadah yang memerlukan niat mendekatkan diri kepada Allah.

2. Berakal dan Tamyiz

Pelaku i’tikaf harus memiliki kesadaran penuh. Anak kecil yang sudah tamyiz boleh melakukannya, tetapi anak yang belum memahami ibadah belum dianggap sah.

3. Suci dari Hadas Besar

Seseorang yang sedang junub, haid, atau nifas tidak diperbolehkan berdiam di masjid sehingga tidak dapat melaksanakan i’tikaf.

4. Dilakukan di Masjid

Mayoritas ulama sepakat bahwa i’tikaf harus dilakukan di masjid.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat Al-Qur’an yang membahas i’tikaf selalu dikaitkan dengan masjid sebagai tempat pelaksanaannya.

5. Berniat I’tikaf

Tanpa niat, seseorang hanya dianggap duduk atau beristirahat di masjid, bukan melakukan i’tikaf.

Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar 2026? Ini Perkiraan Tanggal dan Amalan untuk Meraih Malam Seribu Bulan

Tata Cara Melaksanakan I’tikaf

Bagi umat Muslim yang ingin menjalankan i’tikaf, terdapat beberapa langkah yang dianjurkan agar ibadah ini berjalan dengan baik.

1. Masuk Masjid dengan Adab yang Baik

Masuk masjid dianjurkan dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid.

2. Membaca atau Menghadirkan Niat

Setelah berada di dalam masjid, niatkan dalam hati untuk melakukan i’tikaf.

3. Mengisi Waktu dengan Ibadah

Selama i’tikaf, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak:

  • sholat sunnah
  • membaca Al-Qur’an
  • dzikir dan istighfar
  • doa
  • mendengarkan kajian agama

Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa tujuan utama i’tikaf adalah membersihkan hati dari kesibukan dunia agar lebih mudah mengingat Allah.

4. Menghindari Aktivitas yang Tidak Perlu

Penggunaan gawai, percakapan yang tidak bermanfaat, atau aktivitas yang melalaikan sebaiknya dikurangi selama i’tikaf.

5. Keluar Masjid Hanya Jika Diperlukan

Seseorang boleh keluar dari masjid hanya untuk kebutuhan mendesak seperti buang air, mandi wajib, atau mengambil makanan jika tidak ada yang mengantarkannya.

Adab yang Dianjurkan Saat I’tikaf

Selain syarat dan tata cara, terdapat pula adab yang dianjurkan selama i’tikaf agar ibadah lebih bermakna.

Beberapa adab tersebut antara lain:

  • menjaga kebersihan masjid
  • berbicara dengan suara pelan
  • mengenakan pakaian yang bersih dan rapi
  • memperbanyak dzikir dan doa
  • menghindari perdebatan atau pembicaraan yang tidak perlu

Menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, menjaga adab di masjid merupakan bagian dari penghormatan terhadap rumah Allah dan dapat meningkatkan nilai ibadah seseorang.

Baca juga: Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar Terkait Peristiwa Turunnya Al-Quran di Bulan Ramadhan

Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan

I’tikaf memiliki sejumlah keutamaan yang membuat ibadah ini sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Pertama, i’tikaf membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Kedua, i’tikaf membantu seseorang melakukan muhasabah atau introspeksi diri karena ia menjauh dari aktivitas duniawi.

Ketiga, orang yang menunggu waktu sholat di masjid akan terus didoakan oleh para malaikat agar mendapat ampunan dan rahmat Allah.

Dalam buku Ensiklopedi Amalan Ramadhan karya Muhammad Abduh Tuasikal dijelaskan bahwa i’tikaf merupakan salah satu ibadah yang dapat memperkuat hubungan spiritual antara seorang hamba dan Tuhannya.

Hal-hal yang Membatalkan I’tikaf

Beberapa perbuatan dapat membatalkan i’tikaf, antara lain:

  • berhubungan suami istri
  • keluar masjid tanpa kebutuhan mendesak
  • murtad atau keluar dari Islam
  • hilang akal karena mabuk atau gangguan lainnya
  • haid atau nifas bagi perempuan

Karena itu, menjaga kesungguhan niat dan kedisiplinan selama i’tikaf menjadi hal yang sangat penting.

Momentum Spiritual di Penghujung Ramadhan

Bagi banyak Muslim, i’tikaf bukan sekadar ibadah tambahan di bulan Ramadhan. Ia sering menjadi puncak perjalanan spiritual selama bulan suci.

Melalui i’tikaf, seseorang belajar menenangkan hati, memperbanyak dzikir, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Ketika malam-malam terakhir Ramadhan berlalu, mereka yang menjalani i’tikaf sering merasakan ketenangan yang berbeda, sebuah perasaan dekat dengan Tuhan yang sulit ditemukan di tengah kesibukan sehari-hari.

Karena itu, memahami niat i’tikaf, syarat sah, serta tata cara pelaksanaannya menjadi langkah awal untuk menjalani ibadah ini dengan lebih khusyuk dan bermakna.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan pun dapat menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan berharap menjadi pribadi yang lebih baik setelah bulan suci berakhir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com