Editor
KOMPAS.com - Kementerian Agama bersama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk pengadaan 100 ribu Al Quran Iluminasi Tionghoa. Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Senin (16/3/2026).
MoU tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dan Ketua Umum PITI Serian Wijatno sebagai bentuk kolaborasi dalam memperkuat persatuan bangsa melalui pendekatan budaya dan keagamaan.
“Jangan dikira wakaf Al Quran hanya membahagiakan penerima. Sebelum mereka bahagia, Tuhan lebih dahulu menitipkan kebahagiaan kepada orang yang memberi,” ujar Menag Nasaruddin Umar dilansir dari Antaranews.
Baca juga: Tradisi Peringatan Nuzulul Quran di Indonesia, dari Seribu Tumpeng hingga Khataman Al-Quran
Menurut Nasaruddin Umar, inisiatif pengadaan Al Quran dengan sentuhan seni Tionghoa ini bukan sekadar penyediaan kitab suci, melainkan simbol kuat harmoni serta kekayaan budaya Islam yang tumbuh di Nusantara.
Ia menegaskan bahwa perbedaan budaya seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai kekayaan bangsa.
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk memperindah kehidupan. Indonesia adalah lukisan Tuhan yang indah dan harus kita rawat bersama,” ujarnya.
Sentuhan motif Tionghoa dalam mushaf tersebut berada pada bagian iluminasi atau seni hiasan halaman, bukan pada teks ayat suci. Dengan demikian, teks Al Quran tetap mengikuti standar tashih dan tidak mengalami perubahan sedikit pun.
Ketua Umum PITI Serian Wijatno mengatakan kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa).
Menurutnya, mushaf dengan iluminasi khas Tionghoa ini menjadi bukti bahwa Islam mampu bersanding harmonis dengan keragaman budaya Nusantara.
Ia menjelaskan bahwa hubungan antara Islam dan etnis Tionghoa di Indonesia telah terjalin sejak berabad-abad lalu.
“Eksistensi Al Quran dengan desain iluminasi Tionghoa ini seperti melengkapi narasi sejarah panjang Islam sejak era Laksamana Cheng Ho hingga penyebaran Islam di pesisir Nusantara. Terjadi proses akulturasi yang damai,” ujar Serian.
“Islam tidak menghapus identitas budaya, melainkan memperkayanya,” tambahnya.
Iluminasi pada mushaf ini menampilkan berbagai ornamen khas budaya Tionghoa, seperti motif awan, bunga teratai, serta perpaduan warna merah dan emas yang dipadukan dengan kaidah penulisan khat Arab.
Perpaduan estetika tersebut menunjukkan bahwa unsur budaya Tionghoa telah menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Islam di Indonesia.
Baca juga: Museum Makkah Pajang Al-Qur’an Raksasa 3 Meter, Terbesar di Dunia
Serian menegaskan bahwa kolaborasi antara PITI, Kementerian Agama, dan Masjid Istiqlal dalam pengadaan mushaf ini merupakan wujud nyata harmoni antara agama dan budaya.
“Kerja sama antara PITI, Kementerian Agama, dan Masjid Istiqlal dalam pengadaan Al Quran Iluminasi Tionghoa adalah wujud nyata dari harmoni budaya dan agama,” kata Serian Wijatno.
Inisiatif ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah seni mushaf Al Quran di Indonesia, tetapi juga memperkuat pesan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, yang mampu hidup berdampingan dengan berbagai budaya secara damai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang