Editor
KOMPAS.com – Tren liburan Lebaran 2026 mengalami pergeseran menarik di kalangan wisatawan Arab Saudi.
Jika sebelumnya identik dengan destinasi ramai dan gemerlap, kini semakin banyak traveler memilih tempat yang tenang, nyaman, dan berfokus pada kesehatan mental atau wellness.
Perubahan ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap resort-relaxing, mulai dari destinasi domestik seperti AlUla hingga proyek wisata mewah AMAALA di pesisir Laut Merah.
Bahkan, tren ini juga merambah ke luar negeri. Banyak wisatawan Saudi kini lebih memilih destinasi yang menawarkan ketenangan dibanding keramaian kota besar.
Baca juga: Arab Saudi Melejit! Kini Lebih Bahagia dari AS dan Inggris di 2026
Menurut laporan konsultan perjalanan Blue Sail, generasi muda berusia 18–40 tahun menjadi pendorong utama tren ini.
Mereka semakin memprioritaskan kesehatan mental dan keseimbangan hidup, bahkan saat berlibur.
Pilihan destinasi pun berubah. Wisatawan kini cenderung memilih Gstaad dibanding St Moritz dan Koh Samui dibanding Phuket atau Bangkok.
Destinasi tersebut dinilai menawarkan suasana lebih intim, tenang, dan jauh dari hiruk pikuk wisata massal.
Seorang warga Riyadh, Lujain Al-Alamy, mengaku lebih menyukai hotel butik dibanding hotel komersial besar. Menurutnya, suasana yang hangat dan personal menjadi daya tarik utama.
“Saya suka tempat yang lebih intim dan cozy. Biasanya hotel keluarga dengan pelayanan yang lebih personal,” ujarnya.
Tren ini juga dipengaruhi oleh kebutuhan untuk “recharge” setelah Ramadhan. Banyak traveler ingin mencari suasana baru yang lebih damai setelah menjalani rutinitas ibadah dan aktivitas padat.
Ghayed Al-Wassiah, seorang mahasiswa kedokteran, mengaku lebih tertarik pada destinasi yang tidak didominasi kehidupan malam.
“Saya ingin tempat yang lebih tenang tahun ini, apalagi setelah Ramadhan yang cukup padat,” katanya.
Hal serupa disampaikan Nawal Al-Naif yang melihat liburan sebagai kesempatan untuk menyegarkan pikiran.
“Ini waktu untuk rehat dan memulai kembali dengan suasana baru setelah Ramadhan,” ujarnya.
Selain ketenangan, faktor privasi juga menjadi pertimbangan utama. Banyak wisatawan kini memilih vila pribadi atau resort eksklusif untuk menghindari keramaian.
Namun, sebagian tetap menginginkan keseimbangan antara suasana tenang dan aktivitas sosial. Seperti diungkapkan Lama Al-Suhaimi, yang sesekali memilih vila privat, tetapi tidak sepanjang liburan.
Tren ini bukan sekadar fenomena sementara. Industri wisata wellness global bahkan diperkirakan mencapai nilai 436 miliar dolar AS pada 2025, menandakan pertumbuhan yang signifikan.
Sejalan dengan visi besar Arab Saudi melalui program transformasi nasional, tren ini diprediksi akan terus berkembang, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Liburan kini bukan lagi sekadar bersenang-senang, tetapi juga menjadi momen untuk memulihkan diri, menjaga kesehatan mental, dan menikmati ketenangan—sebuah perubahan gaya hidup yang semakin relevan di era modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang