Editor
KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana dapur di kampung-kampung biasanya dipenuhi aroma rempah yang menggoda. Namun di balik itu, ada tradisi lama yang kini kian jarang terlihat: tukar rantang atau hantaran makanan ke tetangga.
Tradisi ini dulunya menjadi bagian penting dari momen Lebaran. Warga memasak berbagai hidangan, lalu menyusunnya dalam rantang untuk dibagikan ke sekitar. Bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga mempererat silaturahmi dan rasa kebersamaan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai tradisi ini memiliki nilai adab yang tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Tradisi leluhur kami kalau memberi itu bukan mentah sebenarnya. Kalau memberi itu mengantar tinggal dimakan, sangat beradab,” ujarnya dikutip dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel dan dikonfirmasi ulang Kompas.com, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Bisht, Jubah Tradisional Arab Saudi yang Jadi Simbol Kehormatan dan Tradisi Saat Idul Fitri
Ia menegaskan, berbagi makanan matang mencerminkan perhatian yang lebih dalam dibandingkan sekadar memberi bahan mentah.
“Dalam hidup itu tetangga dulu yang dianteuran (diberi hantaran) sebelum yang jauh, yang dekat dulu,” tambahnya.
Namun, menurut Dedi, nilai-nilai ini kini mulai memudar.
“Ini yang disebut dengan pola kehidupan kita yang sekarang sudah terkikis oleh zaman... akhirnya menghilangkan keakraban, kekerabatan, saling memberi, saling cinta kasih,” ungkapnya.
Tradisi Tukar Rantang
Di dapur tradisional, proses memasak menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Hidangan seperti semur daging dimasak dengan gaya lama yang penuh cita rasa.
“Ini semur daging, dimasaknya gaya baheula (zaman dulu), gaya jadul. Semur baheula dagingnya sedikit, airnya banyak, tapi kalau Lebaran mah dagingnya agak besar,” kata Dedi.
Ia bahkan menyebut racikan khas yang digunakan.
“Bukan bumbu 12 ini, bumbu 14. Oh, ini pasti mantap!” ujarnya penuh semangat.
Suasana dapur pun terasa hidup, penuh kehangatan dan kebersamaan.
“Dapur Bapak Aing! Dulu, dapur Bapak Aing atuh... selamat lebaran, semoga Allah selalu membimbingmu,” ucapnya, menggambarkan nostalgia masa lalu.
Tradisi tukar rantang juga menjadi media pendidikan karakter bagi anak-anak. Mereka diajak untuk membawa rantang ke rumah tetangga, belajar bersosialisasi, dan memahami arti berbagi.
“Biar dia (Nyi Hyang, putri bungsi Dedi Mulyadi) belajar bagaimana hidup bermasyarakat di desa dengan pola-pola sosial,” kata Dedi.
Dalam prosesnya, anak-anak juga dilatih tanggung jawab dan kemandirian.
“Ayo, belajar bawa berat, squat-squat...” ucapnya sambil menyemangati.
Dedi mengenang masa kecilnya saat tradisi ini masih begitu kuat dijalankan.
“Dulu waktu kecil saya sendiri yang mengantar ke Nini Iko... meskipun masak sendiri tapi yang mewadahi (makanan) banyak, satu lembur (desa) hebat orang-orang dulu,” kenangnya.
Kini, pemandangan anak-anak membawa rantang menyusuri gang desa mulai jarang terlihat. Tradisi ini perlahan tergeser oleh gaya hidup modern yang serba praktis.
Tradisi tukar rantang bukan hanya soal makanan, tetapi simbol kuat dari nilai kemanusiaan: berbagi, peduli, dan menjaga hubungan sosial.
Baca juga: Cerita Lebaran Penyintas Banjir Aceh Timur, dari Pohon Pengingat Sujud hingga Tradisi Meugang
Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan Lebaran sejatinya terletak pada kebersamaan.
Jika tidak dijaga, bukan tidak mungkin tradisi ini hanya akan tinggal cerita.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang