Editor
KOMPAS.com — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa peran kebangsaan Muhammadiyah tidak bergantung pada rezim yang berkuasa.
Menurut Haedar, Muhammadiyah akan terus hadir mengawal perjalanan bangsa agar tetap berada di jalur yang benar, maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
“Rezim boleh berganti, tetapi Muhammadiyah sebagai ormas yang sejak awal kemerdekaan ikut berjuang dan setelah Indonesia merdeka, kita harus tetap mengawal bangsa ini berada di arah yang benar,” ujarnya dalam Silaturahmi Syawalan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Selasa (31/3/2026).
Baca juga: MUI Serukan Perang Lawan Konten Amoral! Ruang Digital RI Disebut Darurat, Generasi Muda Terancam
Haedar menjelaskan, peran tersebut menuntut kecerdasan dan kearifan Muhammadiyah untuk terus berdialog dengan berbagai komponen bangsa, termasuk kalangan elit di lembaga yudikatif, eksekutif, dan legislatif.
Kehadiran Muhammadiyah dalam ruang-ruang dialog, lanjutnya, bukan sekadar formalitas, melainkan untuk memastikan arah bangsa tidak melenceng akibat kekuasaan yang disalahgunakan.
“Jangan sampai kekuasaan hanya untuk kekuasaan, tapi membuat melenceng arah bangsa ini,” tegas Guru Besar Ilmu Sosiologi tersebut dilansir dari situs resmi Muhammadiyah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah dinamika politik yang kerap memanas. Dalam situasi tertentu, menurutnya, selalu ada potensi munculnya pihak-pihak yang mengabaikan keutuhan bangsa.
“Tetapi kita juga harus seksama dalam dinamika politik yang boleh jadi berat, dalam momen-momen tertentu yang memperoleh pemicu – siapa tahu bahwa di antara komponen bangsa ada yang mulai mengabaikan aspek keutuhan dan persatuan bangsa ini,” katanya.
Haedar pun berpesan kepada semua pihak yang tengah bersitegang agar mengedepankan kebijaksanaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menekankan pentingnya nilai-nilai luhur, baik dalam demokrasi maupun ajaran agama, yang mengedepankan kemaslahatan serta mencegah kerusakan.
“Dalam nilai luhur agama itu yang mementingkan kemaslahatan, mencegah kedaruratan, menebar rahmat, dan keberkahan dalam kehidupan bangsa kita,” ungkapnya.
Baca juga: Pesan Idul Fitri 2026 Muhammadiyah: Haedar Nashir Ajak Umat Bangun Kepedulian dan Persaudaraan
Sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan tertua yang bahkan lebih dulu lahir sebelum Republik Indonesia, Muhammadiyah, kata Haedar, akan terus memainkan peran sebagai pengayom sekaligus pengkritik.
Posisi tersebut, lanjutnya, sejalan dengan Kepribadian Muhammadiyah yang menegaskan sikap korektif, baik ke dalam maupun ke luar, dengan cara yang bijaksana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang