PURWOREJO, KOMPAS.com – Siapa sangka, seorang santri sekaligus mahasiswa dari kampus daerah bisa berdiri di depan kelas mahasiswa Universitas Indonesia dan mengajar sebagai dosen tamu.
Itulah yang dialami Muhammad Rofiki, mahasiswa semester 6 dari Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Berjan, Purworejo, yang diundang langsung untuk mengisi perkuliahan di Fakultas Vokasi UI.
Momen itu terjadi pada Rabu, 12 Maret 2026. Rofiki hadir bukan dalam forum besar seperti seminar atau kuliah umum, melainkan dalam suasana yang lebih akademis yakni sebuah kelas mata kuliah Manajemen Produksi di Program Studi Sarjana Terapan Produksi Media, semester 4 di Universitas Indonesia Jakarta.
Ia diundang oleh salah satu dosen UI untuk menggantikan sesi perkuliahan selama kurang lebih 2 SKS atau sekitar 1,5 jam. Sesi tersebut malah menjadi pengalaman yang berkesan bagi sekitar 30 mahasiswa yang hadir.
Baca juga: 2 Santri Ini Tak Menyangka Disapa Langsung Prabowo di Istana Saat Malam Nuzulul Qur’an
“Awalnya saya pikir cuma sharing biasa, mungkin 5 sampai 10 menit selesai. Tapi ternyata sampai 1,5 jam, ada presentasi, diskusi, dan tanya jawab,” ujar Rofiki yang saat pada Sabtu (4/4/2026) masih belajar di Ponpes An-Nawawi.
Dalam sesi tersebut, Rofiki membagikan pengalaman praktisnya sebagai konten kreator digital, khususnya dalam membangun akun Instagram @arsip.peristiwa dengan pengikut 643 ribu.
Ia mengangkat tema yang relevan dengan mata kuliah, yakni bagaimana proses produksi konten di era digital dan kaitannya dengan manajemen produksi.
Meski tidak memiliki latar belakang akademik khusus di bidang produksi media, Rofiki justru hadir sebagai representasi nyata dari praktik di lapangan. Hal ini yang membuat dosen pengampu tertarik mengundangnya.
“Mahasiswa selama ini lebih banyak belajar teori. Nah, saya diajak masuk ke kelas itu supaya mereka bisa melihat langsung dari pelaku atau kreatornya,” katanya.
Rofiki menjelaskan, dalam kurun waktu yang relatif singkat ia berhasil mengembangkan akun media sosialnya hingga memiliki jumlah pengikut yang signifikan.
Pengalaman tersebut ia bagikan secara terbuka, mulai dari strategi konten, proses kreatif, hingga tantangan dalam menjaga konsistensi.
Antusiasme mahasiswa pun terlihat jelas sepanjang sesi berlangsung. Diskusi berjalan aktif, dengan berbagai pertanyaan yang muncul dari peserta. Mereka tampak tertarik menggali sisi implementatif yang selama ini tidak mereka dapatkan dari teori di kelas.
“Kalau dilihat dari responsnya, menurut saya sangat antusias. Mereka bisa langsung berdialog dengan saya yang memang menjalankan proses itu dari awal,” ujar Rofiki.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan utamanya bukan pada aspek teknis semata, melainkan pada pengalaman membangun sesuatu dari nol. Hal ini menjadi nilai tambah yang dirasakan mahasiswa sebagai bahan studi banding.
Menariknya, latar belakang Rofiki sebagai santri dan mahasiswa di kampus berbasis keagamaan tidak menjadi penghalang untuk masuk ke ruang akademik di kampus ternama seperti UI. Justru, hal itu menjadi cerita tersendiri yang menginspirasi.
Perjalanan Rofiki menunjukkan bahwa dunia digital membuka peluang yang luas bagi siapa saja, tanpa harus dibatasi oleh latar belakang pendidikan formal tertentu. Selama memiliki kemauan belajar dan konsistensi, siapa pun bisa menciptakan dampak.
Kegiatan tersebut memang tidak dirancang sebagai event besar. Tidak ada struktur panitia, tidak ada sertifikat, dan tidak ada formalitas berlebih. Namun, esensi dari kegiatan itu justru terletak pada pertukaran pengalaman dan pengetahuan secara langsung.
“Memang dari awal niatnya hanya main dan sharing saja. Tapi ternyata bisa jadi pengalaman yang luar biasa,” kata Rofiki.
Ke depan, ia berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan, baik di kampus lain maupun dalam skala yang lebih luas. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan praktisi sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.
Di sisi lain, kehadiran Rofiki juga menjadi bukti bahwa mahasiswa dari daerah memiliki potensi besar untuk tampil di level nasional. Dengan keberanian dan kemampuan berbagi pengalaman, ia mampu membawa perspektif baru ke ruang kelas di salah satu universitas terbaik di Indonesia.
Baca juga: Saat Gibran Lihat Robot Pengalir Air Wudhu Buatan Santri di Bandung...
Sementara itu, salah satu dosen IAI An-Nawawi, Anwar Ma’rufi menambahkan, kisah Rofiki ini sekaligus menjadi inspirasi bahwa perjalanan dari pesantren hingga menjadi dosen tamu di UI bukanlah hal yang mustahil.
Bahkan, dalam waktu 90 menit, seorang santri dan mahasiswa yang masih menempuh pendidikan semester 6 bisa mengubah cara pandang mahasiswa kampus terkenal terhadap dunia digital dan produksi konten.
"Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan mahasiswa kami dan sepenuhnya mendukung. Kami berharap ini bisa menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa lainnya," kata Anwar
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang