Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Pesantren ke UI: Kisah Mahasiswa Semester 6 yang Mengajar di Kampus Top Indonesia

Kompas.com, 5 April 2026, 06:55 WIB
Bayu Apriliano,
Farid Assifa

Tim Redaksi

PURWOREJO, KOMPAS.com – Siapa sangka, seorang santri sekaligus mahasiswa dari kampus daerah bisa berdiri di depan kelas mahasiswa Universitas Indonesia dan mengajar sebagai dosen tamu.

Itulah yang dialami Muhammad Rofiki, mahasiswa semester 6 dari Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Berjan, Purworejo, yang diundang langsung untuk mengisi perkuliahan di Fakultas Vokasi UI.

Momen itu terjadi pada Rabu, 12 Maret 2026. Rofiki hadir bukan dalam forum besar seperti seminar atau kuliah umum, melainkan dalam suasana yang lebih akademis yakni sebuah kelas mata kuliah Manajemen Produksi di Program Studi Sarjana Terapan Produksi Media, semester 4 di Universitas Indonesia Jakarta.

Ia diundang oleh salah satu dosen UI untuk menggantikan sesi perkuliahan selama kurang lebih 2 SKS atau sekitar 1,5 jam. Sesi tersebut malah menjadi pengalaman yang berkesan bagi sekitar 30 mahasiswa yang hadir.

Baca juga: 2 Santri Ini Tak Menyangka Disapa Langsung Prabowo di Istana Saat Malam Nuzulul Qur’an

“Awalnya saya pikir cuma sharing biasa, mungkin 5 sampai 10 menit selesai. Tapi ternyata sampai 1,5 jam, ada presentasi, diskusi, dan tanya jawab,” ujar Rofiki yang saat pada Sabtu (4/4/2026) masih belajar di Ponpes An-Nawawi.

Dari Konten ke Kelas Kampus Elite

Dalam sesi tersebut, Rofiki membagikan pengalaman praktisnya sebagai konten kreator digital, khususnya dalam membangun akun Instagram @arsip.peristiwa dengan pengikut 643 ribu.

Ia mengangkat tema yang relevan dengan mata kuliah, yakni bagaimana proses produksi konten di era digital dan kaitannya dengan manajemen produksi.

Meski tidak memiliki latar belakang akademik khusus di bidang produksi media, Rofiki justru hadir sebagai representasi nyata dari praktik di lapangan. Hal ini yang membuat dosen pengampu tertarik mengundangnya.

“Mahasiswa selama ini lebih banyak belajar teori. Nah, saya diajak masuk ke kelas itu supaya mereka bisa melihat langsung dari pelaku atau kreatornya,” katanya.

Rofiki menjelaskan, dalam kurun waktu yang relatif singkat ia berhasil mengembangkan akun media sosialnya hingga memiliki jumlah pengikut yang signifikan.

Pengalaman tersebut ia bagikan secara terbuka, mulai dari strategi konten, proses kreatif, hingga tantangan dalam menjaga konsistensi.

Antusiasme mahasiswa pun terlihat jelas sepanjang sesi berlangsung. Diskusi berjalan aktif, dengan berbagai pertanyaan yang muncul dari peserta. Mereka tampak tertarik menggali sisi implementatif yang selama ini tidak mereka dapatkan dari teori di kelas.

“Kalau dilihat dari responsnya, menurut saya sangat antusias. Mereka bisa langsung berdialog dengan saya yang memang menjalankan proses itu dari awal,” ujar Rofiki.

Ia juga menekankan bahwa kekuatan utamanya bukan pada aspek teknis semata, melainkan pada pengalaman membangun sesuatu dari nol. Hal ini menjadi nilai tambah yang dirasakan mahasiswa sebagai bahan studi banding.

Latar Belakang Bukan Batas

Menariknya, latar belakang Rofiki sebagai santri dan mahasiswa di kampus berbasis keagamaan tidak menjadi penghalang untuk masuk ke ruang akademik di kampus ternama seperti UI. Justru, hal itu menjadi cerita tersendiri yang menginspirasi.

Perjalanan Rofiki menunjukkan bahwa dunia digital membuka peluang yang luas bagi siapa saja, tanpa harus dibatasi oleh latar belakang pendidikan formal tertentu. Selama memiliki kemauan belajar dan konsistensi, siapa pun bisa menciptakan dampak.

Kegiatan tersebut memang tidak dirancang sebagai event besar. Tidak ada struktur panitia, tidak ada sertifikat, dan tidak ada formalitas berlebih. Namun, esensi dari kegiatan itu justru terletak pada pertukaran pengalaman dan pengetahuan secara langsung.

“Memang dari awal niatnya hanya main dan sharing saja. Tapi ternyata bisa jadi pengalaman yang luar biasa,” kata Rofiki.

Ke depan, ia berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan, baik di kampus lain maupun dalam skala yang lebih luas. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan praktisi sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Di sisi lain, kehadiran Rofiki juga menjadi bukti bahwa mahasiswa dari daerah memiliki potensi besar untuk tampil di level nasional. Dengan keberanian dan kemampuan berbagi pengalaman, ia mampu membawa perspektif baru ke ruang kelas di salah satu universitas terbaik di Indonesia.

Baca juga: Saat Gibran Lihat Robot Pengalir Air Wudhu Buatan Santri di Bandung...

Inspirasi untuk Mahasiswa Daerah

Sementara itu, salah satu dosen IAI An-Nawawi, Anwar Ma’rufi menambahkan, kisah Rofiki ini sekaligus menjadi inspirasi bahwa perjalanan dari pesantren hingga menjadi dosen tamu di UI bukanlah hal yang mustahil.

Bahkan, dalam waktu 90 menit, seorang santri dan mahasiswa yang masih menempuh pendidikan semester 6 bisa mengubah cara pandang mahasiswa kampus terkenal terhadap dunia digital dan produksi konten.

"Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan mahasiswa kami dan sepenuhnya mendukung. Kami berharap ini bisa menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa lainnya," kata Anwar

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Masuk 22 Negara Paling Bahagia 2026, Dampak Vision 2030
Arab Saudi Masuk 22 Negara Paling Bahagia 2026, Dampak Vision 2030
Aktual
Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen
Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen
Aktual
Dari “Surga Terlupakan” ke Pusat Ekonomi Dunia: Makran Iran Bangkit di Jalur Perdagangan Eurasia
Dari “Surga Terlupakan” ke Pusat Ekonomi Dunia: Makran Iran Bangkit di Jalur Perdagangan Eurasia
Aktual
Menag Soroti MBG Belum Merata, Madrasah Baru 10–12 Persen
Menag Soroti MBG Belum Merata, Madrasah Baru 10–12 Persen
Aktual
Waspada Haji Jalur Cepat! Visa Ziarah Tidak Bisa Dipakai untuk Berhaji
Waspada Haji Jalur Cepat! Visa Ziarah Tidak Bisa Dipakai untuk Berhaji
Aktual
69 Ribu Santri Ikuti UAN Pendidikan Kesetaraan 2026, Ijazahnya Diakui Negara
69 Ribu Santri Ikuti UAN Pendidikan Kesetaraan 2026, Ijazahnya Diakui Negara
Aktual
Nama Penuh Makna: Kisah Bayi “Ali Khamanei” dan Jejak Inspirasi Lintas Bangsa
Nama Penuh Makna: Kisah Bayi “Ali Khamanei” dan Jejak Inspirasi Lintas Bangsa
Aktual
Panen Mawar Saudi Naik, Berpotensi Jadi Bahan Industri Kuliner Dunia
Panen Mawar Saudi Naik, Berpotensi Jadi Bahan Industri Kuliner Dunia
Aktual
Gurun Sebagai Jejak Peradaban: Misteri Kota Batu Hegra di Arab Saudi
Gurun Sebagai Jejak Peradaban: Misteri Kota Batu Hegra di Arab Saudi
Aktual
Megaproyek The Line NEOM: Kota Futuristik Tanpa Jalan di Arab Saudi
Megaproyek The Line NEOM: Kota Futuristik Tanpa Jalan di Arab Saudi
Aktual
Outfit Lebaran Idul Adha 2026: Dari Shalat Id hingga Nonton Kurban, Hindari Warna Mencolok
Outfit Lebaran Idul Adha 2026: Dari Shalat Id hingga Nonton Kurban, Hindari Warna Mencolok
Aktual
Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam
Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam
Doa dan Niat
Gubernur NTB Puji Khofifah sebagai Teladan Perempuan, Ajak Muslimat NU Perkuat Ketahanan Keluarga
Gubernur NTB Puji Khofifah sebagai Teladan Perempuan, Ajak Muslimat NU Perkuat Ketahanan Keluarga
Aktual
Cara Ulama Membaca Buku: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Mendalam dan Bertahap
Cara Ulama Membaca Buku: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Mendalam dan Bertahap
Aktual
Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com