Editor
KOMPAS.com — Delegasi Indonesia menghadiri ajang Rose and Aromatic Plants Global Forum ke-2 yang digelar di Taif, Arab Saudi.
Tak sekadar hadir, partisipasi Indonesia dinilai membuka jalan besar bagi kolaborasi industri minyak atsiri dan parfum global.
Sebanyak 32 peserta dari Indonesia ikut ambil bagian dari total 400 peserta yang berasal dari 44 negara.
Jumlah ini menjadikan Indonesia salah satu delegasi terbesar setelah Filipina, sekaligus menegaskan keseriusan Indonesia dalam mengembangkan sektor tanaman aromatik.
Baca juga: Panen Mawar Saudi Naik, Berpotensi Jadi Bahan Industri Kuliner Dunia
Forum yang berlangsung di Taif University hingga 11 April ini menjadi panggung penting bagi pertukaran teknologi dan investasi.
Berbagai inovasi dipaparkan, mulai dari teknik kultur jaringan hingga teknologi ekstraksi modern yang mampu meningkatkan kualitas minyak esensial.
Juru bicara forum, Khadija Abu Al-Naja, menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar forum ilmiah, tetapi juga ruang integrasi ekonomi dan pariwisata.
“Ini adalah platform global yang mempertemukan potensi besar dari berbagai negara,” ujarnya.
Di balik forum internasional tersebut, Taif tengah menikmati musim panen mawar terbaik dalam beberapa tahun terakhir.
Wilayah ini memiliki lebih dari 910 kebun dengan sekitar 1,14 juta pohon mawar yang tersebar di kawasan Al-Hada dan Al-Shafa di Pegunungan Sarawat.
Dalam satu musim panen selama 45 hari, produksi bisa mencapai hingga 550 juta bunga mawar.
Petani lokal, Khalaf Jaber Al-Tuwairqi, menyebut musim ini sebagai salah satu yang terbaik.
“Cuaca yang moderat dan ketersediaan air membuat kualitas dan jumlah bunga meningkat signifikan,” katanya.
Namun, di balik melimpahnya bunga, proses produksi minyak mawar tetap sangat kompleks. Sekitar 12.000 bunga dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit minyak mawar—menjadikannya salah satu minyak aromatik termahal di dunia.
Bagi Indonesia, momentum ini menjadi sangat strategis. Dengan kekayaan hayati dan tradisi minyak atsiri seperti nilam dan cendana, Indonesia memiliki potensi besar untuk masuk lebih dalam ke pasar global.
Keterlibatan dalam forum ini membuka peluang transfer teknologi, peningkatan kualitas produksi, hingga ekspansi ekspor produk aromatik.
Tak hanya itu, sektor pariwisata juga ikut terdongkrak. Pemandu wisata Abdullah Al-Zahrani mengungkapkan lonjakan kunjungan wisatawan selama musim panen mawar.
Wisatawan datang untuk melihat langsung proses pemetikan hingga penyulingan, yang telah menjadi bagian dari tradisi budaya Taif.
Dengan kombinasi inovasi, tradisi, dan dukungan alam, Taif kini kian mengukuhkan diri sebagai pusat mawar dunia.
Sementara itu, kehadiran Indonesia di forum ini menjadi sinyal kuat bahwa Nusantara siap mengambil peran lebih besar dalam industri parfum dan minyak atsiri global.
Baca juga: Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Delegasi Indonesia tampil menonjol di Forum Mawar Dunia di Taif, Arab Saudi. Momentum ini membuka peluang besar bagi Indonesia di industri minyak atsiri dan parfum global.
**Tag:**
Indonesia, Arab Saudi, Taif, Minyak Atsiri, Mawar Taif, Industri Parfum, Investasi Global, Forum Internasional, Ekspor Indonesia, Pariwisata Mawar