KOMPAS.com – Ada satu negeri yang letaknya jauh dari Madinah, tetapi justru begitu dekat di hati Rasulullah SAW. Negeri itu adalah Yaman.
Dalam berbagai kesempatan, Nabi Muhammad SAW tidak hanya menyebutnya, tetapi juga memujinya dengan ungkapan yang jarang diberikan kepada wilayah lain.
Dari sanalah lahir ungkapan yang terus dikenang hingga hari ini, iman dan hikmah berasal dari Yaman.
Namun, di balik pujian itu, tersimpan sejarah panjang, kisah spiritual, dan jejak peradaban yang menjadikan Yaman bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang makna dalam perjalanan Islam.
Baca juga: Sejarah Jembatan King Fahd: Nadi Persaudaraan Saudi-Bahrain Sejak 1986
Dalam sejumlah hadis sahih, Rasulullah SAW menggambarkan karakter penduduk Yaman dengan bahasa yang sangat lembut.
Beliau bersabda bahwa penduduk Yaman adalah orang-orang yang paling halus hatinya, paling lembut perasaannya, serta memiliki kedalaman iman dan pemahaman agama.
Dalam riwayat yang dinukil dari sahabat seperti Abu Hurairah dan Jubair bin Muth’im, Nabi bahkan menyebut mereka sebagai “sebaik-baik penduduk bumi”.
Pujian ini bukan tanpa alasan. Dalam konteks masyarakat Arab yang keras dan penuh konflik pada masa itu, kehadiran orang-orang Yaman membawa nuansa berbeda, tenang, bijak, dan penuh ketulusan.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, hadis tentang keutamaan Yaman ditempatkan dalam bab tentang akhlak dan kelembutan hati.
Ini menunjukkan bahwa kelebihan utama negeri tersebut bukan kekuatan fisik atau politik, melainkan kualitas spiritual.
Ungkapan Nabi, “Iman itu di Yaman, dan hikmah itu di Yaman,” sering kali dipahami secara sederhana sebagai pujian geografis.
Padahal, menurut banyak ulama, maknanya jauh lebih luas.
Dalam buku Fiqh al-Sirah karya Muhammad al-Ghazali, dijelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar lokasi, melainkan karakter masyarakatnya.
Yaman menjadi simbol dari kelembutan iman, kesungguhan dalam menuntut ilmu, serta kedalaman dalam memahami agama.
Karakter ini terlihat ketika sekelompok orang Yaman datang ke Madinah. Mereka tidak hanya masuk Islam, tetapi juga meminta agar diutus seorang sahabat untuk mengajarkan agama kepada mereka.
Permintaan ini mencerminkan sesuatu yang mendasar: semangat belajar yang tinggi. Rasulullah SAW pun mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Baca juga: Sejarah Iran: Dari Kejayaan Persia hingga Ditaklukkan Islam di Nahavand
Salah satu kisah paling menyentuh dari Yaman adalah tentang Uwais al-Qarni.
Ia bukan sahabat Nabi dalam pengertian formal, karena tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Namun, justru namanya disebut secara khusus oleh Nabi di hadapan para sahabat.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebut Uwais sebagai seorang yang memiliki doa mustajab. Bahkan, beliau menganjurkan para sahabat untuk meminta doa darinya jika bertemu.
Keistimewaan Uwais bukan karena kekuasaan atau ilmu yang luas, melainkan karena baktinya kepada ibunya. Ia memilih tidak pergi ke Madinah demi merawat sang ibu, meski sangat rindu bertemu Nabi.
Dalam buku Hilyat al-Auliya karya Abu Nu'aim al-Asfahani, kisah Uwais digambarkan sebagai contoh puncak keikhlasan. Ia dikenal di langit, meski tidak dikenal di bumi.
Yaman juga menyimpan sejarah jauh sebelum Islam datang. Salah satu yang paling terkenal adalah kaum Saba, yang diabadikan dalam Surah Saba.
Kaum ini dikenal sebagai masyarakat yang makmur, dengan sistem irigasi canggih dan kehidupan yang sejahtera.
Namun, kemakmuran itu berubah menjadi kehancuran ketika mereka berpaling dari ketaatan kepada Allah.
Dalam buku Stories of the Prophets karya Ibn Kathir, kisah Saba menjadi pelajaran penting bahwa kemajuan materi tanpa iman akan berujung pada kehancuran.
Banjir besar yang menghancurkan bendungan Ma’rib menjadi simbol bagaimana sebuah peradaban bisa runtuh ketika kehilangan nilai spiritual.
Tidak banyak yang menyadari bahwa hubungan Yaman dengan Islam awal juga terhubung melalui kaum Ansar.
Dua suku besar di Madinah, Aus dan Khazraj, memiliki akar dari Yaman. Mereka adalah keturunan bangsa yang bermigrasi setelah runtuhnya peradaban Saba.
Dalam buku The Sealed Nectar karya Safiur Rahman Mubarakpuri, dijelaskan bahwa peran Ansar sangat krusial dalam sejarah Islam. Mereka menjadi penolong Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin saat hijrah ke Madinah.
Dengan demikian, kontribusi Yaman terhadap Islam tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga historis dan sosial.
Baca juga: 6 Pahlawan Muslimah Indonesia dan Perannya dalam Sejarah Kemerdekaan
Rasulullah SAW juga menyebut bahwa penduduk Yaman adalah pelopor tradisi berjabat tangan.
Hal ini tampak sederhana, tetapi dalam perspektif Islam, berjabat tangan memiliki makna mendalam: menghapus dosa dan mempererat ukhuwah.
Dalam buku Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari, dijelaskan bahwa akhlak dalam interaksi sosial merupakan bagian penting dari iman.
Dan di sinilah Yaman kembali menonjol, bukan hanya dalam aspek teologis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Kedekatan Rasulullah SAW dengan Yaman tidak hanya terlihat dari pujian, tetapi juga dari doa.
Beliau berdoa: “Ya Allah, berkahilah negeri Syam kami dan negeri Yaman kami.”
Doa ini menunjukkan bahwa Yaman memiliki posisi khusus dalam pandangan Nabi. Bahkan dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa penduduk Yaman akan menjadi yang pertama mendapatkan minum dari telaga Nabi di akhirat.
Hadis ini memberikan gambaran betapa besar kemuliaan yang diberikan kepada mereka yang menjaga iman dan akhlak.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menyebut Yaman dalam konteks akhir zaman.
Ketika umat Islam menghadapi masa sulit, beliau menyebut Syam sebagai pilihan utama dan Yaman sebagai alternatif yang diberkahi.
Hal ini menunjukkan bahwa Yaman bukan hanya penting dalam sejarah masa lalu, tetapi juga memiliki relevansi dalam narasi masa depan umat Islam.
Yaman bukan sekadar negeri. Ia adalah simbol. Simbol tentang kelembutan hati di tengah kerasnya dunia.
Simbol tentang iman yang tumbuh dalam kesederhanaan. Dan simbol tentang bagaimana akhlak bisa menjadi jalan menuju kemuliaan.
Dari kisah Uwais al-Qarni hingga kaum Saba, dari akar Ansar hingga doa Nabi, semua menunjukkan satu benang merah, bahwa keistimewaan tidak selalu terletak pada kekuatan, tetapi pada ketulusan.
Dalam dunia modern yang sering kali menilai segalanya dari materi, kisah Yaman mengingatkan bahwa ada nilai lain yang jauh lebih penting.
Nilai yang pernah dipuji langsung oleh Rasulullah SAW. Dan mungkin, di situlah letak makna terdalamnya, bahwa iman, hikmah, dan kelembutan hati adalah warisan terbesar yang bisa dimiliki manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang