Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sunnah Lari Kecil Saat Sa’i, Ini Makna di Balik Lampu Hijau

Kompas.com, 9 April 2026, 13:08 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah rangkaian ibadah haji dan umrah, ada satu momen yang kerap terlihat sederhana namun sarat makna, langkah yang tiba-tiba berubah menjadi lebih cepat di antara dua tanda lampu hijau saat sa’i.

Bagi sebagian jemaah, ini mungkin sekadar bagian teknis dari ritual. Namun bagi yang memahami sejarah dan hikmahnya, gerakan ini adalah jejak perjuangan yang terus hidup sejak ribuan tahun lalu.

Sunnah berlari kecil atau yang dikenal sebagai ramal, bukan sekadar anjuran fisik, melainkan simbol ikhtiar, keteguhan, dan harapan yang diwariskan dalam ibadah umat Islam.

Baca juga: Menhaj Wacanakan Sistem Haji Tanpa Antrean, Singgung “War Tiket Haji”

Sa’i: Rukun dengan Jejak Sejarah Mendalam

Sa’i merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang tidak boleh ditinggalkan. Ibadah ini dilakukan dengan berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

Dalam praktiknya, seluruh jemaah berjalan dengan ritme yang relatif tenang. Namun, ada satu pengecualian penting bagi jemaah laki-laki, mereka disunnahkan untuk berlari kecil pada area tertentu yang kini ditandai dengan lampu hijau.

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa sa’i bukan sekadar ritual simbolik, melainkan ibadah yang memiliki dasar historis dan teladan langsung dari Rasulullah.

Asal-usul Sunnah Lari Kecil: Kisah Siti Hajar

Akar dari sunnah ini tidak bisa dilepaskan dari kisah agung Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS dan ibu dari Nabi Ismail AS.

Ketika ditinggalkan di lembah tandus Makkah, Siti Hajar berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi anaknya.

Pada titik tertentu yang dulunya berupa lembah, ia berlari lebih cepat karena tidak dapat melihat kondisi sekitar dengan jelas.

Perjuangan penuh kecemasan itu berbuah mukjizat, keluarnya air zamzam yang hingga kini menjadi sumber kehidupan di Tanah Suci.

Dalam buku Sejarah Haji karya F.E. Peters disebutkan bahwa sa’i adalah bentuk “ritualisasi perjuangan”, di mana umat Islam menghidupkan kembali momen penuh makna tersebut dalam ibadah mereka.

Mengapa Hanya di Area Lampu Hijau?

Tidak semua jalur sa’i dilakukan dengan berlari kecil. Sunnah ini hanya dilakukan di antara dua tanda lampu hijau yang menandai lokasi lembah tempat Siti Hajar berlari. Di luar area tersebut, jemaah cukup berjalan biasa.

Penandaan ini bukan tanpa alasan. Ia menjadi pengingat visual bahwa di titik itulah perjuangan mencapai puncaknya, sebuah fase di mana usaha maksimal harus dikerahkan sebelum menyerahkan hasil kepada Allah.

Dalam Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa batas lampu hijau menjadi panduan praktis agar jemaah dapat menjalankan sunnah sesuai tuntunan Rasulullah.

Baca juga: Bacaan Doa Minum Air Zamzam Lengkap: Adab, Manfaat, dan Keutamaannya

Khusus untuk Laki-laki, Bagaimana dengan Perempuan?

Sunnah berlari kecil saat sa’i secara umum hanya berlaku bagi jemaah laki-laki. Jemaah perempuan tidak disyariatkan untuk melakukan hal tersebut dan cukup berjalan biasa sepanjang lintasan.

Hal ini ditegaskan dalam riwayat sahabat:

“Perempuan tidak perlu melakukan ramal di Ka’bah dan juga ketika sa’i di antara Shafa dan Marwah.” (HR ad-Daruquthni No. 2766, dari Ibn Umar)

Menurut penjelasan dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi, mayoritas ulama berpendapat bahwa perempuan tidak dianjurkan berlari kecil karena mempertimbangkan aspek kehormatan dan menjaga aurat.

Meski terdapat pendapat minoritas yang membolehkan perempuan berjalan cepat dalam kondisi tertentu (seperti saat malam hari dan aman), pendapat yang lebih kuat tetap menganjurkan berjalan biasa.

Bagaimana Cara Melakukannya dengan Benar?

Sering kali terjadi kesalahpahaman di kalangan jemaah. Ada yang melewatkan sunnah ini, ada pula yang melakukannya secara berlebihan.

Padahal, yang dianjurkan adalah:

  • Berlari kecil (bukan sprint)
  • Dilakukan hanya di antara dua lampu hijau
  • Dengan ritme stabil dan tidak memaksakan diri
  • Tetap menjaga ketenangan dan kekhusyukan

Dalam buku Manasik Haji Lengkap karya Abdul Aziz Muhammad Azzam dijelaskan bahwa tujuan utama dari ramal bukanlah kecepatan, melainkan mengikuti sunnah Nabi dengan penuh kesadaran.

Dimensi Spiritual: Lebih dari Sekadar Gerakan

Jika dilihat lebih dalam, sunnah ini menyimpan pesan spiritual yang kuat.

Pertama, tentang ikhtiar. Siti Hajar tidak hanya menunggu pertolongan, tetapi berusaha sekuat tenaga.

Kedua, tentang harapan. Dalam kondisi paling sulit, ia tetap yakin bahwa Allah tidak akan meninggalkannya.

Ketiga, tentang tawakal. Setelah usaha maksimal dilakukan, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terduga.

Dalam perspektif ini, lari kecil saat sa’i menjadi simbol perjalanan hidup manusia, antara usaha dan penyerahan diri.

Baca juga: Ibadah Haji Berapa Lama? Ini Durasi Sebenarnya dari Berangkat hingga Pulang

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Menariknya, nilai-nilai yang terkandung dalam sunnah ini tetap relevan hingga hari ini.

Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, manusia sering dihadapkan pada situasi yang menuntut usaha maksimal. Namun, tidak semua hal berada dalam kendali.

Sa’i mengajarkan keseimbangan, bekerja keras tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah.

Dalam buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni disebutkan bahwa harapan adalah energi spiritual yang membuat manusia tetap bertahan dalam kondisi sulit. Nilai ini tercermin jelas dalam kisah Siti Hajar.

Pentingnya Pemahaman Manasik

Agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas, pemahaman terhadap setiap rangkaian manasik menjadi kunci.

Mengetahui kapan harus berjalan, kapan berlari kecil, serta memahami hikmah di baliknya akan membuat ibadah terasa lebih hidup.

Tanpa pemahaman, gerakan hanya menjadi aktivitas fisik. Namun dengan ilmu, setiap langkah menjadi ibadah yang penuh kesadaran.

Lebih dari Sekadar Lari Kecil

Pada akhirnya, sunnah berlari kecil saat sa’i bukanlah tentang seberapa cepat seseorang bergerak.

Ia adalah pengingat tentang perjuangan seorang ibu, tentang usaha tanpa putus asa, dan tentang keyakinan yang tidak goyah.

Di antara jutaan langkah jemaah di Tanah Suci, ada jejak sejarah yang terus dihidupkan. Dan di sanalah, ibadah menemukan makna terdalamnya: bukan hanya dilakukan, tetapi juga dirasakan. Sebab dalam setiap langkah kecil itu, tersimpan pesan besar tentang kehidupan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar