Editor
KOMPAS.com - Kisah Urwah bin Udzainah atau Ibnu Udzainah, seorang penyair dari Madinah menjadi teladan tentang hubungan antara ikhtiar dan tawakal dalam mencari rezeki.
Cerita ini terjadi saat Urwah bin Udzainah mengalami kesulitan ekonomi ketika tinggal di Madinah.
Dalam upaya keluar dari kesulitan, ia disarankan menemui sahabatnya, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik di Syam.
Dilansir dari laman Kemenag, kisah ini kemudian diriwayatkan oleh Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi dalam kitab Qashahsus Shahabati was Shalihin.
Baca juga: Kisah Pembebasan Al-Aqsa oleh Shalahuddin: Strategi 12 Hari
Suatu waktu, Ibnu Udzainah tengah diuji oleh Allah SWT yaitu dengan menghadapi kesulitan ekonomi.
Saat itu, orang-orang di sekitar Ibnu Udzainah menyarankan agar ia menemui Hisyam bin Abdul Malik.
Mereka mengetahui hubungan baik keduanya sejak lama dan berharap bantuan dari khalifah.
“Engkau memiliki hubungan baik dengan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah. Pergilah untuk menemuinya, niscaya engkau akan mendapatkan kebaikan dari kekhalifahannya.”
Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Ibnu Udzainah kemudian melakukan perjalanan ke Syam dan berhasil menemui sang khalifah. Ia disambut dengan baik dan menyampaikan kondisi yang sedang dihadapinya.
“Aku sedang berada dalam kesempitan dan kesulitan,” ucap Ibnu Udzainah saat ditanya kondisinya oleh khalifah.
Namun, alih-alih langsung memberi bantuan, Hisyam mengingatkan bait syair yang pernah diucapkan Ibnu Udzainah:
لَقَدْ عَلِمْتُ وَمَا الْإِسْرَافُ مِنْ خُلُقِي * أَنَّ الَّذِي هُوَ رِزْقِي سَوْفَ يَأْتِينِي
Artinya: “Sungguh aku mengetahui dan boros bukanlah tabiatku, bahwa rezekiku pasti akan datang menghampiriku.”
Jawaban tersebut membuat Ibnu Udzainah merasa kecewa karena tidak sesuai harapan. Ia kemudian memutuskan kembali ke Madinah.
“Semoga Allah membalas kebaikanmu, wahai Amirul Mukminin. Engkau telah mengingatkanku saat aku lupa, dan menegurku saat aku lalai,” ujar Ibnu Udzainah.
Setelah kepergian sahabatnya, Hisyam bin Abdul Malik baru menyadari kesalahan sikapnya dan merasa menyesal.
Ia kemudian mengutus pengawal untuk menyusul Ibnu Udzainah dan memberikan hadiah sebagai bentuk penghargaan dan permohonan maaf.
Utusan khalifah harus mencari cukup lama karena Ibnu Udzainah selalu berpindah tempat, hingga akhirnya mereka berhasil bertemu dengan sang penyair di rumahnya.
“Amirul Mukminin menyesal atas sikapnya. Ini ada hadiah-hadiah darinya untukmu,” kata utusan tersebut.
Mendengar pesan tersebut, Ibnu Udzainah melanjutkan bait syairnya:
أَسْعَى لَهُ فَيُعَنِّينِي طَلَبُهُ * وَلَوْ قَعَدْتُ أَتَانِي لَا يُعَنِّينِي
Artinya: “Aku berusaha mengejarnya, maka justru ia menyusahkanku. Namun jika aku duduk diam, ia datang kepadaku tanpa memberatkanku.”
Kisah ini menunjukkan bahwa rezeki tidak selalu diperoleh semata dari usaha lahir yang keras.
Ada peran penting tawakal, yakni berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
Kisah ini menggambarkan sikap tawakal, sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 2–3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللّٰهَ بالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً (3
Artinya : “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya [2]. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.[3]”
Kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa rezeki kerap datang saat hati tidak lagi bergantung pada manusia, melainkan sepenuhnya berserah kepada Allah, setelah ikhtiar dilakukan dengan sewajarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang