Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kiswah Penutup Kabah: Sejarah, Makna, Proses Penggantian dan Pembuatannya

Kompas.com, 12 April 2026, 16:30 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag, BPKH

KOMPAS.com - Ka’bah dikenal sebagai Baitullah atau rumah Allah yang menjadi kiblat salat umat Islam di seluruh dunia.

Bangunan berbentuk kubus ini berdiri kokoh di pusat Masjidil Haram dan menjadi pusat ibadah sejak masa Nabi.

Setiap sisinya memiliki nama sesuai arah wilayah yang dihadapinya, menjadikannya simbol penting dalam peradaban Islam.

Baca juga: 5 Fungsi Kiswah Penutup Kabah, Menjaga Kesucian hingga Simbol Persatuan Umat Muslim

Sejak masa Nabi Ismail, Ka’bah telah ditutup dengan kain khusus yang dikenal sebagai Kiswah dan terus menjadi bagian penting dalam ibadah haji.

Berukut penjelasan ringkas tentang Kiswah, seperti dirangkum Kompas.com dari laman Kemenag dan BPK.

Baca juga: Momen Langka, Begini Penampakan Asli Kabah Tanpa Kiswah

Kiswah, Kain Penutup Ka’bah

Sejak masa Nabi Ismail, keempat sisi Ka’bah ditutupi oleh kain yang disebut Kiswah.

Kain ini terbuat dari sutra asli dan dihiasi kaligrafi ayat-ayat suci Alquran menggunakan benang emas.

Kiswah memiliki tinggi sekitar 14 meter. Pada bagian atasnya terdapat sabuk atau pengikat dengan lebar sekitar 95 sentimeter yang bertuliskan ayat-ayat Alquran menggunakan benang perak berlapis emas sepanjang kurang lebih 47 meter dan terdiri dari 16 bagian.

Di bagian bawah sabuk tersebut, khususnya pada sudut tertentu, terdapat tulisan Surat Al Ikhlas yang dihiasi ukiran khas Islam.

Selain itu, terdapat enam potongan kaligrafi ayat Alquran yang terpisah satu sama lain, diselingi lafaz-lafaz bernuansa Islam dengan gaya tulisan Al-Tsuluts yang dikenal indah.

Penutup pintu Ka’bah disebut Al Barq, dibuat dari kain sutra hitam yang dihiasi ayat-ayat Alquran dan ukiran.

Perawatan berkala Kabah di tengah Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, kembali dilakukan, menampilkan sisi langka dari bangunan suci tersebut tanpa penutup kiswah.X/@ftrabiah Perawatan berkala Kabah di tengah Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, kembali dilakukan, menampilkan sisi langka dari bangunan suci tersebut tanpa penutup kiswah.

Tradisi Perawatan dan Penggantian Kiswah

Ka’bah dibersihkan dua kali dalam setahun, yakni pada awal bulan Dzulhijjah dan awal bulan Sya’ban. Sementara itu, Kiswah diganti secara rutin setiap tahun.

Dalam catatan Ensiklopedi Islam, tradisi penggantian Kiswah dimulai pada masa Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah. Saat itu, penjaga Ka’bah melaporkan kondisi Kiswah yang mulai rapuh.

Menanggapi hal tersebut, Al-Mahdi memerintahkan agar Kiswah diganti setiap tahun, bertepatan dengan musim haji.

Sejak saat itu, para khalifah Abbasiyah membuat Kiswah dari sutra hitam yang mewah.

Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh penguasa berikutnya, mulai dari raja-raja Yaman, Mesir, hingga kini menjadi tanggung jawab pemerintah Arab Saudi.

Sejarah Perkembangan Kiswah

Dalam buku Makkah dan Madinah, Ahmad Rofi Usmani menjelaskan bahwa Kiswah pertama kali dipersiapkan oleh Raja Himyar dari Yaman, As’ad Abu Karb Al-Humairi.

"Saat itu kiswah dibuat dari kulit," katanya.

Seiring waktu, bahan Kiswah berkembang menjadi kain qibathi yang diproduksi oleh masyarakat Koptik di Mesir.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan, Kiswah diganti dengan kain sutra halus berwarna hitam yang menyerupai sutra Cina.

Perkembangan berikutnya menunjukkan Kiswah tidak lagi terdiri dari satu lapisan, tetapi menjadi dua lapis, lalu tiga lapis pada masa Dinasti Abbasiyah. Saat itu, Kiswah dibuat dari sutra “khuz’” dan didatangkan dari Mesir serta Yaman.

Pada masa Dinasti Fatimiyah, Kiswah sempat berwarna putih dan dihiasi benang emas serta diberi wewangian.

Namun, pada masa Sultan Al-Zhahir Baibars dari Dinasti Mamluk, warna Kiswah kembali menjadi hitam dan bertahan hingga sekarang.

Pada era Dinasti Utsmaniyah, produksi Kiswah berkembang pesat dengan pembukaan kawasan khusus untuk pembuatannya di Mesir.

Bahkan, pada masa Muhammad Ali Pasya, dibentuk departemen khusus yang menangani produksi Kiswah, menjadikan Mesir sebagai pemasok utama selama berabad-abad.

Jemaah berdoa sambil mencium Kiswah Ka'bah.Pexels/ Lalezarfa Jemaah berdoa sambil mencium Kiswah Ka'bah.

Proses Produksi Kiswah Modern

Sejak 1938, Kiswah mulai diproduksi di pabrik yang berada di pinggiran Kota Mekkah.

Pabrik ini memiliki fasilitas modern dengan mesin tenun serta alat manual yang dioperasikan secara tradisional.

Sekitar 240 tenaga kerja terlibat dalam proses produksi di area seluas kurang lebih 10 hektare.

Prosesnya meliputi perencanaan desain, pembuatan kaligrafi, pencucian benang sutra, penenunan kain, pembuatan benang emas, hingga tahap penyulaman dan penjahitan akhir.

Pada 1972, pembangunan pabrik Kiswah yang baru dimulai dan diresmikan pada 1975 oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi.

Setiap tahun, pabrik ini menghasilkan beberapa set Kiswah, termasuk untuk Ka’bah dan keperluan lain seperti penutup makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.

Untuk satu Kiswah, dibutuhkan sekitar 600 meter kain atau sekitar 670 kilogram sutra. Kain tersebut terdiri dari 47 potongan dengan ukuran panjang 14 meter dan lebar 95 sentimeter.

Selain itu, diperlukan hingga 120 kilogram emas untuk sulaman, meskipun ada sumber lain menyebut sekitar 50 kilogram.

Seluruh proses bordir dilakukan secara manual oleh tenaga ahli. Biaya pembuatan satu Kiswah diperkirakan mencapai sekitar 20 juta riyal Saudi dan dibiayai oleh lembaga wakaf Kerajaan Arab Saudi.

Potret salah satu sudut Kiswah yang menutupi Ka'bah.Pexels/Fahad Puthawala Potret salah satu sudut Kiswah yang menutupi Ka'bah.

Cara Mengganti Kiswah Ka’bah

Proses penggantian Kiswah di Ka'bah dilakukan secara bertahap dan terstruktur untuk menjaga kesucian serta keutuhan bangunan. Kiswah baru terdiri dari empat sisi yang terpisah serta satu tirai pintu.

Setiap sisi Kiswah baru diangkat secara bergantian ke bagian atas Ka’bah sebagai persiapan pemasangan, bersamaan dengan proses pelepasan Kiswah lama.

Setelah dinaikkan, bagian atas Kiswah baru diikat dengan kuat, sementara tali pengikat Kiswah lama mulai dilonggarkan agar kain lama dapat diturunkan secara perlahan.

Proses pergantian dilakukan dengan menggerakkan sisi Kiswah baru naik dan turun secara terkontrol, sehingga Kiswah lama turun sedikit demi sedikit, sementara Kiswah baru tetap berada pada posisinya.

Tahapan ini dilakukan secara berulang pada keempat sisi Ka’bah hingga seluruh bagian Kiswah lama tergantikan sepenuhnya.

Setelah semua sisi terpasang, setiap ikatan dirapikan kembali sebelum dilakukan penjahitan akhir untuk memastikan Kiswah terpasang dengan kuat dan rapi.

Jumlah ikatan pada Kiswah Ka’bah mencapai 16 titik utama, ditambah enam ikatan tambahan serta 12 lampu yang terpasang di bagian bawah sabuk Kiswah.

Proses ini mencerminkan ketelitian tinggi dalam menjaga simbol kesucian Ka’bah sekaligus memastikan pemasangan Kiswah berjalan sempurna setiap tahunnya.

Saat musim haji tiba, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Masjidil Haram untuk melaksanakan rangkaian ibadah seperti thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, dan melempar jumrah.

Setelah musim haji berakhir, Kiswah yang lama diganti dengan yang baru. Potongan Kiswah yang sudah tidak digunakan sering kali dibagikan atau diperjualbelikan dalam bentuk potongan kecil.

Namun, yang diperjualbelikan tersebut adalah Kiswah lama yang sudah tidak digunakan, bukan Kiswah yang masih terpasang di Ka’bah.

Tradisi ini telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari sejarah pengelolaan Kiswah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com