Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Adidaya Pertama Dunia Lahir di Iran dengan Raja Cyrus Agung

Kompas.com, 14 April 2026, 10:36 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di jantung dataran tinggi Iran kuno, sejarah dunia pernah berubah arah. Dari lanskap yang keras dan jauh dari pusat-pusat peradaban besar, lahir sebuah kekuatan yang bukan hanya memperluas wilayah, tetapi juga memperkenalkan cara baru mengelola keberagaman manusia.

Sosok di balik perubahan besar itu adalah Cyrus the Great, pendiri Kekaisaran Akhemeniyah yang kerap disebut sebagai negara adidaya pertama dalam sejarah dunia.

Dari Pinggiran Menjadi Pusat Peradaban

Saat naik takhta pada 559 sebelum Masehi, Cyrus bukanlah penguasa besar. Ia hanya memimpin kerajaan kecil Persia yang berada di bawah dominasi Kekaisaran Media.

Namun, dalam waktu singkat, ia mengubah posisi tersebut secara dramatis. Sejarawan Yunani Herodotus mencatat kisah masa kecil Cyrus yang penuh legenda, tentang ramalan yang membuat kakeknya, Astyages, berusaha membunuhnya.

Meski kisah ini bercampur mitos, para ahli seperti Amélie Kuhrt dalam The Persian Empire menegaskan bahwa kebangkitan Cyrus lebih ditentukan oleh kecermatan politik dan kemampuannya membaca situasi.

Pada 550 SM, ia menggulingkan Media dengan bantuan pembelotan jenderal Harpagus. Kejatuhan ibu kota Ecbatana menjadi awal dari lahirnya kekuatan baru yang segera melampaui semua pendahulunya.

Baca juga: Sejarah Iran: Dari Kejayaan Persia hingga Ditaklukkan Islam di Nahavand

Ekspansi Cepat dan Strategi Tak Terduga

Setelah menyatukan Persia dan Media, Cyrus bergerak cepat. Ia menaklukkan Lydia yang dipimpin oleh Croesus, kerajaan kaya yang terkenal dengan sistem mata uang logamnya.

Dalam pertempuran di Sardis, keputusan Cyrus untuk menyerang tanpa menunggu musim berikutnya menjadi langkah berani yang membuahkan kemenangan.

Menurut Marc Van De Mieroop dalam A History of the Ancient Near East, keunggulan Cyrus terletak pada fleksibilitas strategi dan keberanian mengambil risiko. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga momentum politik.

Ekspansi terus berlanjut hingga Asia Tengah, mencakup wilayah seperti Samarkand, membuka jalur perdagangan penting yang menghubungkan berbagai peradaban besar.

Babilonia: Penaklukan yang Mengubah Makna Kekuasaan

Puncak ekspansi terjadi saat Cyrus menargetkan Babilonia pada 539 SM. Kota ini adalah simbol kejayaan dunia kuno. Namun, penaklukannya tidak berlangsung dengan kehancuran besar.

Cyrus memanfaatkan krisis internal Babilonia dan memposisikan dirinya sebagai pembebas. Narasi ini terekam dalam Silinder Cyrus, yang menggambarkannya sebagai pemimpin yang dipilih untuk memulihkan ketertiban.

Dalam From Cyrus to Alexander, Pierre Briant menyebut pendekatan ini sebagai strategi ideologis yang canggih. Cyrus tidak memaksakan dominasi, melainkan membangun legitimasi melalui penerimaan.

Baca juga: 195 Situs Bersejarah Iran Rusak Akibat Serangan, Warisan Dunia Ikut Terdampak

Toleransi Persia dan Pantulan Nilai Universal Islam

Di tengah luasnya wilayah Kekaisaran Akhemeniyah, kekuatan utamanya bukan hanya pada ekspansi, tetapi pada cara mengelola keberagaman.

Cyrus tidak memaksakan agama atau budaya Persia kepada rakyatnya. Penduduk lokal tetap bebas menjalankan tradisi dan keyakinan mereka.

Kebijakan ini menciptakan stabilitas sekaligus membentuk peradaban multikultural yang kuat. Bangsa Yahudi, misalnya, diizinkan kembali ke Yerusalem setelah sebelumnya diasingkan, sebuah langkah yang membuat Cyrus dikenang dalam berbagai tradisi keagamaan.

Dalam perspektif Islam, prinsip menghormati perbedaan bukanlah hal asing. Al-Qur’an menegaskan,“Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. Al-Baqarah: 256).

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa keyakinan tidak dapat dipaksakan, melainkan harus lahir dari kesadaran.

Nilai tersebut menemukan resonansinya dalam kebijakan Cyrus. Meski hidup jauh sebelum Islam, pendekatan yang ia terapkan menunjukkan kesamaan dengan prinsip universal yang kemudian ditegaskan dalam ajaran Islam, bahwa keberagaman adalah realitas yang harus dihormati.

Sejarawan seperti Pierre Briant menegaskan bahwa stabilitas Persia dibangun bukan melalui penyeragaman, tetapi melalui pengakuan terhadap identitas lokal. Dalam konteks ini, toleransi bukan sekadar strategi politik, melainkan fondasi etika peradaban.

Sistem Pemerintahan yang Melampaui Zamannya

Mengelola wilayah yang membentang dari Eropa Timur hingga Sungai Indus membutuhkan sistem yang terorganisir. Cyrus membagi kekaisaran menjadi provinsi yang dipimpin oleh satrap.

Sistem ini memungkinkan kontrol pusat tetap kuat tanpa menghapus otonomi lokal. Selain itu, pembangunan jaringan jalan seperti Royal Road mempercepat komunikasi dan memperkuat integrasi wilayah.

Dalam Empires of the Ancient World, Susan Wise Bauer menyebut sistem ini sebagai cikal bakal birokrasi modern. Persia menunjukkan bahwa kekuasaan besar dapat dikelola melalui struktur yang efisien, bukan semata kekuatan militer.

Baca juga: Kisah Haru Salman Al-Farisi, Pencari Kebenaran dari Persia

Identitas Multikultural sebagai Kunci Kejayaan

Keberhasilan Persia terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai peradaban. Dari Mesopotamia hingga Asia Tengah, semua berada dalam satu sistem politik yang relatif stabil.

Sejarawan Yunani Xenophon dalam Cyropaedia menggambarkan Cyrus sebagai pemimpin ideal, bukan hanya kuat, tetapi juga bijaksana.

Pendekatan ini membentuk identitas unik Kekaisaran Akhemeniyah: sebuah kekaisaran yang menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan kelemahan.

Warisan yang Tetap Hidup

Setelah menaklukkan Babilonia, Cyrus dikenal sebagai “Raja Dunia.” Namun, warisannya melampaui gelar tersebut. Ia memperkenalkan model pemerintahan yang berbasis toleransi, keadilan, dan integrasi budaya.

Konsep ini memengaruhi peradaban-peradaban besar setelahnya, bahkan hingga sistem negara modern.

Persia di bawah Cyrus menjadi salah satu fondasi awal dunia yang terhubung.

Dalam perspektif yang lebih luas, kisah ini menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus dibangun di atas penindasan.

Justru melalui penghormatan terhadap perbedaan, sebuah peradaban dapat mencapai kejayaan yang lebih bertahan lama.

Dari Iran kuno, lahir sebuah pelajaran penting, bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan.

Dan dalam banyak hal, dunia modern masih berjalan di jejak yang pernah dibentuk oleh Cyrus berabad-abad silam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bacaan Doa Awal Bulan Zulkaidah: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Bacaan Doa Awal Bulan Zulkaidah: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Aktual
Hukum Kurban untuk Orang Meninggal, Boleh atau Tidak? Ini Kata Ulama
Hukum Kurban untuk Orang Meninggal, Boleh atau Tidak? Ini Kata Ulama
Aktual
Biaya Penerbangan Haji 2026 Naik Rp 1,77 Triliun, Kemenhaj Gandeng Kejagung Cari Solusi
Biaya Penerbangan Haji 2026 Naik Rp 1,77 Triliun, Kemenhaj Gandeng Kejagung Cari Solusi
Aktual
12 Bulan Hijriah: Urutan, Makna, dan Bulan Haram dalam Islam
12 Bulan Hijriah: Urutan, Makna, dan Bulan Haram dalam Islam
Aktual
Setelah Lebaran, Kenapa Orang Tiba-tiba Depresi? Ini Penjelasannya
Setelah Lebaran, Kenapa Orang Tiba-tiba Depresi? Ini Penjelasannya
Aktual
10 Muharram Hari Asyura: Sejarah, Puasa, dan Keutamaannya
10 Muharram Hari Asyura: Sejarah, Puasa, dan Keutamaannya
Aktual
Dari Museum ke Bahasa, Indonesia-Arab Saudi Perkuat Diplomasi Budaya
Dari Museum ke Bahasa, Indonesia-Arab Saudi Perkuat Diplomasi Budaya
Aktual
Makna Idul Adha Menurut Al-Qur’an: Jejak Ketakwaan, Pengorbanan, dan Kepedulian Sosial
Makna Idul Adha Menurut Al-Qur’an: Jejak Ketakwaan, Pengorbanan, dan Kepedulian Sosial
Aktual
Simak 6 Rukun Haji, Syarat Utama Agar Ibadah Haji Sah
Simak 6 Rukun Haji, Syarat Utama Agar Ibadah Haji Sah
Aktual
Kejeniusan Salman Al-Farisi dari Persia di Balik Strategi Parit Perang Khandaq
Kejeniusan Salman Al-Farisi dari Persia di Balik Strategi Parit Perang Khandaq
Aktual
Negara Adidaya Pertama Dunia Lahir di Iran dengan Raja Cyrus Agung
Negara Adidaya Pertama Dunia Lahir di Iran dengan Raja Cyrus Agung
Aktual
Panduan Lengkap Membagikan Daging Kurban Sesuai Syariat, Simak Aturan dan Larangannya
Panduan Lengkap Membagikan Daging Kurban Sesuai Syariat, Simak Aturan dan Larangannya
Aktual
Idul Adha 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur dan Jadwal Lengkapnya
Idul Adha 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur dan Jadwal Lengkapnya
Aktual
Jelang Haji 2026, Arab Saudi Terapkan Izin Masuk Makkah Secara Online, Begini Caranya
Jelang Haji 2026, Arab Saudi Terapkan Izin Masuk Makkah Secara Online, Begini Caranya
Aktual
Tata Cara Wudhu Lengkap: Niat, Rukun, Sunnah dan Doa agar Shalat Sah
Tata Cara Wudhu Lengkap: Niat, Rukun, Sunnah dan Doa agar Shalat Sah
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com