Editor
KOMPAS.com - Ukasyah bin Mihshan merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena keberanian dan kesetiaannya.
Namanya kerap disebut dalam berbagai riwayat sebagai sosok yang dekat dengan Rasulullah.
Ia juga dikenal sebagai sahabat yang mendapat kabar gembira akan masuk surga tanpa hisab.
Baca juga: Kisah Abu Hurairah, Sahabat Nabi Perawi Hadits Terbanyak dalam Sejarah Islam
Kisah hidup Ukasyah menjadi teladan tentang iman, keberanian, dan cinta kepada Nabi.
Dilansir dari laman Kemenag Denpasar, Ukasyah berasal dari suku Bani Asad. Meski catatan biografi lengkapnya tidak banyak ditemukan, sejumlah riwayat menyebut ia termasuk sahabat yang aktif mendampingi Nabi dalam berbagai momentum penting.
Perannya terlihat baik di medan perang maupun dalam kehidupan sehari-hari bersama Rasulullah.
Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Dalam riwayat sejarah, Ukasyah bin Mihshan disebut ikut dalam sejumlah peperangan besar pada masa awal Islam. Ia turut serta dalam Perang Badr, Uhud, dan Khandaq.
Keikutsertaannya dalam berbagai pertempuran menunjukkan keberanian dan loyalitas tinggi kepada perjuangan Islam.
Ukasyah dikenal sebagai prajurit tangguh yang selalu siap berada di barisan bersama Nabi Muhammad SAW.
Selain dikenal sebagai pejuang, Ukasyah juga memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah.
Dalam beberapa riwayat, Nabi Muhammad SAW mendoakannya agar termasuk golongan yang masuk surga tanpa hisab.
Kabar gembira itu menjadi tanda kemuliaan Ukasyah sebagai sahabat yang dicintai dan dipercaya Nabi.
Ia dikenal memiliki sifat tegas, jujur, penuh hormat, dan berani menyampaikan kebenaran.
Kisah paling masyhur tentang Ukasyah terjadi menjelang akhir hayat Rasulullah SAW.
Saat itu, Nabi mengumpulkan para sahabat di Masjid Nabawi dan memberi kesempatan kepada siapa saja yang merasa pernah dizalimi untuk menyampaikan haknya.
Tujuannya agar tidak ada urusan yang tertinggal sebelum Hari Kiamat.
Para sahabat yang hadir mendengarkan dengan penuh perhatian, namun mereka terdiam karena merasa tidak pernah dirugikan oleh Nabi.
Di tengah suasana hening itu, Ukasyah bin Mihshan berdiri. Ia mengingatkan satu peristiwa ketika Nabi sedang mengatur unta atau barisan sahabat dalam sebuah perjalanan.
Saat itu, cambuk yang dipegang Nabi tanpa sengaja mengenai tubuh Ukasyah.
Ukasyah kemudian meminta agar ia diberi kesempatan melakukan hal serupa sebagai bentuk qishash.
Rasulullah tidak menolak permintaan tersebut dan mempersilakan Ukasyah menegakkan qishash.
Sejumlah sahabat yang hadir seperti Abu Bakar, Umar, dan Ali menawarkan diri agar mereka yang menerima cambukan sebagai pengganti Nabi. Hasan dan Husain juga menawarkan tubuh mereka demi melindungi Rasulullah.
Namun, Ukasyah menolak semua tawaran itu dan tetap ingin menegakkan qishash langsung kepada Nabi.
Ketika Ukasyah bersiap melaksanakan qishash, suasana masjid dipenuhi ketegangan dan haru. Para sahabat tidak tega melihat Rasulullah akan dicambuk.
Namun saat Nabi membuka baju dan bersiap menerima qishash, Ukasyah justru melepaskan cambuknya. Ia langsung memeluk tubuh Nabi sambil menangis.
Ukasyah sama sekali tidak berniat mencambuk Rasulullah. Ia melakukan itu sebagai cara agar bisa memeluk Nabi untuk terakhir kalinya. Suasana tegang pun berubah menjadi penuh haru.
Kisah Ukasyah bin Mihshan menunjukkan hubungan yang sangat dekat antara Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Hubungan itu dibangun bukan sekadar formalitas, melainkan keterusterangan, penghormatan, dan kasih sayang yang mendalam.
Ukasyah dikenang bukan hanya sebagai pejuang tangguh, tetapi juga sahabat yang memiliki cinta besar kepada Rasulullah.
Karena keimanan dan ketulusannya, namanya dikenang sebagai salah satu sahabat Nabi yang dijanjikan masuk surga tanpa hisab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang