KOMPAS.com – Setiap hari, umat Islam mendengar lantunan adzan sebagai panggilan menuju salat.
Namun, di antara adzan dan iqamah, terdapat jeda singkat yang sering kali terlewat begitu saja.
Padahal, dalam ajaran Islam, waktu tersebut termasuk salah satu momen paling istimewa untuk berdoa.
Banyak yang bertanya, apakah ada doa khusus yang harus dibaca di antara adzan dan iqamah? Atau justru waktu ini bersifat terbuka untuk berbagai permohonan?
Artikel ini mengulasnya secara lebih mendalam, merujuk pada hadis, pendapat ulama klasik, hingga kajian kontemporer.
Dalam perspektif Islam, adzan bukan sekadar penanda waktu salat, tetapi juga bagian dari syiar yang menunjukkan keagungan agama.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh M. Hadri Hasan dalam kajian tentang fungsi adzan sebagai simbol kehadiran Islam di ruang publik.
Ketika adzan dikumandangkan, terdapat dimensi spiritual yang menyertainya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa saat adzan berkumandang, pintu-pintu langit terbuka, rahmat Allah turun, dan setan menjauh.
Di antara adzan dan iqamah itulah terdapat ruang waktu yang oleh Rasulullah dijelaskan sebagai waktu mustajab.
Nabi Muhammad bersabda:
“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah pada waktu itu.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa momen tersebut tidak boleh disia-siakan.
Baca juga: Doa Siang Hari yang Mustajab: Dzikir Sunnah Arab, Latin, dan Artinya
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah terdapat bacaan doa tertentu yang wajib atau dianjurkan secara spesifik?
Jawabannya: tidak ada satu lafaz doa yang bersifat khusus dan baku.
Para ulama sepakat bahwa doa di antara adzan dan iqamah bersifat umum. Artinya, setiap Muslim bebas memanjatkan doa sesuai kebutuhan dan hajatnya.
Imam Al-Imrani dalam kitab Al-Bayan menjelaskan bahwa berdoa pada waktu tersebut hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan, tanpa pembatasan redaksi tertentu.
Sementara itu, Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menafsirkan bahwa “tidak tertolak” berarti memiliki peluang besar untuk dikabulkan, selama tidak berisi hal yang bertentangan dengan syariat.
Pandangan ini diperkuat oleh Imam As-Suyuti yang menegaskan bahwa doa tetap harus memenuhi adab, tidak untuk kemaksiatan dan tidak memutus silaturahim.
Meski tidak ada doa baku, Rasulullah memberikan arahan tentang isi doa yang paling utama.
Dalam riwayat Muhammad At-Tirmidzi, para sahabat bertanya:
“Apa yang sebaiknya kami ucapkan?”
Beliau menjawab:
“Mintalah kepada Allah keselamatan (afiyah) di dunia dan akhirat.”
Dari sini, para ulama menyimpulkan bahwa doa terbaik pada waktu tersebut adalah yang menyentuh kebutuhan paling mendasar manusia, keselamatan, kesehatan, dan keberkahan hidup.
Baca juga: 4 Keistimewaan Hari Jumat, Dari Nabi Adam hingga Waktu Mustajab
Walaupun bersifat bebas, beberapa doa berikut sering dianjurkan karena bersumber dari Al-Qur’an dan hadis sahih.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Allahumma inni as-alukal ‘aafiyata fid dunyaa wal aakhirati
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keselamatan (kesehatan dan kesejahteraan) kepada-Mu di dunia dan di akhirat.”
Rasulullah SAW juga mengajarkan doa yang lebih lengkap:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي
Allahumma inni as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fi diinii wa dunyaaya wa ahlii wa maalii
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan keselamatan kepada-Mu dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku.”
Doa ini dianggap mencakup seluruh aspek kehidupan: fisik, mental, dan spiritual.
Dari Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 201:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
Doa ini menjadi salah satu doa paling komprehensif karena mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, doa ini melindungi dari kecemasan, kelemahan, hingga lilitan utang.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan duka, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” (HR. Al-Bukhari).
Maknanya relevan hingga saat ini, terutama di tengah tekanan hidup modern.
Doa Nabi Musa dalam Surah Thaha:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Rabbisyrah lii shadrii, wa yassir lii amrii, wahlul ‘uqdatan min lisaanii yafqahuu qaulii
Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”
Doa ini sering dibaca untuk memohon kelapangan hati dan kelancaran urusan.
Baca juga: Sholat Hajat Lengkap: Tata Cara, Niat, Doa Mustajab dan Waktu Terbaik agar Hajat Terkabul
Menariknya, praktik berdoa di waktu tertentu juga mendapat perhatian dalam kajian modern.
Dalam buku The Spirituality of Happiness karya Abu Hamid al-Ghazali, dijelaskan bahwa kedekatan dengan Tuhan mampu menciptakan ketenangan batin yang berdampak langsung pada stabilitas emosi.
Sementara itu, dalam kajian psikologi modern, momen reflektif seperti berdoa terbukti membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan fokus.
Artinya, anjuran berdoa dalam Islam tidak hanya bernilai teologis, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang nyata.
Sering kali, waktu antara adzan dan iqamah dianggap hanya sebagai jeda menunggu. Padahal, dalam perspektif Islam, waktu ini adalah “ruang spiritual” yang sangat berharga.
Abdul Muhsin Al-Badr dalam Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkaar menyebut bahwa waktu ini termasuk di antara waktu-waktu yang paling diharapkan terkabulnya doa.
Bahkan, Abdul Aziz bin Baz dikenal memanfaatkan waktu ini secara khusus untuk berdoa, menunjukkan betapa pentingnya momen tersebut.
Durasi antara adzan dan iqamah mungkin hanya beberapa menit. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya jauh lebih besar.
Ia mengajarkan bahwa dalam kesibukan sehari-hari, selalu ada celah untuk kembali kepada Allah.
Bahwa ketenangan tidak selalu datang dari waktu yang panjang, tetapi dari kesadaran memanfaatkan momen yang tepat.
Pada akhirnya, tidak ada doa khusus yang membatasi apa yang harus dipanjatkan. Justru di situlah letak keindahannya.
Setiap orang bebas membawa harapannya masing-masing, tentang rezeki, kesehatan, keluarga, atau ketenangan hati.
Dan mungkin, di antara lantunan adzan dan iqamah itu, ada doa yang diam-diam sedang diangkat, lalu dikabulkan dengan cara yang tak pernah disangka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang