Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Abad Kedua NU: Empat "Kuda Pacu" dan Keharusan Bersatu

Kompas.com, 1 Mei 2026, 09:31 WIB
Add on Google
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

MEMBACA dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU 2026 ini banyak yang hanya fokus pada sosok siapa, bukan tentang apa dan mengapa? Padahal, ibarat mengendarai mobil di jalan tol yang macet, NU di abad kedua ini tidak cukup dengan sopir yang piawai, dan navigator yang paham peta global, tetapi juga mesin yang baru dan sopir tahu arah dan tujuan.

Oleh karena itu, untuk "memperbaiki" performa mesin, dan sosok siapanya yang paham arah serta tujuan itu kita sudah punya stock istimewa. Kita punya "4 Kuda Pacu"—atau empat pendekar—yang kelebihannya saling melengkapi, ibarat puzzle yang berserakan dan mendesak untuk disatukan.

Ada Cak Imin (Muhaimin Iskandar), Gus Ipul (Saifullah Yusuf), Nusron Wahid, dan Prof Nasaruddin Umar. Mengapa mereka? Mengapa pula persatuan mereka menjadi harga mati? Sebab mereka adalah perpaduan unik dari loyalis strukturalis dari bawah hingga atas, pengalaman birokrasi profesional, dan kepemimpinan institusi yang solid.

Baca juga: Gus Ipul Respons Desakan PWNU: Muktamar NU Agustus, Panitia Sudah Rampung

Saya hampir berani memastikan, kalau mereka berempat ini egois, jalan sendiri-sendiri, mingkin NU akan begini-begini saja. Hanya besar pada jumlah, tapi kerdil pada program dan eksekusi. Tetapi, bayangkan jika empat energi ini bersatu dalam visi, misi, dan program. Lebih-lebih bersatu dan berbagi peran di struktural, insya Allah masa depan NU sangat cerah.

Cak Imin (Abdul Muhaimin Iskandar). Dengan basis massa struktural dan pengalaman di lembaga legislatif serta eksekutif (Menko Pemberdayaan Masyarakat), ia adalah arsitek penggerak akar rumput. Ia paham cara mengorkestrasi loyalis struktural.

Gus Ipul (Saifullah Yusuf). Sebagai Sekjen PBNU dan tokoh yang matang di eksekutif (Menteri Sosial/mantan Wagub), ia adalah jembatan struktural yang handal. Pengalamannya dalam manajemen organisasi memastikan agenda NU berjalan di lapangan.

Nusron Wahid. Sebagai Menteri ATR/Kepala BPN, ia membawa kemampuan teknokratis dan manajerial yang tajam. Ia adalah tipe eksekutor yang berani, krusial untuk modernisasi tata kelola organisasi.

Lalu, Prof Nasaruddin Umar. Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan Menteri Agama (Menag), ia adalah representasi intelektual, spiritual, dan jaringan global. Ia membawa ruh keilmuan yang mendalam, menjaga NU tetap memiliki otoritas moral dan teologis.

Jika struktur PBNU—Syuriyah dan Tanfidziyah—bisa didesain untuk mengakomodasi keempatnya, insya Allah itu akan sempurna. Tapi, kalaupun tidak --karena dinamika politik jam’iyah itu cair-- setidaknya mereka harus berbagi program dan misi strategis. Jangan lagi ada "matahari" kembar empat yang merusak, tapi bintang kembar yang menerangi.

Abad Kedua NU: Dari Tradisi ke Transformasi

Abad pertama NU adalah kebanggaan historis. Abad kedua? Kita harus "saintifik". Muktamar 35 harus memutuskan: Fokus SDM NU bukan lagi sekadar retorika jam'iyyah yang hanya fokus pada ritual-an. Kita butuh pendekatan ilmiah, profesional, dan manajerial. Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama mengusung visi transformatif yang ambisius, memproyeksikan diri bukan hanya sebagai benteng moral, tetapi juga akselerator kemajuan bangsa melalui penguasaan teknologi, ekonomi, politik kebangsaan dan geopolitik global.

Agenda besar tersebut mencakup mengupayakan Universitas NU berstandar Internasional, jaringan rumah sakit bergengsi di setiap kabupaten/kota, serta penciptaan SDM unggul yang profesional, sembari tetap menjaga akar pesantren yang adaptif terhadap tuntunan zaman. Lebih dari sekadar perbaikan struktural, visi ini menegaskan urgensi dakwah berbasis digital dan kedaulatan data sebagai pilar baru perjuangan NU dalam menjawab tantangan kedaulatan di era modern.

Melalui kedaulatan data yang terintegrasi ini, NU bukan hanya meningkatkan pelayanan administrasi, melainkan membangun fondasi untuk memiliki kekuatan politik kebangsaan yang berbasis data (data-driven) guna mengawal kepentingan warga, menegakkan kedaulatan digital, serta merawat kehidupan berbangsa dan bernegara secara mandiri.

Kedaulatan tersebut merujuk pada posisi NU sebagai organisasi sosial-keagamaan yang menggunakan data untuk kebijakan yang sejalan dengan nilai-nilai Aswaja (bukan politik praktis), dan memastikan negara berpihak pada keadilan, serta menggerakkan potensi ekonomi-politik warga nahdliyin demi martabat bangsa.

Keberhasilan proyeksi "peradaban" ini tentu diletakkan di atas pundak kader-kader terbaik yang memiliki kapasitas, integritas, dan visi strategis yang mumpuni. Dan, agenda besar tersebut sepertinya hanya mampu direalisasikan oleh empat sosok pilihan tersebut. Sebab masing-masing figur sudah menunjukkan "maqom" pemimpin yang visioner, solid, serta mampu menyatukan pemberdayaan ekonomi umat dengan profesionalisme organisasi.

Sekali lagi, Muktamar ke-35 nanti tidak harus terus-terusan membahas soal sosok siapa yang duduk di kursi Ketua Umum. Itu urusan "wadah". Yang lebih penting adalah "isi". Kalaupun mereka tidak berada dalam satu struktur resmi, mereka harus berada dalam satu "misi strategis". Satu nafas, satu visi.

Baca juga: Muktamar NU 2026 Disorot, Gus Kikin: Kembalikan ke Qanun Asasi dan Perkuat Ukhuwah

Kita butuh perubahan nalar. Berhenti membanggakan "Kami ini organisasi terbesar". Itu nalar masa lalu. Nalar masa depan adalah: "Apa yang sudah NU buat untuk mental, SDM, pendidikan, ekonomi, politik dan kesehatan warganya?"

Maka empat tokoh ini— Cak Imin, Gus Ipul, Nusron, Prof Nazar—harus menjadi role model perubahan mentalitas ini. Kalau mereka bersatu, Muktamar 35 akan menjadi momentum sejarah yang sesungguhnya. Kalau tidak, sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang gagal memaksimalkan potensi.

Nahdlatul Ulama abad kedua adalah momentum bersatu, bersinergi, berubah, dan bangkit menyambut tantangan global dan kita punya empat kuda pacu atau pendekarnya. Wallahu'alam bissowab

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Perketat Pengawasan Haji Ilegal, 42 Calon Haji Nonprosedural Dicegah Berangkat
Kemenhaj Perketat Pengawasan Haji Ilegal, 42 Calon Haji Nonprosedural Dicegah Berangkat
Aktual
Jemaah Haji Khusus Indonesia Mulai Tiba di Madinah, Masa Tinggal Lebih Singkat
Jemaah Haji Khusus Indonesia Mulai Tiba di Madinah, Masa Tinggal Lebih Singkat
Aktual
PPIH Imbau Jamaah Haji Gunakan Jasa Pendorong Kursi Roda Resmi di Masjidil Haram
PPIH Imbau Jamaah Haji Gunakan Jasa Pendorong Kursi Roda Resmi di Masjidil Haram
Aktual
Makna Filosofis Gerakan Shalat Menurut Ulama, dari Berdiri hingga Salam
Makna Filosofis Gerakan Shalat Menurut Ulama, dari Berdiri hingga Salam
Aktual
5 Hal yang Membatalkan Wudhu Menurut Mazhab Syafi’i, Muslim Wajib Tahu
5 Hal yang Membatalkan Wudhu Menurut Mazhab Syafi’i, Muslim Wajib Tahu
Aktual
7 WNI Ditangkap di Arab Saudi Diduga Terkait Praktik Haji Ilegal, KJRI Jeddah Pantau Proses Hukum
7 WNI Ditangkap di Arab Saudi Diduga Terkait Praktik Haji Ilegal, KJRI Jeddah Pantau Proses Hukum
Aktual
Embarkasi Haji YIA Jadi Tuai Pujian, Menhaj Sebut Bisa Jadi Model Percontohan Nasional
Embarkasi Haji YIA Jadi Tuai Pujian, Menhaj Sebut Bisa Jadi Model Percontohan Nasional
Aktual
Jemaah Haji Asal Bengkulu Wafat di Madinah, Sempat Shalat di Masjid Nabawi
Jemaah Haji Asal Bengkulu Wafat di Madinah, Sempat Shalat di Masjid Nabawi
Aktual
PPIH Ungkap 3 Keringanan Fikih untuk Jemaah Haji Haid saat Tawaf Ifadah
PPIH Ungkap 3 Keringanan Fikih untuk Jemaah Haji Haid saat Tawaf Ifadah
Aktual
Hewan Kurban Stres Bisa Bikin Daging Cepat Busuk, Dosen IPB Bagikan Cara Mencegahnya
Hewan Kurban Stres Bisa Bikin Daging Cepat Busuk, Dosen IPB Bagikan Cara Mencegahnya
Aktual
Cara Resmi Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Wajib Tahu
Cara Resmi Masuk Raudhah di Masjid Nabawi, Jemaah Haji Wajib Tahu
Aktual
3 Opsi Keringanan Tawaf Ifadah bagi Haji Perempuan Haid
3 Opsi Keringanan Tawaf Ifadah bagi Haji Perempuan Haid
Aktual
Mengapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Maknanya
Mengapa Kubah Masjid Nabawi Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Maknanya
Aktual
Apa Itu Haji Mabrur? Ini Makna dan Ciri-cirinya yang Perlu Dipahami Jemaah
Apa Itu Haji Mabrur? Ini Makna dan Ciri-cirinya yang Perlu Dipahami Jemaah
Aktual
Satu Calon Haji Asal NTB Ditolak Masuk Arab Saudi, Ini Penyebabnya
Satu Calon Haji Asal NTB Ditolak Masuk Arab Saudi, Ini Penyebabnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com