MADINAH, KOMPAS.com - Di sebuah rumah sederhana di Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tersimpan ember tua di bawah kolong tempat tidur.
Bukan sembarangan, karena tabungan pada ember inilah yang menjadi perantara Jumaria P Sire Said (70) berangkat haji tahun ini.
Ember tua ini berisi lembaran rupiah yang dikumpulkan selama hampir dua dekade.
Uang tersebut diperoleh dari keringatnya menggarap kebun tetangga maupun hasil panen dari sawah peninggalan orang tuanya.
Hidup seorang diri tanpa kehadiran suami maupun anak di masa tuanya, tak membuat asanya layu untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.
Baca juga: “Jangankan Dorong, Gendong Mama Pun Amri Siap”, Kisah Mengharukan Haji Ibu dan Anak
Dia harus disiplin menyisihkan sebagian pendapatannya.
“Saya simpan mi di ember-ember uangnya. Saya taruh di bawah tempat tidur, ditutup kain-kain jelek supaya tidak ada yang tahu,” ujar Nenek Jumaria, Kamis (7/5/2026).
Pecahan uang yang ia simpan sangat beragam.
Kadang ia bisa langsung menyimpan uang dalam jumlah besar.
“Kadang Rp 500 ribu, kadang Rp 700 ribu. Ada juga dari kebun yang saya kerjakan, dikasih Rp 200 ribu, saya simpan,” ungkapnya.
Namun tak jarang pula hanya nominal kecil yang ia sisihkan.
Perjuangan ini dia lakukan sampai sekitar 20 tahun.
"Kadang 50, kadang 20, kadang 100, kadang 200 gitu, hampir mi kapan 20 tahun."
Untuk menjaga tabungannya tetap utuh, Nenek Jumaria menerapkan gaya hidup yang sangat bersahaja.
Berbekal air minum secukupnya, ia menjadikan sawah sebagai denyut nadi kesehariannya.
“Kalau pagi jam 6 pergi ke sawah, bawa air setengah liter. Habis itu pulang, mandi, makan, tidur sebentar lalu shalat,” tuturnya menjelaskan rutinitasnya.
Bahkan untuk urusan perut, ia pantang menyentuh uang di dalam ember tersebut.
Ia lebih memilih memakan apa yang disediakan oleh alam di sekitar rumahnya.
“Ambil saja daun ubi, saya masak. Masak apa yang ada saja,” tegasnya.
Sesekali, ia melengkapi gizinya dari hasil ternak sendiri, seperti memasak telur ayam.
Segala perjuangan, rasa lapar, dan peluh selama puluhan tahun itu bermuara pada satu pesan mendalam dari mendiang orang tuanya yang terus terngiang di telinga Jumaria.
“Kalau kau punya uang, pergi ko tanah suci. Pergi mako karena saya sudah tidak bisa pergi,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca menirukan pesan tersebut.
Saat kakinya akhirnya memijak Kota Suci Madinah, ada kebingungan dan haru yang bergejolak di batinnya.
Ia tak menyangka impian yang dijaga di dalam ember tua di bawah tempat tidurnya kini mewujud nyata di depan mata.
“Saya suka di sini, tenang. Saya berdoa semoga panjang umur dan bisa ke sini lagi,” tutupnya dengan senyum syukur.
Usia yang senja nyatanya tidak menggerus ketahanan fisik Nenek Jumaria.
Ia tak hanya sukses mengumpulkan syarat finansial, tetapi juga memenuhi syarat istitha'ah, yaitu mampu secara fisik dan mental dengan sangat sempurna.
Ketua Kloter UPG 14, Siti Hawaisyah, mengungkapkan kekagumannya terhadap rekam medis sang nenek.
"Itu Pak buktinya tidak merah dia (kartu kesehatannya), berarti dia sehat," ujar Siti.
Lebih lanjut, Siti memaparkan betapa disiplinnya Jumaria selama masa persiapan keberangkatan.
Meski cuaca panas maupun hujan, Jumaria selalu hadir.
“Beliau tidak pernah absen manasik. Lebih dari 80 kali pertemuan selalu hadir,” kata Siti.
Selain itu, Nenek Jumaria disebut mandiri dan memiliki fisik yang kuat meski usianya sudah lanjut.
“Dia mandiri, kuat sekali,” tambahnya.
Kekuatan fisik ini bahkan membuat rekan sekamarnya, Ibu Marwati, kewalahan saat harus mengimbangi langkahnya di Tanah Suci.
"Sampai-sampai saya berjalan dengan kencang begitu, bahkan dia (Nenek Jumari) masih bisa lari tarik saya," cerita Marwati.
Dedikasi tanpa batas ini membuat Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) merekomendasikan Nenek Jumaria sebagai Ikon Haji 2026.
Baca juga: Kisah Abdul Hanan, Petani Lombok yang Berangkat Haji Berkat Bantuan Anak
Kisahnya semakin mendunia ketika Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengangkat perjalanan hidupnya melalui dokumentasi Program Mekkah Route di Embarkasi Makassar, dan mengunggahnya di kanal Instagram resmi @makkahroute.
Pengambilan gambar tentang Jumaria dilakukan selama satu hari penuh di Desa Kuru Sumange.
Proses pengambilan gambar itu pun menjadi hiburan tersendiri bagi warga setempat.
“Waktu itu masyarakat datang semua, berbondong-bondong menyaksikan proses syuting,” ujar Siti Hawaisyah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang