KOMPAS.com - Banyak Muslim memanfaatkan hari Senin dan Kamis untuk menjalankan puasa sunnah.
Namun, tidak sedikit pula yang masih memiliki utang puasa Ramadhan karena sakit, haid, perjalanan jauh, atau kondisi tertentu lainnya.
Lalu muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas: bolehkah menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Senin Kamis dalam satu niat sekaligus?
Sebagian orang memilih cara ini agar utang puasa lebih cepat lunas, sekaligus berharap mendapatkan keutamaan puasa sunnah yang rutin dikerjakan Rasulullah SAW. Namun, bagaimana sebenarnya hukum menggabungkan keduanya menurut ulama?
Puasa Senin Kamis termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW diketahui rutin menjalankannya.
Dalam hadis riwayat Muhammad disebutkan:
“Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang ketika amalku diperlihatkan dalam keadaan aku berpuasa.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam riwayat Imam Tirmidzi.
Selain itu, dalam hadis lain Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa hari Senin memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi hari kelahiran beliau dan hari turunnya wahyu pertama.
Dalam buku Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa karya Nur Solikhin dijelaskan bahwa puasa Senin Kamis bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan spiritual untuk menjaga konsistensi ibadah di tengah aktivitas duniawi.
Baca juga: Puasa Daud: Niat, Tata Cara, Keutamaan, dan Hukumnya Lengkap
Sementara itu, puasa qadha merupakan kewajiban bagi Muslim yang meninggalkan puasa Ramadhan karena alasan syar’i.
Kewajiban mengganti puasa dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka wajib menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan keringanan kepada umatnya, tetapi tetap mewajibkan penggantian puasa di luar bulan Ramadhan.
Dalam buku Dahsyatnya Puasa Wajib dan Sunnah karya Amirulloh Syarbini dijelaskan bahwa qadha puasa termasuk bentuk tanggung jawab ibadah yang tidak boleh diabaikan hingga datang Ramadhan berikutnya.
Para ulama memiliki penjelasan yang cukup rinci terkait masalah ini.
Mayoritas ulama membolehkan seseorang berpuasa qadha Ramadhan pada hari Senin atau Kamis.
Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah pahala puasa sunnahnya juga otomatis didapatkan.
Sebagian ulama berpendapat, jika seseorang berniat puasa qadha pada hari Senin atau Kamis, maka puasa wajibnya tetap sah dan ia juga berpeluang mendapatkan keutamaan hari Senin atau Kamis.
Dasarnya adalah hadis:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dan tercantum dalam riwayat Imam Bukhari serta Muslim.
Menurut pendapat ini, seseorang cukup berniat puasa qadha Ramadhan sebagai niat utama. Adapun keutamaan hari Senin atau Kamis diharapkan menjadi pahala tambahan dari waktu pelaksanaannya.
Baca juga: Jadwal dan Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah Mei 2026 Lengkap dengan Keutamaannya
Meski demikian, ada pula ulama yang menegaskan bahwa puasa wajib dan puasa sunnah tidak sepenuhnya bisa digabung menjadi satu ibadah dengan dua niat setara.
Dalam buku Fiqih Niat karya Isnan Ansory dijelaskan bahwa penggabungan niat antara ibadah wajib dan sunnah bisa membuat salah satu niat tidak sempurna.
Contohnya adalah puasa qadha Ramadhan yang hukumnya wajib digabung dengan puasa Senin Kamis yang hukumnya sunnah.
Sebagian ulama menjelaskan:
Karena itu, banyak ulama menyarankan agar niat utama tetap difokuskan pada qadha Ramadhan.
Ulama Saudi, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah menjelaskan tentang penggabungan niat pada puasa sunnah.
Beliau menerangkan bahwa apabila puasa Syawal bertepatan dengan Senin atau Kamis, seseorang tetap bisa mendapatkan pahala keduanya.
Namun, kasus puasa qadha berbeda karena statusnya adalah puasa wajib.
Karena itu, sebagian ulama membedakan antara:
Dalam praktiknya, puasa wajib harus lebih diutamakan daripada puasa sunnah.
Bila masih memiliki utang puasa Ramadhan, para ulama umumnya menganjurkan untuk segera mengqadhanya terlebih dahulu dibanding memperbanyak puasa sunnah.
Sebab, ibadah wajib memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding ibadah sunnah.
Namun, jika qadha dilakukan tepat di hari Senin atau Kamis, banyak ulama tetap berharap pelakunya memperoleh keberkahan waktu dan keutamaan hari tersebut.
Baca juga: Niat Puasa Senin Kamis, Doa Berbuka, dan Keutamaan Menurut Hadits
Ada perbedaan penting antara niat puasa wajib dan puasa sunnah.
Untuk puasa qadha Ramadhan, niat harus dilakukan sejak malam hari hingga sebelum masuk waktu Subuh.
Jika seseorang belum berniat sebelum Subuh, maka puasa wajibnya tidak sah menurut mayoritas ulama.
Sementara puasa sunnah seperti Senin Kamis lebih longgar.
Niat masih boleh dilakukan pada pagi hari sebelum zuhur, selama sejak Subuh belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa.
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumal itsnaini sunnatan lillaahi ta‘aalaa.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Senin karena Allah Ta’ala.”
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumal khamiisi sunnatan lillaahi ta‘aalaa.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Kamis karena Allah Ta’ala.”
Bagi yang ingin mengganti utang puasa di hari Senin atau Kamis, gunakan niat puasa wajib berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaai fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta‘aalaa.
Artinya: “Aku berniat mengqadha puasa wajib Ramadhan esok hari karena Allah Ta’ala.”
Banyak Muslim memilih mengqadha puasa pada hari Senin atau Kamis karena dianggap lebih ringan dan membantu menjaga rutinitas ibadah.
Selain itu, metode ini dinilai dapat menjadi motivasi agar utang puasa tidak terus tertunda.
Dalam buku The Miracle of Puasa Senin Kamis karya Ubaidurrahim El-Hamdy dijelaskan bahwa puasa rutin mampu melatih disiplin, kesabaran, dan pengendalian diri.
Meski ada kelonggaran waktu hingga sebelum Ramadhan berikutnya, para ulama mengingatkan agar qadha puasa tidak ditunda tanpa alasan.
Sebab, utang ibadah tetap menjadi tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Oleh karena itu, bila seseorang ingin tetap menjalankan amalan Senin Kamis sambil melunasi utang puasa, cara paling aman adalah dengan mendahulukan niat qadha Ramadhan.
Dengan begitu, kewajiban tetap tertunaikan dan ia tetap berpeluang mendapatkan keberkahan puasa di hari yang dicintai Rasulullah SAW.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang