KOMPAS.com – Di tengah jutaan jamaah yang memadati Tanah Suci selama musim haji, kenyamanan dan aksesibilitas bagi jamaah lanjut usia serta penyandang disabilitas kini menjadi perhatian besar pemerintah Arab Saudi.
Salah satu langkah terbaru terlihat di Masjid Nabawi yang menghadirkan berbagai layanan khusus guna mempermudah ibadah kelompok rentan tersebut.
Dilansir dari Saudi Gazette, sistem layanan terpadu di kawasan Masjid Nabawi terus diperkuat agar jamaah lansia dan penyandang disabilitas dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman, nyaman, dan mandiri.
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi pelayanan haji modern yang tidak hanya berfokus pada kapasitas jamaah, tetapi juga kualitas pengalaman ibadah.
Bagi banyak jamaah, terutama lansia, perjalanan menuju Madinah bukan sekadar wisata religi, melainkan perjalanan spiritual yang telah lama diimpikan.
Oleh karena itu, akses yang ramah bagi semua kalangan dinilai menjadi bagian penting dalam menghadirkan pengalaman ibadah yang manusiawi.
Baca juga: Jemaah Haji RI Sering Tersesat di Nabawi, Ini Lokasi 5 Pos Bantuan di Madinah
Untuk mendukung mobilitas jamaah, pengelola Masjid Nabawi menyediakan kursi roda elektrik, kursi roda manual, hingga gerobak khusus di sejumlah titik layanan yang mudah dijangkau.
Selain itu, jalur khusus, lift, pintu masuk ramah disabilitas, serta area pergerakan tertentu juga telah disiapkan guna membantu jamaah bergerak lebih aman di dalam maupun sekitar masjid.
Langkah ini sangat penting mengingat kepadatan jamaah di kawasan pusat Madinah meningkat drastis selama musim haji.
Pemerintah Saudi juga mengalokasikan rute khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas agar mereka tidak terjebak dalam arus kepadatan utama. Area tertentu bahkan dirancang lebih landai dan mudah diakses untuk pengguna kursi roda.
Tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, Masjid Nabawi juga menghadirkan tim lapangan dan pembimbing yang bertugas membantu jamaah secara langsung.
Petugas tersebut ditempatkan di berbagai titik strategis untuk membantu jamaah mengakses area shalat, fasilitas umum, hingga layanan kesehatan darurat jika diperlukan.
Saat jam-jam padat, tim pendamping juga membantu mengatur arus pergerakan jamaah agar tetap aman dan tertib.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelayanan haji modern kini tidak lagi hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kehadiran sumber daya manusia yang siap membantu jamaah secara langsung.
Arab Saudi juga mulai mengintegrasikan teknologi pintar dalam pelayanan di Masjid Nabawi. Salah satunya melalui penggunaan peta interaktif berbasis QR code yang tersedia di sejumlah gerbang masjid.
Melalui sistem tersebut, jamaah dapat mengakses informasi lokasi pintu masuk, area ibadah, toilet, hingga layanan tertentu hanya melalui ponsel.
Layanan bimbingan juga tersedia dalam berbagai bahasa untuk membantu jamaah internasional memahami arah dan fasilitas di sekitar masjid.
Dalam buku Smart Cities: Big Data, Civic Hackers, and the Quest for a New Utopia karya Anthony M. Townsend, dijelaskan bahwa teknologi kota pintar bukan hanya soal digitalisasi, tetapi bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara nyata.
Konsep inilah yang mulai terlihat dalam pengelolaan kawasan ibadah di Arab Saudi.
Fasilitas pendukung lain juga disiapkan secara khusus, termasuk toilet ramah disabilitas, area istirahat lansia, hingga layanan kesehatan siaga di area pusat Madinah.
Keberadaan fasilitas ini menjadi sangat penting karena banyak jamaah lanjut usia memiliki kondisi kesehatan tertentu yang membutuhkan perhatian lebih selama menjalankan ibadah.
Dalam buku Aging and Health terbitan World Health Organization, disebutkan bahwa lingkungan yang ramah lansia harus dirancang untuk mendukung mobilitas, keamanan, serta partisipasi sosial secara mandiri.
Konsep tersebut kini semakin terlihat dalam pengelolaan layanan haji dan umrah di Arab Saudi.
Baca juga: Saudi Gelar Pelatihan Petugas Masjid Nabawi Jelang Musim Haji 2026
Beberapa tahun terakhir, Arab Saudi memang semakin serius mengembangkan konsep pelayanan haji inklusif. Hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah jamaah lansia dari berbagai negara Muslim.
Berdasarkan data kementerian haji Saudi, sebagian besar jamaah internasional berasal dari kelompok usia dewasa hingga lanjut usia. Karena itu, aksesibilitas menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar fasilitas tambahan.
Selain di Masjid Nabawi, layanan serupa juga mulai diperluas di kawasan Masjidil Haram melalui penyediaan kendaraan elektrik, jalur khusus thawaf, hingga robot pintar penunjuk arah.
Transformasi ini menjadi bagian dari agenda besar Saudi Vision 2030 yang menargetkan peningkatan kualitas pelayanan bagi jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.
Di balik berbagai fasilitas modern tersebut, ada pesan yang lebih besar: ibadah harus dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali.
Bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas, kemudahan akses bukan hanya soal kenyamanan fisik, tetapi juga tentang penghormatan terhadap hak mereka untuk beribadah dengan layak dan bermartabat.
Dalam sejarah Islam sendiri, perhatian terhadap kelompok rentan telah menjadi bagian penting dari nilai kemanusiaan dan pelayanan umat.
Kini, di era digital dan smart city, nilai tersebut diterjemahkan dalam bentuk layanan yang lebih modern, terintegrasi, dan inklusif di jantung kota suci Madinah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang