Editor
KOMPAS.com - Pertemuan tiga tokoh muda Nahdlatul Ulama dalam satu forum kaderisasi di Cirebon mendadak menjadi perhatian warga Nahdliyin. Kehadiran mereka dinilai mengirimkan sinyal kuat tentang semakin menguatnya regenerasi kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tiga figur yang hadir tersebut adalah Gus Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, dan Gus Miftah Maulana Habiburrahman. Ketiganya mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) di Cirebon pada 13 hingga 17 Mei 2026.
Forum kaderisasi strategis itu digelar di Ballroom Hotel Aston Cirebon dan diikuti berbagai kader NU dari sejumlah daerah. Ketiga tokoh tampak aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengaderan yang menjadi salah satu jenjang penting dalam pembentukan kader strategis NU.
Baca juga: PBNU Gelar Pleno 21 Mei, Bahas Lokasi Munas-Konbes dan Muktamar NU
Suasana kebersamaan terlihat jelas sepanjang kegiatan. Gus Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, dan Gus Miftah tampil serasi mengenakan kemeja putih dan peci hitam khas santri, menghadirkan simbol kesederhanaan sekaligus kesatupaduan di tengah dinamika internal organisasi.
Tidak terlihat sekat maupun rivalitas di antara mereka. Sebaliknya, forum tersebut justru memperlihatkan keakraban dan komunikasi cair antartokoh yang selama ini dikenal memiliki basis pengaruh berbeda di kalangan Nahdliyin.
Kegiatan PMKNU dipandu langsung oleh instruktur senior NU, Masyhuri Malik. Kehadiran para tokoh besar dalam forum kaderisasi itu dinilai sebagai bentuk ketundukan terhadap mekanisme organisasi dan pentingnya tradisi pengaderan di tubuh NU.
“PMKNU bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi ruang penyamaan visi, penguatan ideologi organisasi, dan ikhtiar menjaga kesinambungan kepemimpinan NU,” ujar KH Masyhuri Malik dalam sesi pembukaan kegiatan dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).
Menurut sejumlah peserta, momen berkumpulnya tiga tokoh tersebut memiliki makna simbolik yang kuat bagi masa depan organisasi.
“Ini bukan sekadar formalitas pengaderan. Kehadiran beliau-beliau adalah pesan kuat bahwa masa depan NU berada di tangan pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga terdidik secara organisatoris,” ujar salah satu peserta PMKNU di lokasi kegiatan.
Kehadiran ketiga figur tersebut juga dinilai mencerminkan soliditas lintas spektrum di lingkungan Nahdlatul Ulama. Gus Yusuf dikenal sebagai tokoh pesantren dan budayawan dengan jejaring politik yang luas. KH Imam Jazuli dikenal sebagai konseptor pendidikan dan pengasuh pesantren modern di Cirebon. Sementara Gus Miftah selama ini identik dengan dakwah milenial yang menjangkau berbagai kalangan masyarakat.
Meski memiliki latar dan karakter dakwah berbeda, ketiganya tampak menyatu dalam semangat kaderisasi dan penguatan jam’iyyah.
“NU dibangun melalui tradisi ilmu, adab, dan kaderisasi. Karena itu siapa pun tokohnya harus tetap tunduk pada mekanisme organisasi,” ujar salah satu panitia kegiatan.
PMKNU sendiri merupakan salah satu jenjang kaderisasi formal Nahdlatul Ulama yang dipersiapkan untuk melahirkan kader-kader pemimpin di level strategis organisasi. Forum ini menekankan penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, manajemen organisasi, kepemimpinan, hingga strategi kebangsaan.
Baca juga: PBNU Sahkan Panitia Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Ditunjuk Jadi Ketuanya
Momen kebersamaan di Cirebon tersebut menjadi pemandangan sejuk bagi warga Nahdliyin. Di tengah dinamika menjelang agenda-agenda besar organisasi, para tokoh NU justru menunjukkan teladan tentang kompetisi sehat yang dibalut semangat ukhuwah Nahdliyyah.
Pertemuan itu sekaligus mengirimkan pesan penting bahwa regenerasi kepemimpinan NU harus dibangun di atas fondasi kaderisasi, loyalitas organisasi, dan komitmen menjaga persatuan jam’iyyah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang