Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menjejakkan Kaki di Al-Balad Jeddah, Gerbang Haji Masa Lampau Menuju Makkah

Kompas.com, 15 Mei 2026, 15:43 WIB
Add on Google
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

JEDDAH, KOMPAS.com- Aroma kayu lawas, rempah, berpadu dengan angin Laut Merah menguar saat kaki melangkah memasuki lorong-lorong kota tua itu.

Al-Balad yang terletak di sudut Jeddah, Arab Saudi, menjadi saksi perjuangan haji pada masa lampau.

Di tempat itulah kaki para musafir, tamu-tamu Allah dari berbagai belahan dunia pernah dijejakkan, kala transportasi haji masih mengandalkan jalur laut.

Bangunan-bangunan tua, pintu besar dan kokoh, serta jendela rawasheen membuat waktu seakan berjalan lebih lambat di Al-Balad. Mereka seolah bercerita tentang perjalanan panjang kota yang berjuluk 'Gerbang Makkah' tersebut.

Baca juga: Tangis Haru Jemaah Haji Indonesia Disambut Mawar di Bandara Jeddah

Melansir situs resmi UNESCO, Jeddah terletak di pantai timur Laut Merah. Sejak abad ke-7 Masehi, kota ini menjadi pelabuhan utama jalur perdagangan Samudra Hindia. Jeddah sekaligus menjadi gerbang masuk bagi jemaah haji yang tiba melalui laut.

Maka tak heran, peran ganda tersebut membuat Jeddah dan Al-Balad sebagai bagiannya, berkembang sebagai pusat multikultural. Ditandai dengan arsitektur yang khas, termasuk rumah-rumah menara yang dibangun pada akhir abad-19.

Rumah-rumah tersebut menggabungkan tradisi bangunan karang pesisir Laut Merah dengan pengaruh dan kerajinan dari sepanjang jalur perdagangan.

Salah satu alumnus Universitas Al-Azhar Mesir Anis Diyah Puspita yang juga merupakan petugas haji PPIH Arab Saudi 2026 mengungkap sejarah Al-Balad sebagai pelabuhan yang pernah dilewati oleh jemaah haji seluruh dunia.

Tak heran, di kota tua Al-Balad hingga kini terdapat kawasan 'Hajj Route' atau rute haji.

Baca juga: Ada Mobil Golf hingga Klinik Khusus, Ini Fasilitas Bandara Jeddah untuk Jemaah Haji RI

Sebelum dikenal sebagai tempat yang masuk dalam wilayah Jeddah, Al-Balad menurut Anis, dahulu masuk dalam wilayah Hijaz.

"Sekitar abad ke-19 sudah dipakai jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk dari Nusantara. Juga dari berbagai negara seperti Mesir dan India," ungkap Anis di Jeddah, Arab Saudi, Jumat (15/5/2026).

Al-Balad berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Islam. Jemaah haji dunia datang bukan hanya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, melainkan juga bertukar pikiran mengenai perkembangan Islam, ilmu fiqih dan lain sebagainya.

"Termasuk tokoh ternama Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Ashari, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi," kata Anis.

Perjuangan haji masa lampau

Kota tua Al-Balad di Jeddah Arab SaudiMedia Center Haji 2026/Pythag Kurniati Kota tua Al-Balad di Jeddah Arab Saudi

Al-Balad menjadi saksi bisu betapa sulitnya perjuangan jemaah pada masa lampau mencapai Tanah Suci melalui jalur laut.

Bahkan, menurut Anis, jemaah Indonesia bisa menghabiskan waktu satu tahun untuk perjalanan pulang pergi haji saat itu.

"Kalau saat ini orang bisa sembilan jam sampai di Makkah, berbeda dengan dahulu banyak jemaah yang meninggal di perjalanan karena kondisi transportasi yang terbatas," katanya.

Sesampainya di kota pelabuhan Al-Balad, jemaah menuju Makkah dengan menaiki tungganggan seperti onta. Sedangkan untuk jemaah yang tidak memiliki cukup harta, berjalan kaki hingga ke Makkah.

Itulah mengapa di Indonesia hingga kini terdapat tradisi 'pamitan haji'. Sebab jemaah haji melakukan perjalanan berat dan bisa saja mereka tak kembali ke tengah-tengah keluarga.

Diakui UNESCO

Kota tua Al-Balad di Jeddah Arab SaudiMedia Center Haji 2026/Pythag Kurniati Kota tua Al-Balad di Jeddah Arab Saudi

Kini, distrik tersebut telah diakui sebagai situs Warisan Dunia UNESCO yang memiliki pasar-pasar dan lebih dari 600 bangunan bersejarah dengan arsitektur khas. Bangunan megahnya dikonstruksi menggunakan batu karang laut.

Dalam penelusuran Kompas.com di lokasi, terdapat lorong yang disebut Hajj Route atau rute haji yang dulunya menjadi rute para peziarah menuju dua masjid suci sejak era Khalifah Utsman bin Affan pada abad ke-1 Hijriah (abad ke-7 Masehi), ketika beliau menginstruksikan pemindahan pelabuhan utama dari Al-Shaiba ke Jeddah.

Keputusan bersejarah itulah yang menahbiskan kota pesisir ini sebagai titik persinggahan utama bagi jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia.

Menyusuri lorong kuno Al Balad, pengunjung dapat menemukan Bayt Nassif, sebuah monumen yang merekam persilangan antara keindahan seni dan tonggak sejarah Arab Saudi.

Baca juga: Arab Saudi Perketat Penindakan Haji Ilegal, KJRI Jeddah Imbau WNI Patuhi Aturan

Dibangun atas perintah Syekh Umar Affandi bin 'Abdullah bin Abu Bakr Basha bin Mohammed Nassif, pembangunannya dimulai pada tahun 1289 H (1872 M) dan rampung pada 1298 H (1881 M).

Bangunan ini memegang posisi sejarah yang sangat krusial berkat hubungannya dengan Yang Mulia Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud.

Bayt Nassif merupakan kediaman pertama yang beliau tempati setelah memasuki kota Jeddah pada tahun 1344 H (1925 M), menjadikannya pusat pemerintahan pada tahun-tahun awal kepemimpinan sang Raja.

Pesona arsitektur khas Al Balad terwakili dengan sempurna oleh Bayt Noorwali. Dibangun pada abad ke-19 (abad ke-13 Hijriah), struktur enam lantai ini membuat bangunan tersebut memegang gelar bangunan tertinggi di Jeddah pada masanya.

Bangunan ini berdiri kokoh dengan batu kapur tradisional dan langit-langit kayu. Ada tiga pintu masuk bergaya arsitektur yang unik.

Daya tarik paling luar biasa dari Bayt Noorwali adalah Roshan-nya, yaitu fasad kayu megah yang menjulang dari lantai dasar hingga lantai lima.

Dihiasi ukiran geometris dan motif bunga yang rumit, Roshan ini menjadi bukti nyata dari keahlian tingkat tinggi dan inovasi arsitektur perajin lokal di masa lampau.

Al-Balad tidak sekadar kota tua dengan bangunan-bangunan bersejarah, namun Al-Balad menjadi saksi cerita panjang perjuangan haji dari masa ke masa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bolehkah Puasa Dzulhijjah Digabung Qadha Ramadhan? Ini Hukumnya
Bolehkah Puasa Dzulhijjah Digabung Qadha Ramadhan? Ini Hukumnya
Aktual
Tawakkalna Hadirkan 19 Bahasa untuk Haji 2026, Termasuk Indonesia!
Tawakkalna Hadirkan 19 Bahasa untuk Haji 2026, Termasuk Indonesia!
Aktual
Kapan Batas Akhir Potong Kuku bagi Shahibul Kurban 2026? Cek Tanggalnya
Kapan Batas Akhir Potong Kuku bagi Shahibul Kurban 2026? Cek Tanggalnya
Aktual
Jelang Puncak Haji 2026, Saudi Pastikan Kesiapan 33 Ribu Bus di Arafah
Jelang Puncak Haji 2026, Saudi Pastikan Kesiapan 33 Ribu Bus di Arafah
Aktual
Menjejakkan Kaki di Al-Balad Jeddah, Gerbang Haji Masa Lampau Menuju Makkah
Menjejakkan Kaki di Al-Balad Jeddah, Gerbang Haji Masa Lampau Menuju Makkah
Aktual
Jelang Haji 2026, Saudi Periksa 33.000 Tempat Usaha di Makkah
Jelang Haji 2026, Saudi Periksa 33.000 Tempat Usaha di Makkah
Aktual
19 WNI Diamankan di Saudi, Ini Nasib Pelaku Rekam Perempuan Tanpa Izin
19 WNI Diamankan di Saudi, Ini Nasib Pelaku Rekam Perempuan Tanpa Izin
Aktual
Apa Itu Sedekah Barcode? Solusi Jemaah Haji Bisa Masuk Raudhah
Apa Itu Sedekah Barcode? Solusi Jemaah Haji Bisa Masuk Raudhah
Aktual
Lebih dari 860.000 Jemaah Tiba di Arab Saudi Jelang Puncak Haji 2026
Lebih dari 860.000 Jemaah Tiba di Arab Saudi Jelang Puncak Haji 2026
Aktual
Kapan Idul Adha 2026 di Arab Saudi? Cek Jadwal Wukuf dan Hari Tasyrik
Kapan Idul Adha 2026 di Arab Saudi? Cek Jadwal Wukuf dan Hari Tasyrik
Aktual
Bus Hidrolik Mudahkan Jemaah Haji Lansia Naik Bus tanpa Turun dari Kursi Roda
Bus Hidrolik Mudahkan Jemaah Haji Lansia Naik Bus tanpa Turun dari Kursi Roda
Aktual
Jelang Idul Adha, Kemenag Ponorogo Tambah Juru Sembelih Halal untuk Ribuan Masjid dan Mushalla
Jelang Idul Adha, Kemenag Ponorogo Tambah Juru Sembelih Halal untuk Ribuan Masjid dan Mushalla
Aktual
Khutbah Jumat 15 Mei 2026 tentang Haji, Luruskan Niat Sebelum ke Tanah Suci
Khutbah Jumat 15 Mei 2026 tentang Haji, Luruskan Niat Sebelum ke Tanah Suci
Aktual
3 Tokoh Muda NU Kumpul di Cirebon, Sinyal Regenerasi Kepemimpinan PBNU Menguat
3 Tokoh Muda NU Kumpul di Cirebon, Sinyal Regenerasi Kepemimpinan PBNU Menguat
Aktual
4 Jemaah Haji Asal Pasuruan Meninggal, Kemenhaj: Perhatikan Protokol Kesehatan
4 Jemaah Haji Asal Pasuruan Meninggal, Kemenhaj: Perhatikan Protokol Kesehatan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com