Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenag Dorong Satu Data Nasional Lewat Digitalisasi Layanan Keagamaan

Kompas.com, 21 Mei 2026, 18:00 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat langkah transformasi digital melalui pengembangan sistem integrasi data nasional guna mendukung pelayanan keagamaan yang lebih cepat, terhubung, dan efisien.

Upaya tersebut disampaikan Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI Abdul Rouf dalam diskusi bertema “Innovate in the Era of All Intelligence” yang digelar Huawei Indonesia di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut Abdul Rouf, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut lembaga pemerintah untuk mampu beradaptasi lebih cepat, termasuk dalam tata kelola data dan pelayanan publik.

Ia mengatakan Kementerian Agama saat ini tengah mempercepat digitalisasi tata kelola di internal kementerian, terutama karena kompleksitas layanan dan jumlah satuan kerja yang sangat besar.

“Kementerian Agama itu satker-nya sangat banyak, lebih dari 4.000 satuan kerja. Karena itu digitalisasi tata kelola menjadi sangat penting,” ujar Abdul Rouf.

Baca juga: Menag Ajak Hidupkan Spirit KH Wahab Hasbullah untuk Perkuat Moderasi dan Kebangsaan

Di sisi lain, ia mengungkapkan Kemenag selama ini juga menghadapi tantangan besar dalam integrasi sistem digital karena banyaknya aplikasi yang berkembang secara terpisah di berbagai unit layanan.

Menurut dia, saat ini terdapat sekitar 2.800 aplikasi di lingkungan Kemenag yang digunakan untuk berbagai kebutuhan administrasi dan pelayanan masyarakat.

Karena itu, Kemenag mulai melakukan penyederhanaan sekaligus integrasi sistem agar data dan layanan publik dapat berjalan lebih efektif.

“Nah, kita sedang melakukan upaya-upaya untuk melakukan penyederhanaan dan kemudian juga kita ingin melakukan beberapa langkah terkait integrasi,” katanya.

Abdul Rouf menilai integrasi data antarkementerian dan lembaga juga menjadi tantangan penting dalam proses digitalisasi pemerintahan di Indonesia.

Ia mengatakan selama ini pertukaran data antarinstansi masih sering terkendala prosedur administratif sehingga memperlambat pelayanan publik.

Padahal, menurut dia, masyarakat membutuhkan layanan digital yang terhubung dari berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, administrasi kependudukan, hingga layanan keagamaan.

“Harus ada sebuah integrasi antara kementerian yang mengurus kebutuhan masyarakat dari lahir sampai meninggal,” ungkapnya.

Baca juga: Menag Nasaruddin: Pesantren Harus Jadi Ruang Paling Aman bagi Anak

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Rouf menjelaskan Kementerian Agama kini mulai memperkuat kebijakan Satu Data Kemenag melalui penerbitan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 7 Tahun 2026.

Regulasi tersebut menegaskan bahwa seluruh pengelolaan data di lingkungan Kemenag berada di bawah koordinasi Pusdatin untuk mempercepat integrasi dan sinkronisasi layanan.

Menurut dia, sistem Satu Data menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan berbasis AI dan digitalisasi birokrasi ke depan.

Selain memperkuat integrasi data, Kemenag juga mulai mengembangkan teknologi AI untuk mendukung berbagai layanan publik, mulai dari Kantor Urusan Agama (KUA), zakat, wakaf, hingga sistem penyuratan digital.

Abdul Rouf mengatakan masyarakat nantinya dapat mengakses layanan berbasis AI melalui sistem percakapan digital, visual interaktif, hingga avatar virtual.

“Nanti masyarakat bisa bertanya dalam bentuk chat, visual, termasuk avatar terkait layanan KUA, zakat wakaf, maupun layanan lainnya,” ujarnya.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Kemenag Ponorogo Tambah Juru Sembelih Halal untuk Ribuan Masjid dan Mushalla

Ia menilai pemanfaatan AI dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat pelayanan masyarakat.

Meski demikian, Abdul Rouf menegaskan pengembangan AI harus tetap memperhatikan aspek etika, keamanan data, dan perlindungan privasi masyarakat.

Menurut dia, teknologi tidak boleh hanya mengejar efisiensi, tetapi juga harus membangun kepercayaan publik.

“Inovasi AI harus fokus tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga etika, inklusivitas, dan kepercayaan,” tutur Abdul Rouf.

Selain di layanan publik, transformasi digital juga mulai diterapkan di sektor pendidikan keagamaan. Ia mengungkapkan sejumlah madrasah telah mulai mengenalkan pembelajaran fikih robotik sebagai bagian dari adaptasi terhadap perkembangan teknologi modern.

Dalam forum tersebut, pembahasan juga mencakup perkembangan AI, keamanan siber, transformasi digital nasional, hingga pertumbuhan industri data center di Indonesia.

Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian program CSR Huawei bertajuk “Sharing Happiness, Qurban for Indonesia” yang digelar melalui penyaluran hewan kurban ke sejumlah masjid di berbagai kota di Indonesia.

Melalui forum tersebut, Kemenag menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat transformasi digital sekaligus membangun sistem layanan keagamaan yang lebih terintegrasi, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Khutbah Jumat 22 Mei 2026: Meraih Kemabruran Haji
Khutbah Jumat 22 Mei 2026: Meraih Kemabruran Haji
Aktual
Bus Shalawat Disetop Sementara Mulai 22 Mei, Kemenhaj Siapkan Layanan Armuzna
Bus Shalawat Disetop Sementara Mulai 22 Mei, Kemenhaj Siapkan Layanan Armuzna
Aktual
3 Daerah Ini Jadi Pemasok Hewan Kurban Terbanyak ke Jakarta Jelang Idul Adha 2026
3 Daerah Ini Jadi Pemasok Hewan Kurban Terbanyak ke Jakarta Jelang Idul Adha 2026
Aktual
MUI Desak Israel Bebaskan 9 WNI dan Aktivis Kemanusiaan dalam Misi Gaza
MUI Desak Israel Bebaskan 9 WNI dan Aktivis Kemanusiaan dalam Misi Gaza
Aktual
Bahaya Egoisme di Balik Kecanggihan AI, Menag: Bisa Menjadi Musibah!
Bahaya Egoisme di Balik Kecanggihan AI, Menag: Bisa Menjadi Musibah!
Aktual
Kemenag Dorong Satu Data Nasional Lewat Digitalisasi Layanan Keagamaan
Kemenag Dorong Satu Data Nasional Lewat Digitalisasi Layanan Keagamaan
Aktual
Wamenhaj Sapa Jemaah Haji Ba’da Subuh di Makkah, Cek Hotel hingga Menu Konsumsi
Wamenhaj Sapa Jemaah Haji Ba’da Subuh di Makkah, Cek Hotel hingga Menu Konsumsi
Aktual
MUI Bentuk Crisis Center untuk Kawal Pembebasan WNI dalam Misi Kemanusiaan Gaza
MUI Bentuk Crisis Center untuk Kawal Pembebasan WNI dalam Misi Kemanusiaan Gaza
Aktual
Arab Saudi Rampungkan Persiapan Layanan Haji di Miqat Yalamlam dan Al-Juhfah
Arab Saudi Rampungkan Persiapan Layanan Haji di Miqat Yalamlam dan Al-Juhfah
Aktual
Ungkap Alasan Batal Berangkat Haji, Menkeu Purbaya: Belum Saatnya Mungkin, Belum Rezekinya
Ungkap Alasan Batal Berangkat Haji, Menkeu Purbaya: Belum Saatnya Mungkin, Belum Rezekinya
Aktual
Kemenag Integrasikan AI untuk Layanan KUA hingga Zakat Wakaf
Kemenag Integrasikan AI untuk Layanan KUA hingga Zakat Wakaf
Aktual
Kronologi Jemaah Haji Asal Jakarta Hilang di Makkah, Kemenhaj Kerahkan Tim Lakukan Pencarian
Kronologi Jemaah Haji Asal Jakarta Hilang di Makkah, Kemenhaj Kerahkan Tim Lakukan Pencarian
Aktual
Menag: Kurban Idul Adha Jadi Bantuan Sosial Protein bagi Masyarakat
Menag: Kurban Idul Adha Jadi Bantuan Sosial Protein bagi Masyarakat
Aktual
Huawei Gelar CSR Kurban 2026, Dorong Sinergi Teknologi dan Kepedulian Sosial
Huawei Gelar CSR Kurban 2026, Dorong Sinergi Teknologi dan Kepedulian Sosial
Aktual
Jelang Puncak Haji, Bus Shalawat Jemaah Haji Indonesia Berhenti Sementara Mulai 22 Mei 2026
Jelang Puncak Haji, Bus Shalawat Jemaah Haji Indonesia Berhenti Sementara Mulai 22 Mei 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com